Cover buku Syarah Aqidah Salaf dan Ahli Hadits karya As-Shabuni karya Abdul Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman Ar-Rajihi
Diupload Oleh:admin
Tanggal Upload:
Dilihat:354 kali
Diunduh:141 kali

Syarah Aqidah Salaf dan Ahli Hadits karya As-Shabuni

Kategori:
Tahun Terbit:2026
Jumlah Halaman:660 halaman
Penerbit:QantaraLit
Tata Letak:Muhamad Abid Hadlori

Deskripsi

Sesungguhnya kami, insyaAllah dengan daya dan kekuatan-Nya, akan memulai penjelasan atas risalah yang berjudul: Aqidah Salaf wa Ash-habul Hadits, karya Al-Imam, ahli hadits, ahli tafsir, Syaikhul Islam Abu Utsman Isma'il bin Abdurrahman Ash-Shabuni. Beliau termasuk ulama abad keempat dan kelima Hijriah; kelahirannya pada tahun 373 (Hijriah), dan wafatnya pada tahun 449 (Hijriah). Akidah ini bersifat menyeluruh; di dalamnya penulis rahimahullah menjelaskan akidah salaf dan ahli hadits mengenai ketuhanan Rabb, rububiyah-Nya, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya. Beliau juga memaparkan dan memperluas pembahasan mengenai sifat-sifat yang menjadi sengit perselisihannya antara Ahlus Sunnah dan ahli bid'ah, seperti sifat kalam (berbicara), dan membantah ahli bid'ah dari kalangan Jahmiyah, Mu'tazilah, dan Asy'ariyah yang mengatakan bahwa kalam Allah adalah makhluk, dan bahwa Al-Qur'an adalah makhluk, serta menjelaskan bahwa pendapat ini adalah kekufuran dan kesesatan.

Beliau juga membahas sifat turun (nuzul), dan menjelaskan bahwa nash-nash mengenainya bersifat mutawatir dalam kitab-kitab shahih, kitab-kitab sunan, dan musnad-musnad, serta wajib menetapkan sifat turun bagi Allah Azza wa Jalla sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Demikian pula sifat istiwa' dan sifat ru'yah (melihat Allah di akhirat). Sifat-sifat ini — kalam, ketinggian (uluw), istiwa', dan ru'yah — merupakan sifat-sifat yang perselisihannya sangat sengit antara Ahlus Sunnah dan ahli bid'ah, oleh karena itu penulis rahimahullah memperluas pembahasannya.

Ketiga sifat ini merupakan tanda pembeda antara Ahlus Sunnah dan ahli bid'ah; siapa yang menetapkannya maka ia termasuk Ahlus Sunnah, dan siapa yang mengingkarinya maka ia termasuk ahli bid'ah.

Demikian pula beliau menjelaskan akidah Ahlus Sunnah mengenai azab kubur dan kenikmatannya, mengenai surga dan neraka, mengenai kebaikan dan keburukan, mengenai orang yang terbunuh — apakah ia terbunuh karena ajalnya —, mengenai qadha dan qadar, serta mengenai kematian.

Beliau juga menjelaskan akidah Ahlus Sunnah mengenai iman, bahwa iman adalah ucapan dengan lisan, pembenaran dengan hati, amal hati, dan amal anggota badan. Beliau juga menjelaskan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah bahwa mereka tidak mengkafirkan karena dosa, berbeda dengan Khawarij dan Mu'tazilah. Demikian pula beliau menjelaskan akidah Ahlus Sunnah mengenai para sahabat, bahwa mereka mendoakan keridhaan bagi para sahabat, mencintai mereka, dan menempatkan mereka pada kedudukan yang layak bagi mereka dengan adil dan berimbang sesuai nash-nash, bukan berdasarkan hawa nafsu dan fanatisme — berbeda dengan kaum Rafidhah yang mengkafirkan para sahabat, menuduh mereka fasik, mencela mereka, serta menyembah Ahlul Bait; dan berbeda pula dengan kaum Nawashib yang menampakkan permusuhan terhadap Ahlul Bait.

Demikian pula beliau menjelaskan akidah Ahlus Sunnah mengenai bisikan setan, mengenai sihir dan tukang sihir, bahwa sihir memiliki hakikat sekaligus khayalan, berbeda dengan pendapat yang mengatakan bahwa sihir tidak memiliki hakikat sama sekali dan hanyalah khayalan semata.

Beliau juga menjelaskan adab-adab ahli hadits, tanda-tanda ahli bid'ah, dan tanda-tanda Ahlus Sunnah, serta akibat-akibat perbuatan hamba, kehendak Allah, dan menjelaskan tentang iradah (kehendak) bahwa ia terbagi menjadi dua macam. Beliau membahas kebaikan dan keburukan, membahas hidayah dan pembagiannya, dan menjelaskan bahwa perbuatan hamba adalah ciptaan Allah, berbeda dengan Mu'tazilah yang mengatakan bahwa hamba menciptakan perbuatannya sendiri.

Demikian pula beliau menjelaskan akidah Ahlus Sunnah mengenai telaga (haudh) dan Al-Kautsar, syafaat, dan kebangkitan setelah mati, yang merupakan salah satu pokok keimanan; siapa yang mengingkari kebangkitan maka ia kafir berdasarkan nash Al-Qur'an.

Beliau juga menyebutkan akidah salaf mengenai berita-berita yang datang tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah, bahwa apabila berita dan riwayat tersebut telah tetap melalui perawi-perawi yang adil, tepercaya, dan kuat hafalannya, serta sanadnya bersambung, maka berita itu diamalkan dan diterima dalam masalah akidah, amal, dan segala hal. Apabila sanad hadits shahih, para perawinya adil, dan tidak terdapat kejanggalan (syudzudz) maupun cacat ('illah) di dalamnya, maka hadits itu diterima dalam masalah akidah, amal, akhlak, dan segala hal. Inilah akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, berbeda dengan ahli bid'ah dari kalangan Mu'tazilah dan lainnya yang mengatakan: "Kami tidak menerima hadits ahad dalam masalah akidah." Ini adalah pendapat batil yang menyelisihi pendapat Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Maka risalah ini adalah akidah yang menyeluruh, di mana penulis rahimahullah menjelaskan di dalamnya akidah salaf dan ahli hadits sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh nash-nash dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam, serta apa yang telah disepakati oleh para sahabat.

Komentar

Tinggalkan Komentar