Cover buku Al-Ikhna'iyyah (atau Ar-Raddu 'ala al-Ikhna'i) karya Ibnu Taimiyyah Al-Harrani Al-Hanbali Ad-Dimasyqi
Diupload Oleh:admin
Tanggal Upload:
Dilihat:137 kali
Diunduh:46 kali

Al-Ikhna'iyyah (atau Ar-Raddu 'ala al-Ikhna'i)

Kategori:
Tahun Terbit:2026
Jumlah Halaman:622 halaman
Penerbit:QantaraLit
Tata Letak:Muhamad Abid Hadlori

Deskripsi

Ajaran yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ merupakan wahyu Allah, bukan hawa nafsu, dugaan, atau hasil pemikiran manusia. Wahyu tersebut menjadi kebenaran dan petunjuk menuju jalan Allah. Kedekatan dan kemuliaan di sisi Allah bergantung pada kesungguhan mengikuti Rasulullah, sedangkan penyimpangan darinya menjadi sebab kesesatan dan kerugian.

Risalah Muhammad ﷺ bersifat umum bagi jin dan manusia, mencakup urusan lahir dan batin, syariat Islam, serta hakikat keimanan. Melalui risalah itu, Allah membedakan kebenaran dan kebatilan, petunjuk dan kesesatan, yang halal dan haram, serta yang makruf dan mungkar. Karena itu, seluruh makhluk wajib beriman kepada Rasulullah, menaati perintahnya, menjadikan ajarannya sebagai dasar penyelesaian perselisihan, dan menerima keputusannya dengan sepenuh hati.

Keimanan tidak cukup berupa pengakuan lisan. Ketaatan kepada Allah dan Rasul menjadi bukti keimanan, sedangkan berpaling ketika hukum Rasul telah disampaikan menunjukkan kelemahan iman. Para nabi dan kitab-kitab diturunkan untuk menyelesaikan perselisihan manusia dan mengarahkan mereka kepada kebenaran. Hidayah berkaitan erat dengan ketaatan, ketundukan, dan penerimaan terhadap petunjuk Ilahi.

Ketakwaan diwajibkan sesuai kemampuan. Keterbatasan pengetahuan atau tidak sampainya suatu sunnah dapat menjadi uzur, sebab Allah tidak membebani di luar kesanggupan. Ijtihad yang dilakukan dengan sungguh-sungguh memperoleh pahala meskipun hasilnya keliru. Namun, berbicara atau memutuskan perkara tanpa ilmu merupakan dosa. Hakim yang mengetahui kebenaran lalu menetapkannya mendapat keselamatan, sedangkan keputusan yang lahir dari kebodohan atau sengaja menyelisihi kebenaran membawa kebinasaan.

Al-Qur’an melarang mengikuti, menyampaikan, dan menetapkan sesuatu tanpa pengetahuan atau bukti. Perkataan atas nama Allah tanpa ilmu termasuk kebohongan yang dapat menjerumuskan kepada kesyirikan. Kebodohan, kesesatan, perdebatan tanpa dasar, dan sikap melampaui batas dalam agama menjadi sebab munculnya penyimpangan pada berbagai kelompok. Kejujuran harus dibangun di atas ilmu, dalil, dan keikhlasan.

Seluruh rasul membawa ajaran tauhid: hanya Allah yang berhak disembah dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak boleh menjadikan malaikat, nabi, orang saleh, jin, kuburan, patung, matahari, bulan, atau makhluk apa pun sebagai sesembahan. Semua selain Allah tidak memiliki kuasa mandiri untuk memberi manfaat, menolak bahaya, menguasai sesuatu, menjadi sekutu, atau membantu Allah. Syafaat pun hanya terjadi dengan izin-Nya.

Para nabi adalah hamba dan utusan Allah, bukan pemilik kekuasaan gaib atau penentu manfaat dan mudarat secara mandiri. Nabi Muhammad ﷺ bertugas menyampaikan peringatan dan kabar gembira, bukan menguasai perbendaharaan Allah, mengetahui seluruh perkara gaib, atau memberi hidayah kepada siapa pun sesuai kehendaknya. Hidayah, manfaat, mudarat, ampunan, dan keputusan akhir seluruhnya berada di tangan Allah.

Komentar

Tinggalkan Komentar