Deskripsi
Istilah 'karma' atau 'hukum karma' bukanlah hal yang asing lagi bagi banyak orang, terlebih di era modern saat ini, ketika arus informasi tersebar begitu luas dan mudah diakses oleh siapa saja.
Sebagai seorang muslim, hendaknya kita senantiasa menyeleksi setiap hal yang kita dengarkan. Tidak semua hal yang tampak menarik dan booming dapat diterima dan ditiru begitu saja.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
"Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui ilmunya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban." (QS. Al-Isra': 36)
Apalagi kehidupan yang kita jalani saat ini seakan-akan hampir tidak lagi memiliki batasan ruang dan waktu. Ibarat menggenggam dunia dengan sebuah alat di tangan. Demikianlah gambaran kemudahan teknologi di era globalisasi ini.
Tidak sedikit di antara anak-anak kaum muslimin maupun para orang tua yang tanpa disadari telah ikut-ikutan mengucapkan sesuatu yang dibalik maknanya ternyata terkandung unsur yang bertentangan dengan aqidah yang lurus.
Hal-hal tersebut telah tersebar melalui berbagai media dan sarana, di antaranya melalui media hiburan seperti berbagai film, novel, dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim untuk memberikan perhatian yang besar terhadap keselamatan aqidahnya. Dan tidak mudah terbawa oleh sikap ikut-ikutan tanpa dasar ilmu. Bisa jadi dia mengucapkan suatu kata yang ternyata itu fatal dalam aqidah Islam.
Penting diketahui bahwa aqidah merupakan kunci kebahagiaan dan keselamatan di dunia maupun di akhirat. Al-Imam Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menegaskan, "Barang siapa menginginkan keselamatan bagi dirinya, diterimanya amalnya, dan menjadi seorang muslim yang sebenarnya, maka wajib baginya untuk memperhatikan perkara aqidah. Yaitu dengan mengetahui aqidah yang benar serta mengetahui pula hal-hal yang bertentangan dengannya, yang dapat membatalkan atau mengurangi kesempurnaannya, sehingga ia dapat membangun amalan-amalannya di atas aqidah yang benar."[^1]
Melihat pentingnya perkara itu, maka kami menulis buku ringkas ini untuk menjelaskan salah satu bentuk aqidah yang menyimpang dan bathil, yaitu keyakinan adanya karma.
Selain itu, di samping menjelaskan kebatilan konsep tersebut, kami juga menerangkan aqidah yang lurus yang berkaitan dengannya serta menyertakan beberapa faedah penting yang berhubungan dengan pembahasan ini.
Buku ini sengaja disusun dalam bentuk tanya jawab agar pembahasannya lebih sistematis serta lebih mudah dipahami dan diingat oleh para pembaca.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan tulisan yang ringkas ini bermanfaat bagi penulis dan para pembaca sekalian, serta menjadikannya sebagai sebab bertambahnya ilmu dan kokohnya aqidah di atas kebenaran.
Kami memohon kepada-Nya agar senantiasa meneguhkan hati kita di atas agama-Nya yang lurus, melindungi kita dari berbagai penyimpangan pemikiran dan keyakinan yang batil, serta menghimpun kita bersama orang-orang yang berpegang teguh kepada kebenaran hingga akhir hayat.
[^1]: Al-Muntaqa min Fatawa Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan 1/23