Cover buku Imam Muslim dan Kitab Shahihnya karya Abdul Muhsin bin Hamd bin Abdul Muhsin bin Abdullah bin Hamd al-'Abbad al-Badr
Diupload Oleh:admin
Tanggal Upload:
Dilihat:272 kali
Diunduh:97 kali

Imam Muslim dan Kitab Shahihnya

Kategori:
Tahun Terbit:2026
Jumlah Halaman:53 halaman
Penerbit:QantaraLit

Deskripsi

Nasab dan Kelahiran

Nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi An-Naisaburi. Nisbat "Al-Qusyairi" merujuk pada kabilah Qusyair bin Ka'ab bin Rabi'ah bin 'Amir bin Sha'sha'ah, dan merupakan nisbat keturunan (bukan nisbat perwalian sebagaimana nisbat Al-Bukhari kepada suku Ju'fi). Tahun kelahirannya diperselisihkan: mayoritas sumber (Al-Khazraji, Ibnu Hajar, Ibnu Katsir) menyebut 204 H, bertepatan dengan tahun wafatnya Imam Asy-Syafi'i; sumber lain (Al-Hakim An-Naisaburi via Ibnu Khallikan) menyebut 206 H. Beliau wafat pada sore hari Ahad, 25 Rajab 261 H, dan dimakamkan keesokan harinya di Nashr Abad, pinggiran Naisabur, dalam usia 55 atau 57 tahun.

Perjalanan Menuntut Ilmu

Beliau mulai mendengar hadits pada tahun 218 H dan melakukan rihlah (perjalanan keilmuan) ke Irak, Hijaz, Syam, dan Mesir. Sepuluh guru dengan riwayat terbanyak dalam Shahih Muslim, menurut penghitungan Ibnu Hajar dalam Tahdzib At-Tahdzib, adalah Ibnu Abi Syaibah (1540 hadits), Zuhair bin Harb (1281), Muhammad bin Al-Mutsanna (772), Qutaibah bin Sa'id (668), Ibnu Numair (573), Abu Kuraib (556), Bundar (460), Muhammad bin Rafi' (362), Muhammad bin Hatim (300), dan Ali bin Hujr (188). Sembilan dari sepuluh guru tersebut juga menjadi sumber riwayat Al-Bukhari, kecuali Muhammad bin Hatim.

Hubungan dengan Imam Al-Bukhari

Al-Bukhari termasuk guru yang paling berpengaruh bagi Muslim dalam bidang ilmu hadits dan ketelitian periwayatan; Muslim senantiasa mendampingi Al-Bukhari ketika yang disebut terakhir datang ke Naisabur. Meski demikian, Muslim tidak meriwayatkan satu pun hadits dari Al-Bukhari dalam Shahihnya. Dua sebab yang dikemukakan: pertama, keinginan memperoleh sanad yang lebih tinggi (lebih pendek) dengan meriwayatkan langsung dari guru-guru bersama mereka berdua; kedua, hadits-hadits yang telah dicatat Al-Bukhari dipandang telah mencukupi, sehingga Muslim memusatkan perhatian pada pemisahan riwayat shahih dari riwayat dhaif secara umum.

Murid, Karya, dan Profesi

Di antara murid Muslim: Ibrahim bin Abi Thalib, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Sha'id, dan Muhammad bin Abd bin Humaid. At-Tirmidzi meriwayatkan satu hadits darinya dalam Jami'-nya, tergolong riwayatul aqran (riwayat sesama sejawat) karena keduanya memiliki guru-guru yang sama. Karya-karyanya, selain Shahih, meliputi Al-Musnad Al-Kabir 'ala Asma' Ar-Rijal, Al-Jami' Al-Kabir 'ala Al-Abwab, Al-'Ilal, Auham Al-Muhadditsin, At-Tamyiz, Thabaqat At-Tabi'in, Al-Asma' wa Al-Kuna, Al-Afrad, Al-Aqran, dan sejumlah kitab lain — total sekitar dua puluh judul menurut penukilan Adz-Dzahabi dari Al-Hakim. Dari sisi profesi, beliau berdagang kain (bazzaz) dan dikenal sebagai salah satu dermawan Naisabur.

Penilaian Ulama

Sejumlah ulama menilai Muslim sebagai wadah ilmu dan ahli hadits terkemuka sezamannya: gurunya, Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Farra', menyebutnya termasuk ulama besar; Bundar memasukkannya dalam empat penghafal hadits utama bersama Abu Zur'ah, Al-Bukhari, dan Ad-Darimi; An-Nawawi menegaskan kesepakatan ulama atas keagungan kedudukan, ketelitian, dan penguasaannya terhadap ilmu hadits.

Shahih Muslim

Sebab Penyusunan dan Ketelitian

Dalam mukadimahnya, Muslim menjelaskan bahwa kitab ini disusun atas permintaan seseorang yang ingin menghimpun hadits-hadits Nabi tentang syariat, hukum, targhib, dan tarhib secara ringkas tanpa banyak pengulangan. Kitab disusun dari sekitar 300.000 hadits yang beliau dengar, dikerjakan selama 15 tahun bersama sejumlah muridnya, dan sebagian hasil susunannya disodorkan kepada Abu Zur'ah Ar-Razi untuk diperiksa cacatnya sebelum dimasukkan ke dalam kitab.

Kedudukan di antara Kitab Sunnah

Shahih Muslim menempati peringkat kedua setelah Shahih Bukhari di antara kitab-kitab hadits, dan bersama Shahih Bukhari dipandang sebagai kitab paling shahih setelah Al-Qur'an. Ungkapan Abu Ali An-Naisaburi bahwa "tidak ada kitab di bawah kolong langit yang lebih shahih dari kitab Muslim" dijawab oleh para ulama sebagai pernyataan tentang konsistensi penyajian hadits shahih tanpa campuran riwayat lemah, bukan sebagai pengunggulan atas Shahih Bukhari; kesepakatan ulama tetap menempatkan Shahih Bukhari pada peringkat pertama.

Struktur, Jumlah Hadits, dan Syarat

Kitab disusun berdasarkan tema tanpa judul bab eksplisit, berbeda dengan Shahih Bukhari. Jumlah hadits tanpa pengulangan menurut An-Nawawi sekitar 4.000; dengan pengulangan sekitar 12.000 (riwayat Ahmad bin Salamah); penghitungan modern oleh Muhammad Fuad Abdul Baqi menetapkan angka 3.033 hadits tanpa pengulangan. Syarat keshahihan menurut Ibnu Ash-Shalah: sanad bersambung, diriwayatkan perawi tsiqah dari perawi tsiqah dari awal hingga akhir sanad, serta selamat dari syadz dan illat. Muslim tidak mensyaratkan bukti pertemuan langsung antara perawi mu'an'an dengan gurunya (cukup kesezamanan), berbeda dengan syarat Al-Bukhari yang mengharuskan bukti pertemuan — perbedaan inilah yang menjadi salah satu sebab keunggulan Shahih Bukhari.

Ta'liq dan Kritik Ulama

Riwayat ta'liq (sanad yang dihapus sebagian) dalam Shahih Muslim hanya berjumlah empat belas tempat, jauh lebih sedikit dibanding Shahih Bukhari, dan seluruhnya tersambung melalui jalur lain. Ad-Daraquthni dan huffazh lain mengkritik 210 hadits dalam Shahihain: 32 hadits disepakati keduanya, 78 hadits khusus Bukhari, dan 100 hadits khusus Muslim. Kritik atas hadits khusus Bukhari telah dijawab Ibnu Hajar dalam mukadimah Fathul Bari; kritik atas hadits khusus Muslim telah dijawab An-Nawawi dalam syarahnya, dan hadits yang tersisa tanpa jawaban jumlahnya sangat kecil dibanding total hadits shahih dalam kitab tersebut. Dari 160 perawi Muslim yang pernah dikritik sebagian huffazh, kritik tersebut umumnya tidak berpengaruh, atau berkaitan dengan riwayat mutaba'ah/syawahid (bukan riwayat pokok), atau berkaitan dengan periode setelah terjadinya ikhtilath pada perawi yang bersangkutan.

Karakteristik Dibanding Shahih Bukhari

Shahih Muslim mengumpulkan berbagai jalur sanad satu hadits pada satu tempat, memuat mukadimah berisi ringkasan ilmu hadits di awal kitab, banyak menggunakan tahwil (peralihan sanad), dan membatasi isi hanya pada hadits marfu' (tanpa perkataan sahabat). Shahih Bukhari, sebaliknya, memisah satu hadits ke berbagai tempat untuk menunjukkan istinbath hukum, tidak memiliki mukadimah, banyak menggunakan ta'liq, dan turut memuat perkataan sahabat sebagai penjelasan. Kedua kitab sepakat berada pada tingkatan tertinggi keshahihan, dengan Shahih Bukhari diunggulkan atasnya.

Hadits di Luar Shahihain dan Istilah Muttafaq 'Alaih

Kedua kitab shahih tidak mencakup seluruh hadits shahih yang ada; Al-Bukhari dan Muslim sendiri menegaskan bahwa banyak hadits shahih lain yang tidak dimasukkan karena pertimbangan panjang kitab. Hadits shahih tersebar pula dalam kitab-kitab lain seperti Al-Muwaththa', Shahih Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Hibban, dan Al-Mustadrak. Ulama membagi hadits shahih menjadi tujuh tingkatan berdasarkan kekuatan sumbernya, dengan tingkatan tertinggi adalah hadits yang disepakati Bukhari dan Muslim, dikenal dengan istilah muttafaq 'alaih. Himpunan hadits muttafaq 'alaih yang paling dikenal disusun oleh Muhammad Fuad Abdul Baqi dalam kitab Al-Lu'lu' wal Marjan, memuat 1.906 hadits.

Komentar

Tinggalkan Komentar