Deskripsi
Sesungguhnya orang yang ingin mengetahui agama-agama dan membedakan di antaranya, maka tidak dapat tidak ia harus mengetahui mazhab-mazhab dan pendapat-pendapat. Saya melihat manusia dalam meriwayatkan apa yang mereka ceritakan tentang pendapat-pendapat, dan menyusun tentang aliran-aliran dan agama-agama, ada yang kurang dalam menceritakannya, ada yang keliru dalam menyebutkan pendapat orang-orang yang berseberangan dengannya, ada yang sengaja berdusta dalam riwayat dengan tujuan mencemarkan orang yang berseberangan dengannya, ada yang tidak teliti dalam meriwayatkan apa yang ia riwayatkan tentang perbedaan pendapat orang-orang yang berbeda pendapat, dan ada yang menambahkan pada pendapat orang-orang yang berseberangan dengannya apa yang ia sangka sebagai hujah yang mengikat mereka. Dan ini bukanlah jalan orang-orang yang rabbani dan bukan pula jalan orang-orang cerdas yang dapat membedakan. Maka apa yang saya lihat itu mendorong saya untuk menjelaskan apa yang saya ingin jelaskan tentang perkara pendapat-pendapat dan meringkas hal itu serta meninggalkan kepanjangan dan banyaknya kata-kata. Dan saya akan memulai penjelasan hal itu dengan pertolongan dan kekuatan Allah.
Manusia berselisih pendapat setelah Nabi mereka shallallahu 'alaihi wa sallam dalam banyak hal, sebagian mereka menyesatkan sebagian yang lain dan sebagian berlepas diri dari sebagian yang lain, sehingga mereka menjadi kelompok-kelompok yang berbeda dan golongan-golongan yang tercerai-berai, kecuali bahwa Islam menyatukan dan meliputi mereka semua.
Hal pertama yang terjadi dari perselisihan di antara kaum Muslimin setelah Nabi mereka shallallahu 'alaihi wa sallam adalah perselisihan mereka tentang kepemimpinan (imamah). Hal itu terjadi ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam wafat, Allah 'Azza wa Jalla memanggilnya dan memindahkannya ke surga-Nya dan tempat tinggal kemuliaan-Nya. Kaum Anshar berkumpul di Saqifah Bani Sa'idah di kota Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan mereka ingin mengangkat Sa'd bin 'Ubadah sebagai imam. Berita itu sampai kepada Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma, maka keduanya mendatangi tempat berkumpulnya kaum Anshar bersama beberapa orang Muhajirin. Abu Bakar memberitahukan kepada mereka bahwa kepemimpinan tidak boleh kecuali pada suku Quraisy dan berdalil kepada mereka dengan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Kepemimpinan ada pada Quraisy."
Maka mereka tunduk kepada hal itu dengan patuh, dan kembali kepada kebenaran dengan taat, setelah sebelumnya kaum Anshar berkata: "Dari kami seorang pemimpin dan dari kalian seorang pemimpin," dan setelah al-Hubab bin al-Mundzir menghunus pedangnya dan berkata: "Akulah tiang sandaran yang kokoh dan perisai yang dapat diandalkan, siapa yang akan berlawan denganku," setelah Qais bin Sa'd berdiri membela ayahnya Sa'd bin 'Ubadah sehingga Umar bin al-Khaththab berkata tentang dirinya apa yang beliau katakan. Kemudian mereka membaiat Abu Bakar radhiyallahu 'anhu dan sepakat atas kepemimpinannya dan sepakat atas kekhalifahannya dan tunduk untuk taat kepadanya. Maka ia memerangi ahli riddah atas kemurtadan mereka sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerangi mereka atas kekufuran mereka. Allah 'Azza wa Jalla memenangkannya atas mereka semua, dan menolong ia atas seluruh orang-orang murtad, dan manusia kembali kepada Islam semuanya, dan Allah menjelaskan dengan perantaraannya kebenaran yang nyata. Dan perselisihan setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah dalam masalah kepemimpinan dan tidak terjadi perselisihan selain itu semasa hidup Abu Bakar radhiyallahu 'anhu dan pada masa Umar hingga Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu menjadi khalifah. Pada akhir masa kepemimpinannya, sekelompok orang mengingkari beberapa perbuatannya. Mereka dalam hal yang mereka ingkari itu adalah keliru dan keluar dari jalan yang benar. Maka apa yang mereka ingkari itu menjadi perselisihan hingga hari ini. Kemudian ia terbunuh radhiyallahu 'anhu dan mereka berselisih tentang pembunuhannya.
Adapun ahli sunnah dan istiqamah maka mereka berkata: Ia radhiyallahu 'anhu benar dalam perbuatan-perbuatannya, yang membunuhnya adalah orang-orang zalim dan melampaui batas. Dan ada kelompok yang berkata sebaliknya, dan ini adalah perselisihan di antara manusia hingga hari ini.
Kemudian Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dibaiat, maka manusia berselisih dalam urusannya, ada yang mengingkari kepemimpinannya, ada yang tidak berpihak kepadanya, dan ada yang menyatakan kepemimpinannya dan meyakini kekhalifahannya. Dan ini adalah perselisihan di antara manusia hingga hari ini.
Kemudian terjadi perselisihan pada masa Ali tentang urusan Thalhah dan Zubair radhiyallahu 'anhuma dan peperangan mereka dengannya, serta peperangan Muawiyah dengannya. Ali dan Muawiyah sampai ke Shiffin dan Ali memeranginya hingga pedang kedua pasukan patah dan tombak-tombak mereka habis dan kekuatan mereka lenyap dan mereka berlutut sambil saling menyerang. Maka Muawiyah berkata kepada Amr bin al-Ash: "Wahai Amr, bukankah engkau mengira bahwa engkau tidak jatuh dalam perkara yang berat sehingga engkau ingin keluar darinya kecuali engkau keluar?" Ia menjawab: "Benar." Ia berkata: "Lalu apa jalan keluarnya dari apa yang menimpa kita?" Amr bin al-Ash berkata kepadanya: "Dengan syarat engkau tidak mengeluarkan Mesir dari tanganku selama aku masih hidup." Ia berkata: "Engkau akan mendapatkan itu dan engkau memiliki perjanjian dan janji Allah." Ia berkata: "Maka perintahkanlah agar mushaf-mushaf diangkat kemudian ahli Syam berkata kepada ahli Irak: 'Wahai ahli Irak, kitab Allah antara kami dan kalian, sisanya sisanya.' Jika ia menjawab kepada apa yang engkau inginkan maka sahabat-sahabatnya akan menentangnya, dan jika ia menentangmu maka sahabat-sahabatnya akan menentangnya." Amr bin al-Ash dalam pendapatnya yang ia sarankan seolah-olah melihat kepada yang ghaib dari balik tirai yang tipis. Maka Muawiyah memerintahkan sahabat-sahabatnya mengangkat mushaf-mushaf dan dengan apa yang disarankan oleh Amr bin al-Ash kepadanya. Mereka melakukan hal itu, maka ahli Irak bergejolak menentang Ali radhiyallahu 'anhu dan mereka menolak kecuali tahkim (arbitrase) dan bahwa Ali mengirim seorang hakam dan Muawiyah mengirim seorang hakam. Maka Ali menjawab mereka kepada hal itu setelah penolakan ahli Irak kepadanya bahwa ia tidak menjawab mereka kepadanya.
Ketika Ali menjawab kepada hal itu dan Muawiyah serta ahli Syam mengirim Amr bin al-Ash sebagai hakam dan Ali serta ahli Irak mengirim Abu Musa sebagai hakam dan sebagian mengambil janji dan perjanjian atas sebagian yang lain, sahabat-sahabat Ali berselisih dengannya dan berkata: Allah Ta'ala berfirman: "Maka perangilah golongan yang melampaui batas itu hingga ia kembali kepada perintah Allah," (QS. al-Hujurat: 9) dan tidak berfirman "hakimilah mereka" dan mereka adalah kelompok pemberontak. Jika engkau kembali memerangi mereka dan engkau mengakui atas dirimu sendiri dengan kekufuran karena engkau menjawab mereka kepada tahkim, jika tidak maka kami akan menentangmu dan memerangimu. Maka Ali radhiyallahu 'anhu berkata: Sungguh saya telah menolak kalian di awal perkara namun kalian menolak kecuali menjawab mereka kepada apa yang mereka minta, maka kami menjawab mereka dan memberikan mereka janji dan perjanjian, dan tidak layak bagi kami untuk berkhianat. Mereka menolak kecuali melepaskan diri darinya dan mengkafirkannya karena tahkim dan mereka keluar darinya, maka mereka dinamakan Khawarij karena mereka keluar dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dan menjadi perselisihan hingga hari ini. Dan kami akan menyebutkan pendapat-pendapat Khawarij setelah tempat ini dari kitab kami.
Diterjemahkan oleh: Muhamad Abid Hadlori