Cover buku 3 Prinsip Khawarij yang Wajib Diwaspadai karya Abu Yusuf bin Atmudin Al-Batahany
Diupload Oleh:admin
Tanggal Upload:
Dilihat:131 kali
Diunduh:66 kali

3 Prinsip Khawarij yang Wajib Diwaspadai

Kategori:
Tahun Terbit:2026
Jumlah Halaman:20 halaman

Deskripsi

Khawarij bukan sekadar nama kelompok yang tercatat dalam sejarah, melainkan sebuah pola pikir dengan prinsip-prinsip menyimpang yang berbahaya, khususnya dalam menyikapi dosa, penguasa, dan darah kaum muslimin. Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah menyebut tiga prinsip pokok kelompok ini: mengafirkan manusia karena dosa besar yang tidak sampai pada kesyirikan, memberontak terhadap penguasa kaum muslimin dan memecah ketaatan, serta menghalalkan darah kaum muslimin. Akar dari ketiganya sama, yaitu mengambil nash-nash yang secara lahiriah menunjukkan kekufuran atau kesyirikan tanpa menggabungkannya dengan nash lain yang menjelaskan dan membatasinya. Karena itu, mengenali prinsip-prinsip ini bukan sekadar menambah wawasan, tetapi upaya menjaga akidah dan manhaj dari jalan yang menyimpang.

Prinsip pertama, mudah mengafirkan orang lain karena dosa besar. Dosa besar yang dilakukan seorang muslim tidak otomatis menjadikannya kafir, sehingga takfir menuntut kehati-hatian dan tidak boleh diucapkan berdasarkan hawa nafsu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan bahwa ucapan “kamu kafir” kepada sesama muslim akan kembali kepada salah seorang dari keduanya, sementara Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan bahwa takfir mutlak tidak berkonsekuensi pengkafiran individu tertentu kecuali setelah tegak hujjah atasnya. Prinsip kedua, memberontak kepada penguasa. Ketidaksukaan terhadap kebijakan pemerintah atau adanya kesalahan pada mereka bukan alasan untuk menempuh jalan pemberontakan dan kekacauan; seorang muslim tetap diperintahkan menjaga ketertiban, menasihati dengan cara yang syar’i, serta bersabar dan berdoa ketika nasihat tidak mampu disampaikan. Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah menyebut para Salaf melarang mencela penguasa, dan Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa mengghibahi pemerintah berdosa berlipat ganda karena menjatuhkan wibawa mereka, yang berujung pada rusaknya negeri dan munculnya fitnah serta kerusakan.

Prinsip ketiga, menghalalkan darah kaum muslimin, merupakan akibat paling mengerikan dari pemikiran ini. Ketika vonis kekufuran mudah dilontarkan, darah manusia pun mudah ditumpahkan, dan orang yang sebelumnya dianggap saudara sesama muslim berubah menjadi musuh yang halal diperangi. Allah Ta’ala berfirman bahwa barang siapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, balasannya ialah Jahanam, kekal di dalamnya, dimurkai, dilaknat, dan disediakan azab yang besar baginya (QS. An-Nisa’: 93). Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah menyatakan bahwa bertemu Allah dengan tujuh puluh dosa yang hanya antara diri dan Allah, selama bukan syirik, lebih ringan daripada bertemu-Nya dengan satu dosa antara diri dan sesama manusia. Bahaya penyimpangan ini sering tidak dimulai dari keberanian menumpahkan darah, tetapi dari kesalahan memahami dalil secara sepotong-sepotong. Muhammad bin Sirin rahimahullah mengingatkan bahwa suatu kaum yang tidak mau menuntut ilmu dan tidak mau bermajelis dengan para ulama dapat binasa serta menumpahkan darah kaum muslimin, sebab amal yang didasari kebodohan lebih banyak merusak daripada memperbaiki. Karena itu, agama mesti dipelajari dengan bimbingan ulama yang kokoh ilmunya, dan kebaikan bukan diukur dari banyaknya dalil yang dihafal, melainkan dari cara memahami serta menempatkan dalil sesuai kehendak syariat.

“Sungguh, engkau bertemu Allah dengan membawa 70 dosa yang hanya antara dirimu dan Allah, selama bukan syirik, itu lebih ringan bagimu dibanding engkau bertemu dengan-Nya membawa satu dosa saja antara dirimu dan sesama manusia.”— Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah, dinukil dari Tanbihul Ghafilin, 1/380

Komentar

Tinggalkan Komentar