Deskripsi
Nasab dan Kelahiran
Nama lengkap: Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Ju'fi. Kakeknya, Al-Mughirah bin Bardizbah, masuk Islam melalui Yaman Al-Bukhari, gubernur Bukhara dari suku Ju'fi, sehingga nasabnya dinisbahkan ke suku tersebut. Ayahnya, Ismail bin Ibrahim, meriwayatkan hadis dari Hammad bin Zaid dan Malik.
Lahir di Bukhara pada hari Jumat, 13 Syawal 194 H. Ayahnya wafat ketika ia masih kecil, sehingga tumbuh dalam asuhan ibunya.
Menuntut Ilmu
Mulai menghafal hadis sejak usia sekitar sepuluh tahun. Pada usia enam belas tahun telah hafal kitab-kitab karya Ibnul Mubarak dan Waki'. Pada usia delapan belas tahun menyusun kitab Qadhaya Ash-Shahabah wat-Tabi'in dan At-Tarikh.
Menempuh perjalanan menuntut ilmu ke Makkah, Madinah, Khurasan, Syam, Mesir, serta berbagai kota di Irak—termasuk Baghdad, Balkh, Marw, Naisabur, Ray, Basrah, dan Kufah. Berguru kepada lebih dari seribu delapan puluh ahli hadis. Hanya menulis riwayat dari orang yang berkeyakinan bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan.
Kekuatan Hafalan
Memiliki daya hafal yang sangat kuat. Dalam sebuah pengujian di Baghdad, sekelompok ahli hadis membalik seratus sanad dan matan hadis lalu melontarkannya kepadanya; ia mampu mengembalikan setiap matan kepada sanad yang benar dan sebaliknya, hanya dengan sekali dengar. Menyatakan hafal seratus ribu hadis sahih dan dua ratus ribu hadis yang tidak sahih.
Pujian Para Ulama
Mendapat pujian dari ulama sezaman maupun generasi setelahnya, di antaranya Ahmad bin Hanbal, Ali bin Al-Madini, Ibnu Khuzaimah, Adz-Dzahabi, Ibnu Hajar Al-'Asqalani, Ibnu Katsir, dan Ibnu As-Subki. Ali bin Al-Madini menyatakan tidak pernah melihat orang seperti dirinya. Ibnu Khuzaimah menyatakan tidak pernah melihat orang yang lebih menguasai dan menghafal hadis Rasulullah dibandingkan dirinya.
Karya Tulis
Meliputi Al-Jami' Ash-Shahih, Al-Adab Al-Mufrad, Raf'ul Yadain fish-Shalah, Al-Qira'ah Khalfal Imam, Birrul Walidain, At-Tarikh Al-Kabir, Al-Awsath, Ash-Shaghir, Khalqu Af'alil 'Ibad, Adh-Dhu'afa', Al-Jami' Al-Kabir, Al-Musnad Al-Kabir, At-Tafsir Al-Kabir, Kitab Al-Asyribah, Kitab Al-Hibah, dan Asami Ash-Shahabah.
Wafat
Wafat di Khartank, sebuah desa di wilayah Samarkand, pada malam Sabtu setelah shalat Isya bertepatan dengan malam Idul Fitri tahun 256 H, dalam usia enam puluh dua tahun kurang tiga belas hari.
Shahih Al-Bukhari
Nama lengkap kitab: Al-Jami' Ash-Shahih Al-Musnad min Haditsi Rasulillah wa Sunanihi wa Ayyamihi.
Sebab Penyusunan
Tiga sebab menurut Ibnu Hajar: (1) kitab-kitab hadis sebelumnya mencampurkan hadis sahih, hasan, dan dhaif; (2) dorongan gurunya, Ishaq bin Rahawaih, agar disusun kitab ringkas berisi hadis-hadis sahih; (3) mimpi bertemu Nabi sambil mengusir lalat, ditafsirkan sebagai perintah mengusir dusta dari hadis Nabi.
Disusun selama enam belas tahun, diseleksi dari enam ratus ribu hadis. Setiap hadis dimasukkan setelah mandi, shalat istikharah, dan shalat dua rakaat.
Tema dan Kandungan
Tema utama: hadis-hadis sahih dari Rasulullah. Kandungan tambahan meliputi kesimpulan hukum (istinbath), pendapat generasi salaf, dan catatan fikih pada judul-judul bab.
Memuat riwayat mu'allaq (sanad terputus di awal) dalam jumlah signifikan, berbeda dengan Shahih Muslim yang sangat sedikit mengandungnya. Ibnu Hajar menyusun karya khusus, Ta'liqut Ta'liq, untuk menyambungkan riwayat-riwayat tersebut.
Jumlah Hadis
Menurut hitungan Ibnu Hajar: 7.397 hadis marfu' bersambung sanad (mawshul) termasuk pengulangan; 1.341 hadis mu'allaq termasuk pengulangan; 344 riwayat mutaba'ah; total 9.082 hadis marfu' dengan pengulangan. Tanpa pengulangan: 2.602 hadis mawshul, 159 hadis mu'allaq, total 2.761 hadis marfu'.
Pengulangan hadis pada beberapa tempat bertujuan untuk pendalilan hukum yang berbeda-beda, umumnya disertai jalur periwayatan (sanad) yang berbeda pula.
Syarat Periwayatan
Perawi harus tsiqah, sanad bersambung, dan terbukti pernah bertemu dengan gurunya sekalipun hanya sekali—berbeda dengan syarat Shahih Muslim yang cukup dengan kesezamanan (mu'asharah).
Guru-guru Bukhari dalam kitab ini berjumlah 289 orang, terbagi dalam lima tingkatan berdasarkan generasi dan kedekatan sanad.
Kritik dan Jawabannya
Sebagian ahli hadis mengkritik sekitar delapan puluh perawi, serta dua ratus sepuluh hadis dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim secara keseluruhan; tujuh puluh delapan di antaranya khusus dikritik dalam Shahih Bukhari. Ibnu Hajar menjawab kritik-kritik tersebut secara rinci dalam Fathul Bari, dan menyimpulkan bahwa kritik yang benar-benar berpengaruh terhadap keabsahan kitab sangat sedikit.
Kedudukan
Dinilai oleh mayoritas ulama sebagai kitab paling sahih setelah Al-Qur'an. Unggul atas Shahih Muslim dari sisi jumlah perawi yang tidak dipermasalahkan, syarat pertemuan sanad yang lebih ketat, dan jumlah hadis yang dikritik yang lebih sedikit.
Mendapat perhatian besar dari ulama sepanjang sejarah dalam bentuk syarah (penjelasan), penelitian sanad, dan kajian judul-judul bab. Syarah paling terkemuka adalah Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-'Asqalani (w. 852 H).