Cover buku Akhlak-Akhlak yang Mulia karya Muhammad bin Shalih bin Muhammad Al-'Utsaimin
Diupload Oleh:admin
Tanggal Upload:
Dilihat:2 kali
Diunduh:0 kali

Akhlak-Akhlak yang Mulia

Kategori:
Tahun Terbit:2026
Jumlah Halaman:74 halaman
Penerbit:QantaraLit
Tata Letak:Muhamad Abid Hadlori

Deskripsi

Akhlak (khuluq) adalah gambaran batin manusia yang kokoh, tempat munculnya perbuatan baik atau buruk tanpa perlu berpikir dan merenung — sejajar dengan gambaran lahiriah berupa bentuk tubuh. Karena itu mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan Nabi ﷺ diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Seluruh syariat terdahulu pun menuntut akhlak utama; namun syariat Islam datang dengan kesempurnaan, sebagaimana tampak pada qishash: syariat Yahudi mewajibkan qishash tanpa pilihan, syariat Nasrani mewajibkan pemaafan, sedangkan Islam memberi pemilik hak pilihan antara menuntut dan memaafkan agar masing-masing diletakkan pada tempat yang layak. Akhlak dapat berupa tabiat bawaan dan dapat pula diperoleh melalui usaha dan latihan, sebagaimana sabda Nabi ﷺ kepada Asyajj 'Abdul Qais bahwa sifat santun dan tidak tergesa-gesa adalah sifat yang Allah ciptakan padanya. Akhlak yang bersifat tabiat lebih sempurna karena tidak luput dalam keadaan apa pun, sedangkan akhlak hasil usaha lebih besar pahalanya karena mengandung perjuangan melawan diri; yang paling sempurna adalah bila keduanya terkumpul.

Bidang akhlak tidak hanya mencakup pergaulan dengan makhluk, tetapi juga pergaulan dengan Sang Khalik, yang berporos pada tiga hal. Pertama, menerima kabar Allah dengan membenarkannya tanpa keraguan — seperti hadits lalat yang sebelah sayapnya mengandung penyakit dan sebelahnya obat, serta kabar didekatkannya matahari pada hari kiamat, yang semuanya diterima dengan dada lapang karena keadaan akhirat tidak diukur dengan keadaan dunia. Kedua, menerima hukum-hukum-Nya dengan melaksanakan dan menerapkannya, bukan menolak, menyombongkan diri, atau meremehkan — seperti puasa di hari-hari panjang dan terik, shalat yang menjadi penyejuk mata dan dirindukan waktunya, serta pengharaman riba yang diterima dengan ridha. Ketiga, menerima takdir dengan sabar dan ridha, karena sakit, miskin, dan bodoh tidak selalu sesuai selera manusia, sementara Allah menakdirkannya dengan hikmah. Adapun akhlak terhadap makhluk diringkas dalam tiga hal: menahan gangguan (pada harta, jiwa, dan kehormatan; dosanya lebih besar bila ditujukan kepada orang tua, kerabat, dan tetangga), mengulurkan kemurahan (berupa harta, diri, kedudukan, maupun ilmu, termasuk memaafkan dan menggugurkan hak), dan berwajah berseri. Pemaafan hanya terpuji bila membawa perbaikan; bila menuntut hak lebih mendatangkan perbaikan, menuntut hak lebih utama, sebagaimana kaidah Ibnu Taimiyah bahwa perbaikan itu wajib sedangkan pemaafan itu sunnah. Karena itu menggugurkan diyat kecelakaan perlu diperinci: memaafkan pelaku yang ceroboh justru menguatkan kejahatannya, dan pemaafan tidak berlaku bila si mayit masih berutang karena hak para ahli waris baru berlaku setelah utang dilunasi.

Akhlak mulia diperoleh dengan memperhatikan nash Al-Qur'an dan Sunnah yang memuji akhlak tersebut, bergaul dengan orang-orang berakhlak baik karena seseorang mengikuti agama teman dekatnya, merenungkan akibat buruk dari akhlak tercela, dan menghadirkan gambaran akhlak Nabi ﷺ sehingga kesombongan patah. Contoh-contohnya: menyambung hubungan dengan kerabat yang memutusnya, memberi kepada orang yang menahan pemberian, dan memaafkan orang yang menzalimi padahal mampu membalas; berbakti kepada kedua orang tua — hak ibu didahulukan tiga kali atas ayah, birr lebih tinggi daripada silah, bakti adalah fardhu 'ain, dan bakti itu "pinjaman" yang akan dibalas melalui anak-anak; berbuat baik kepada tetangga (muslim yang kerabat mendapat tiga hak, kerabat atau muslim dua hak, tetangga kafir satu hak), anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, serta bersikap lembut kepada pelayan dan hewan; dan meninggalkan sikap bangga diri, sombong, zalim, serta merasa tinggi atas makhluk. Adapun anggapan bahwa orang Barat lebih baik akhlaknya dalam muamalah adalah keliru: kejujuran mereka dalam jual beli lahir dari sifat materialistis untuk menarik pembeli, bukan dari akhlak yang sempurna, sementara pelanggaran sebagian kaum muslimin dalam muamalah tidak mengurangi kesempurnaan syariat. Puncaknya, akhlak Nabi ﷺ adalah Al-Qur'an: paling dermawan hingga tidak pernah berkata "tidak" bila diminta, paling berani hingga mendahului pasukan menuju sumber bahaya, paling lembut hingga sepuluh tahun pelayanannya tidak pernah mendengar ucapan "uff", dan paling zuhud hingga memilih menjadi hamba sekaligus nabi serta ridha dengan dunia untuk orang lain dan akhirat untuk kaum mukminin.

Komentar

Tinggalkan Komentar