Cover buku Mengapa Peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Disebut Bid’ah karya Abu Yusuf Ubaid Bima
Diupload Oleh:admin
Tanggal Upload:
Dilihat:204 kali
Diunduh:76 kali

Mengapa Peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Disebut Bid’ah

Kategori:
Tahun Terbit:2026
Jumlah Halaman:45 halaman
Editor & Layout:Muhammad Atir

Deskripsi

Mencintai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah bagian dari keimanan. Tidak ada seorang Muslim yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kecuali ia wajib mencintai Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam melebihi kecintaannya kepada manusia selainnya.

Namun, cinta kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bukan hanya dengan memperbanyak pujian dan ungkapan kecintaan. Cinta yang benar adalah cinta yang melahirkan ittiba' (mengikuti), ketaatan, penghormatan terhadap sunnah, serta kesungguhan untuk menjalankan agama sebagaimana yang beliau ajarkan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

﴿ قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ ﴾ آل عمران: ٣١

"Katakanlah: Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian." (Qur'an Surah Ali 'Imran: 31)

Ayat ini menunjukkan bahwa bukti cinta bukan sekadar pengakuan, tetapi mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Di antara perkara yang perlu dikaji secara ilmiah, dengan ilmu dan sikap yang adil adalah peringatan Maulid Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Sebagian kaum Muslimin memandangnya sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Sementara sebagian ulama lainnya memandang bahwa menjadikan hari kelahiran Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sebagai perayaan keagamaan merupakan perkara baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam maupun generasi terbaik umat ini.

Perbedaan ini hendaknya disikapi dengan adil, dengan hati yang lapang dalam mencari kebenaran. Bukan sebaliknya dengan saling mencela. Wajib bagi kita kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah berdasarkan pemahaman para sahabat dan generasi Salafus Shalih.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

﴿ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ ﴾ النساء: ٥٩

"Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul." (Qur'an Surah An-Nisa': 59)

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan orang-orang yang berbeda pandangan, terlebih lagi menilai buruk pada niat mereka. Banyak orang yang melakukan suatu amalan karena menginginkan kebaikan dan kecintaan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, akan tetapi, niat yang baik saja belum cukup untuk menjadikan suatu ibadah sebagai amalan yang disyariatkan. Ibadah membutuhkan dua perkara:

  1. Ikhlas karena Allah subhanahu wa ta'ala

  2. Harus sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Oleh karenanya, pembahasan mengenai Maulid Nabi shallallahu 'alaihi wasallam perlu dikembalikan kepada pertanyaan mendasar:

Apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengajarkannya?

Apakah para sahabat radhiyallahu 'anhum pernah melakukannya?

Apakah para tabi'in dan tabi'ut tabi'in rahimahumullah pernah mengamalkannya?

Apabila tidak ditemukan praktik tersebut pada generasi terbaik umat ini, maka dimana kedudukannya dalam agama?

Semoga tulisan sederhana ini menjadi sarana untuk menambah ilmu, menguatkan kecintaan kita kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan mendorong kita untuk semakin teguh mengikuti sunnah beliau.

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala menunjukkan kepada kita kebenaran sebagai kebenaran dan memberikan taufik kepada kita untuk mengikutinya, serta menunjukkan kepada kita kebatilan sebagai kebatilan dan memberikan taufik kepada kita untuk menjauhinya.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاتِّبَاعَ سُنَّتِهِ، وَالثَّبَاتَ عَلَى الْحَقِّ حَتَّى نَلْقَاكَ.

"Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kecintaan kepada Nabi-Mu Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, kemampuan untuk mengikuti sunnahnya, dan keteguhan di atas kebenaran hingga kami berjumpa dengan-Mu."

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.

Komentar

Tinggalkan Komentar