Deskripsi
Langit duka menyelimuti hati kaum Muslimin saat kabar itu tersiar. Seorang pengemban ilmu, pejuang Tauhid, dan sosok ayah yang penuh kasih telah berpulang memenuhi panggilan Robbnya, Jum’at Dzulqo’dah 1447 H, Mei 2026. Syaikh Aunur Rofiq bin Ghufron rohimahulloh (1447 H) meninggalkan lubang yang amat dalam di tengah umat yang sedang haus akan bimbingan. Sosoknya bagaikan satu pelita yang selama puluhan tahun menerangi jalan da’wah di bumi Nusantara. Keheningan terasa begitu pekat bagi mereka yang terbiasa mendengar nasehat lembut namun tegas darinya. Kepergian seorang alim adalah musibah besar bagi umat manusia, sebagaimana disabdakan oleh Nabi ﷺ:
«إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ العِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ»
“Sesungguhnya Alloh tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari dada-dada hamba, akan tetapi Alloh mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama.” (HR. Al-Bukhori no. 100 dan Muslim no. 2673)
Sosoknya adalah bukti nyata bahwa ilmu bukan hanya untuk dihafal, melainkan untuk dihidupkan dalam akhlak dan amal nyata. Beliau adalah pribadi yang tidak suka pujian. Setiap kali ada yang hendak menyanjungnya, beliau menunduk, merasa dirinya hanyalah hamba yang faqir di hadapan Alloh ﷻ. Baginya, da’wah adalah pengabdian yang sunyi dari hiruk pikuk ketenaran duniawi. Namun, justru dalam kesunyian dan kesederhanaan itulah, pancaran pengaruhnya merasuk ke dalam jiwa para muridnya, dari kota hingga ke pelosok desa.
Yang lebih berilmu dari beliau ada banyak, tetapi adabnya telah sampai kabarnya dari orang-orang terdekatnya dan murid-muridnya. Mengabarkan kepada penulis orang yang dipercaya bahwa beliau sering memberi hadiah dan THR kepada tetangganya, termasuk orang yang ngontrak rumahnya. Ini hanyalah sedikit dari apa yang akan kita singgung di tempatnya.
Buku ini disusun bukan untuk mengagungkan sosoknya di atas batas syar’i, melainkan sebagai upaya untuk merekam jejak langkah seorang sholih agar menjadi pelajaran bagi generasi mendatang. Kita semua merasa kehilangan, namun di balik kesedihan itu, ada warisan berharga berupa semangat menuntut ilmu yang tidak pernah padam hingga akhir hayatnya.