Deskripsi
Pencarian barokah (tabarruk) merupakan perkara penting dalam kehidupan seorang Muslim. Keinginan mendapatkan tambahan kebaikan, ketenangan, dan kecukupan adalah fitrah yang tertanam dalam jiwa manusia. Namun, banyak manusia tersesat dalam memaknai dan mempraktikkan cara meraih barokah, sehingga terjatuh ke dalam:
Ghuluw (berlebihan) terhadap makhluk
Mengkultuskan benda-benda mati
Ritual yang menjauhkan dari Allah, pemilik barokah sejati
LANDASAN SYAR'I TENTANG BAROKAH
Firman Allah:
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barokah-barokah dari langit dan bumi." (QS. Al-A'rof: 96)
Ayat ini memberikan pondasi dasar bahwa pintu-pintu barokah hanya dibuka dengan kunci iman dan taqwa, bukan dengan mencari wasilah yang tidak diizinkan syari'at. Barokah bukanlah sesuatu yang bisa diklaim atau dibuat-buat manusia, melainkan murni pemberian dari Allah.
Sabda Rasulullah ﷺ:
"Marilah menuju air wudhu yang dibarokahi ini, dan barokah itu datangnya dari Allah." (HR. Al-Bukhori no. 3579)
Ucapan Rasulullah ﷺ ini memutus segala bentuk ketergantungan hati kepada makhluk dalam urusan barokah. Sekalipun air tersebut dibarokahi karena mukjizat yang Allah berikan melalui tangan Nabi ﷺ, beliau tetap menegaskan bahwa hakikat pemberi barokah adalah Allah semata.
PRINSIP TABARRUK DALAM ISLAM
Kaidah Utama:
Mencari barokah adalah bagian dari ibadah
Setiap ibadah harus berlandaskan dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah
Pemahaman mengikuti para Salaf Sholih
Tidak boleh ada dzat yang disembah atau dimintai barokah kecuali Allah
REALITA MENYIMPANG DI MASYARAKAT
Praktik tabarruk yang menyimpang sering dijumpai:
Perbuatan Syirik yang Dibungkus Cinta:
Mendatangi kuburan yang dianggap keramat
Mengusap-usap nisan
Mengambil tanah kubur
Meminta-minta kepada penghuni kubur
Meyakini jasad dalam kubur memiliki karomah pemberi barokah
Akar Masalah: Banyak orang mengaku mencintai orang sholih, namun ekspresi cintanya justru melampaui batas syari'at. Mereka mengkultuskan sosok yang dianggap wali dengan berbagai ritual yang tidak berdasar.
TELADAN PARA SALAF
Umar bin Khotthob (23 H): Ketika melihat sebagian orang mulai berkumpul dan Sholat di bawah pohon tempat Bai'atur Ridwan, beliau khawatir hal tersebut menjadi sarana pengkultusan dan tabarruk bid'ah. Umar memerintahkan agar pohon tersebut ditebang. Sikap ini menunjukkan bahwa menjaga Aqidah jauh lebih penting daripada mempertahankan peninggalan sejarah yang disalahgunakan untuk kesyirikan.
Malik bin Anas (179 H): Dikenal sangat ketat dalam menjaga Sunnah di Madinah, beliau tidak pernah mengajarkan para muridnya untuk mencari barokah dengan mengusap-usap makam Nabi ﷺ atau tiang-tiang Masjid.
PEMBEDAAN YANG PERLU DIPAHAMI
Tabarruk Syar'i: Tabarruk yang pernah dilakukan para Shohabat terhadap jasad Nabi ﷺ semasa beliau hidup.
Tabarruk Syirik/Bid'ah: Tabarruk yang merupakan bentuk kesyirikan atau bid'ah yang diada-adakan.
Prinsip Penting: Keistimewaan yang ada pada diri Rasulullah ﷺ tidak bisa dikiaskan kepada selainnya, betapapun tinggi kedudukan orang tersebut di mata manusia.
TIPU DAYA SYAITHON
Syaithon sering membungkus kesyirikan dengan baju "kecintaan kepada wali":
Sosok yang dianggap wali Allah dipuja berlebihan
Jasad mereka setelah mati dijadikan tumpuan harapan
Petilasan mereka dijadikan tempat ritual
Boleh jadi sosok yang diagungkan bukanlah wali Allah, melainkan wali syaithon yang menipu dengan keajaiban semu
Kaidah Benar: Menilai seseorang dari ketaatannya kepada Sunnah, bukan dari hal-hal aneh yang nampak darinya.
TUJUAN PEMBAHASAN
Menjernihkan pemahaman umat tentang tabarruk dengan:
Penelusuran dalil dari ayat demi ayat, Hadits demi Hadits
Nukilan dari Salaf Sholih untuk menemukan jalan lurus
Mendudukkan orang sholih pada posisi yang Allah tetapkan, tanpa ghuluw dan tanpa merusak kemurnian Tauhid
Pendekatan ilmiyyah dan logis untuk membuat pembaca berpikir kritis
PERTANYAAN FUNDAMENTAL
Mungkinkah barokah didapatkan dengan cara bermaksiat kepada Allah melalui perbuatan syirik? Mungkinkah ridho Allah diraih dengan menyelisihi tuntunan Rasul-Nya?
Jawaban: Tidak. Barokah sejati hanya diraih dengan mengikuti jejak para Salaf yang telah teruji keimanannya.