Deskripsi
Hamzah bin 'Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdu Manaf al-Qurasyī al-Hasyimī adalah paman Rasulullah dan memiliki hubungan istimewa dengan beliau sebagai saudara sesusuan. Kedua-duanya disusui oleh Thuwaibah, bekas budak Abu Lahab. Hamzah dikenal sebagai salah satu sahabat terkemuka dalam sejarah Islam dan memainkan peran signifikan dalam perkembangan umat Muslim pada periode awal sejarah Islam. Perjalanan hidup Hamzah mencerminkan komitmen mendalam terhadap agama Islam dan pengabdian total dalam peperangan di jalan Allah.
Kedudukan dan Gelar Hamzah
Gelar "Singa Allah"
Hamzah dikenal dengan gelar "Singa Allah Azza wa Jalla" (Asad Allah al-Ghalib). Gelar ini pertama kali disebutkan oleh Hamzah sendiri di hadapan Rasulullah saat Perang Uhud ketika beliau menyatakan, "Aku adalah singa Allah Azza wa Jalla." Rasulullah kemudian memvalidasi gelar ini dengan bersabda bahwa Hamzah telah dicatat di langit ke-tujuh sebagai singa Allah dan Rasul-Nya.
Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda: "Penghulu para syuhada' pada hari kiamat adalah Hamzah bin 'Abdul Muththalib." Pernyataan ini menunjukkan kedudukan istimewa Hamzah di antara para sahabat yang gugur di jalan Allah.
Kesaksian Sahabat Lainnya
Abdurrahman bin Auf, salah seorang sahabat yang dijamin masuk surga, memberikan kesaksian bahwa Hamzah lebih baik darinya. Abdurrahman menyatakan bahwa ketika Hamzah terbunuh, padahal beliau adalah orang yang lebih baik, dunia kemudian dilapangkan bagi Muslim. Kesadaran ini membuat Abdurrahman dan sahabat lainnya khawatir bahwa kebaikan-kebaikan mereka mungkin hanya diberikan di dunia tanpa dibarengi dengan kualitas spiritual yang sama dengan Hamzah.
Peran Hamzah dalam Peperangan
Misi Pertama: Saiful Bahr
Ketika Allah Azza wa Jalla mengizinkan Rasulullah untuk berperang, panji pertama yang dibuat oleh Rasulullah adalah untuk Hamzah bin 'Abdul Muththalib. Hamzah diutus bersama 30 Muhajirin untuk menghadang kafilah dagang Quraisy yang datang dari Syam dan dipimpin oleh Abu Jahal dengan 300 orang Quraisy. Kedua kelompok bertemu di Saiful Bahr dari arah al-Ish dan hampir terjadi pertempuran, namun Majdi bin Umar al-Juhani yang memiliki hubungan dekat dengan kedua kelompok berhasil memisahkan mereka, sehingga pertempuran tidak terjadi.
Perang Badar: Mubârazah (Duel)
Dalam Perang Badar al-Kubra (perang Badar yang besar), Hamzah menjadi salah satu pejuang terdepan dalam pertandingan duel. Ketika Utbah bin Rabi'ah dan anggota keluarganya maju mengajak duel, Rasulullah memerintahkan Hamzah, Ali, dan Ubaidah bin al-Harits untuk maju menghadapi mereka.
Dalam pertandingan tersebut, Hamzah menghadapi Utbah bin Rabi'ah, Ali menghadapi Syaibah, sementara Ubaidah dan al-Walid saling berhadapan. Hamzah dan Ali berhasil mengalahkan lawannya, kemudian mereka berdua membantu Ubaidah dengan membunuh al-Walid dan membawa Ubaidah kembali ke barisan pasukan Muslim.
Kesaksian Abu Dzar Radhiyallahu anhu menunjukkan bahwa Ayat 19 dari Surah al-Hajj yang berbunyi "Inilah dua golongan (golongan Mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai rabb mereka" turun mengenai orang-orang yang berduel dalam Perang Badar, termasuk Hamzah, Ali, Ubaidah bin al-Harits, Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, dan al-Walid bin Utbah.
Pembunuhan Hamzah di Perang Uhud
Cerita Wahsyi tentang Pembunuhan Hamzah
Hamzah gugur di Perang Uhud pada tangan Wahsyi, seorang pelempar tombak yang mahir. Wahsyi menceritakan bahwa beliau adalah budak Jubair bin Muth'im. Pamannya Jubair, Thuaimah bin Adi, terbunuh dalam Perang Badar oleh Hamzah. Karena itu, Jubair menjanjikan kebebasan kepada Wahsyi jika beliau berhasil membunuh Hamzah.
Wahsyi, yang terkenal karena akurasi lemparannya dengan tombak, menceritakan bahwa saat pertempuran Uhud berlangsung, beliau melihat Hamzah di tengah pasukan. Hamzah digambarkan seperti unta berwarna keabu-abuan, mengancam orang-orang dengan pedangnya dan tidak pernah melepaskan senjatanya dari tangannya.
Sebelum Wahsyi dapat bertarung dengan Hamzah, as-Siba' bin 'Abdul Uzza al-Khuzai maju terlebih dahulu. Hamzah segera menghadapinya dan berkata, "Kemarilah wahai anak wanita tukang khitan," kemudian Hamzah mempenggal kepalanya dengan sapuan pedang yang sangat cepat. Setelah as-Siba' jatuh, Wahsyi melemparkan tombaknya dengan presisi tinggi, mengenai perut bagian bawah Hamzah dan tembus di antara kedua kakinya. Hamzah berusaha bangkit namun tidak mampu, dan akhirnya gugur.
Konversi Wahsyi ke Islam
Setelah Rasulullah menaklukkan Mekkah, Wahsyi melarikan diri ke Taif. Ketika utusan Taif datang untuk masuk Islam, Wahsyi merasa sangat berat karena ketakutan akan nasibnya. Beliau berkelana ke Syam, Yaman, dan negara-negara lain dalam kekhawatiran mendalam.
Namun, ada yang mengatakan kepadanya bahwa jika Muhammad ingin membunuh seseorang, orang itu akan masuk ke dalam agamanya untuk selamat. Pernyataan ini mendorong Wahsyi untuk menuju Madinah menemui Rasulullah. Ketika Rasulullah bertanya "Apakah engkau Wahsyi?" Wahsyi menjawab "Ya" dan diminta untuk menceritakan bagaimana beliau membunuh Hamzah.
Setelah mendengarkan kisah tersebut, Rasulullah bersabda: "Celaka engkau, menyingkirlah dariku, janganlah engkau muncul di hadapan kami." Pernyataan ini menunjukkan kecintaan mendalam Rasulullah kepada pamannya Hamzah. Wahsyi menjauh dari Rasulullah hingga beliau wafat.
Kontribusi Wahsyi Setelah Konversi
Dalam perang melawan Musailamah al-Kazzab (seorang pembohong yang mengaku sebagai nabi), Wahsyi bergabung dengan pasukan Muslim dan membawa tombak yang sama yang telah beliau gunakan untuk membunuh Hamzah. Dalam pertempuran tersebut, Wahsyi berhasil melemparkan tombaknya ke arah Musailamah, mengenainya secara bersamaan dengan serangan pedang dari seorang Anshar. Wahsyi merefleksikan bahwa jika beliau yang telah membunuh Musailamah, maka beliau telah membunuh orang yang paling jahat setelah membunuh orang yang terbaik setelah Rasulullah.
Penghormatan terhadap Hamzah dalam Islam
Ayat Al-Qur'an tentang Hamzah
Ayat 169 dari Surah Ali Imran berbunyi: "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah Azza wa Jalla mati, bahkan mereka hidup, di sisi Allah Azza wa Jalla mereka diberi rezeki." Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu menyatakan bahwa ayat ini turun mengenai Hamzah dan para sahabatnya yang gugur.
Rasulullah bersabda mengenai para martir Uhud: "Ketika teman-teman kalian dalam perang Uhud meninggal dunia, Allah Azza wa Jalla menjadikan ruh-ruh mereka di tenggorokan burung hijau yang ada di sungai-sungai surga, mereka makan biji-bijinya dan kembali ke pelita-pelita dari emas yang tergantung di Arsy. Ketika mereka memperoleh kesenangan dalam makan, minum dan tidur, mereka berkata: 'Siapa yang hendak menyusul kami? Kami hidup di surga dengan kenikmatan.' Hendaknya mereka jangan meninggalkan jihad dan tidak mundur dalam perang."
Kasih Sayang Rasulullah kepada Hamzah
Anas Radhiyallahu anhu menceritakan bahwa pada saat Uhud, Rasulullah berdiri di hadapan jasad Hamzah yang luka parah. Rasulullah bersabda: "Seandainya saja Shafiyah (ibu Hamzah) tidak menemukan jasadnya, pasti dia akan meninggalkannya hingga Allah Azza wa Jalla mengumpulkannya di perut binatang buas atau burung." Pernyataan ini menunjukkan penyayang Rasulullah yang mendalam kepada pamannya Hamzah, bahkan setelah kematiannya.