Cover buku Syarah Nama Allah : Al Hasiib (الحسيب) : Maha Membuat Perhitungan dan Memberi Kecukupan karya Zainudin
Diupload Oleh:MS
Tanggal Upload:
Dilihat:727 kali
Diunduh:45 kali

Syarah Nama Allah : Al Hasiib (الحسيب) : Maha Membuat Perhitungan dan Memberi Kecukupan

Kategori:
Tahun Terbit:2024
Jumlah Halaman:88 halaman
Penulis:Zainudin

Deskripsi

Al-Hasiib adalah salah satu Asmaul Husna yang ditetapkan berdasarkan firman Allah: "Dan cukuplah Allah sebagai pemberi kecukupan" (QS. an-Nisa: 6) dan "Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikuti (petunjuk)mu" (QS. al-Ahzab: 39). Makna nama ini adalah Yang Maha Mencukupi hamba-hamba-Nya dalam semua kebutuhan mereka, baik urusan agama maupun dunia—memudahkan segala kebaikan dan mencegah segala keburukan. Al-Hasiib juga bermakna Yang Maha menjaga, menghitung dan mengetahui semua amal perbuatan para hamba, membedakan antara yang baik dan buruk, serta mengetahui balasan yang berhak mereka dapatkan dan kadar pahala atau siksaan yang mereka terima. Syaikh Abdur Rahman as-Sa'di menjelaskan bahwa al-Hasiib adalah Yang Maha mengetahui keadaan hamba-Nya, Maha memberi kecukupan bagi yang bertawakal kepada-Nya, dan Maha memberikan balasan sempurna sesuai hikmah dan pengetahuan-Nya.

Kecukupan yang Allah berikan kepada makhluk-Nya terbagi dua: kecukupan umum dan kecukupan khusus. Kecukupan umum meliputi semua makhluk baik yang beriman maupun kafir, yang taat maupun durhaka—dengan menciptakan, menolong, menyiapkan dan memberikan segala keperluan kelangsungan hidup di dunia berupa makanan, minuman dan penunjang kehidupan lainnya. Adapun kecukupan khusus hanya diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan bertawakal kepada-Nya, dengan ini Allah memperbaiki dan meluruskan semua urusan mereka baik yang berhubungan dengan agama maupun dunia. Allah berfirman: "Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala keperluan)nya" (QS. ath-Thalaq: 2-3). Kecukupan khusus dari Allah kepada hamba sesuai dengan kadar keimanan dan kesungguhan hamba dalam mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ.

Keimanan yang benar terhadap nama Al-Hasiib menumbuhkan sikap tawakkal (penyandaran hati) yang benar kepada Allah, yang merupakan sebab utama meraih kecukupan dan pertolongan dari-Nya dalam semua urusan. Jika seorang mukmin bertawakal dengan benar—menyandarkan hatinya secara utuh dan sempurna kepada-Nya dalam mengusahakan kebaikan dan mencegah keburukan, disertai keyakinan dan sangka baik—maka Allah akan memberikan kecukupan sempurna, memperbaiki keadaannya, meluruskan ucapan dan perbuatannya, serta melapangkan kesusahan dan kesedihannya. Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa tawakkal kepada Allah termasuk sebab paling kuat untuk melindungi diri dari gangguan, kezhaliman dan permusuhan yang tidak mampu dihadapi sendiri. Salah seorang ulama Salaf berkata bahwa Allah menjadikan balasan bagi yang bertawakal kepada-Nya adalah kecukupan dari-Nya—jika seorang hamba bertawakal dengan sebenarnya, kemudian langit, bumi dan semua makhluk ingin mencelakakannya, maka sungguh Allah akan memberikan jalan keluar, melindungi dan menolongnya.

Keimanan terhadap Al-Hasiib juga menumbuhkan perasaan takut kepada Allah semata dan tidak takut kepada gangguan makhluk dalam menegakkan agama-Nya, karena meyakini bahwa Allah akan selalu menjaga dan melindungi hamba yang bertakwa dan menegakkan agama-Nya. Allah memuji para Sahabat yang merealisasikan sikap ini ketika menghadapi ancaman orang-orang kafir: "orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul-Nya) yang ketika orang-orang berkata kepada mereka: 'Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka', maka perkataan itu (justru) menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: 'Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung'" (QS. Ali Imran: 173). Sikap yang sama ditunjukkan Nabi Ibrahim alaihissalam ketika dilemparkan ke api—ucapan terakhir beliau adalah: "Hasbiyallahu wani'mal wakil" (cukuplah Allah menjadi Penolongku dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung). Rasulullah ﷺ juga mengajarkan dzikir ketika keluar rumah: "Bismillahi tawakkaltu 'alallahi, wala haula wala quwwata illa billah" yang bermakna diberi petunjuk, dicukupkan dalam segala keperluan, dan dijaga dari semua keburukan.

Komentar

Tinggalkan Komentar