Deskripsi
Al-Kabir adalah salah satu nama Allah yang bermakna Yang Maha Besar, Yang memiliki sifat kemuliaan, kebesaran, keagungan yang paling tinggi dari segala sesuatu. Hanya milik-Nya kebesaran dan keagungan di hati para wali dan kekasih-Nya. Imam Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa Allah Maha Besar secara Zat, Kekuasaan, Kemuliaan dan Keagungan—Maha Besar dari segala sesuatu baik zat-Nya, sifat-Nya, maupun perbuatan-Nya. Imam Khattabi menambahkan bahwa tidak ada yang serupa dengan-Nya, dan selain Allah adalah makhluk yang kecil dan rendah. Dalam hadits Qudsi, Allah berfirman: "Kesombongan adalah pakaian-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku, siapa saja yang mengambil salah satunya dari-Ku, Aku lemparkan ia ke neraka."
Kisah Iblis menjadi pelajaran penting tentang bahaya kesombongan. Iblis yang dulunya ahli ibadah hingga Allah izinkan menempati alam malaikat, jatuh dalam kesombongan karena tidak mengenal Allah Al-Kabir. Ia tidak memahami bahwa sifat "kabir" (besar/agung) hanya milik Allah semata. Kesombongan ada pada dua hal: pertama, sombong di hati yaitu menolak kebenaran dari Allah dan Rasul-Nya; kedua, sombong secara zahir yaitu merasa bangga dengan kelebihan diri (harta, ilmu, amal, jabatan, penampilan) hingga merendahkan dan menghina orang lain.
Hukuman bagi orang yang sombong terbagi dalam empat tingkatan yang saling berkaitan. Pertama, Allah akan merendahkannya serendah-rendahnya, terhina dan terlaknat seperti Iblis yang diusir dari surga. Kedua, orang yang terlaknat tidak akan diberi hidayah—Allah akan memalingkan mereka dari ayat-ayat-Nya sehingga mereka tidak beriman kepada kebenaran dan justru memilih jalan kesesatan. Ketiga, terhalangnya hidayah menyebabkan hati menjadi mati, ditutup dan terkunci dari kebenaran—Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. Keempat, ujung dari semua itu adalah neraka Jahannam dalam keadaan hina dina. Rasulullah ﷺ mengabarkan sifat penghuni neraka: "mereka adalah orang yang kaku, kasar lagi sombong."
Konsekuensi mengenal Allah Al-Kabir adalah kewajiban untuk beribadah kepada-Nya saja, mengagungkan dan memuliakan Allah seagung-agungnya. Seorang hamba harus merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan Allah agar ikhlas dalam ibadah, dan bersikap tawadhu' (rendah hati) dengan sesama. Jangan sombong, jangan takabur, jangan ujub (bangga diri). Sebagai implementasi, umat Islam diperintahkan untuk memperbanyak takbir—takbir dengan hati, takbir dengan lisan, dan takbir dengan amal saleh. Besarkan gaung Asma-Nya, sifat-Nya dan perbuatan-Nya, serta besarkan dan agungkan syariat-Nya sebesar-besarnya dan seagung-agungnya.
Allah berfirman dalam penutup surat Al-Isra ayat 111: "Dan katakanlah: Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya (wa kabbirhu takbira)." Inilah seruan untuk mengagungkan Allah dengan sepenuh hati, mengakui kebesaran-Nya yang mutlak, dan merendahkan diri sebagai hamba yang lemah di hadapan Sang Maha Besar.