Cover buku Tadzkirah al-Huffazh 01 karya Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Utsman adz-Dzahabi
Diupload Oleh:MS
Tanggal Upload:
Dilihat:192 kali
Diunduh:62 kali

Tadzkirah al-Huffazh 01

Kategori:
Tahun Terbit:2026
Jumlah Halaman:716 halaman
Penerbit:QantaraLit
Tata Letak:Muhamad Abid Hadlori

Deskripsi

Sesungguhnya hadis Nabi yang mulia telah menyita perhatian para sahabat, tabi'in, dan seluruh ulama. Tidak ada perkara kecil maupun besar, tidak ada urusan yang agung maupun yang remeh, bahkan yang berkaitan dengan detail-detail kehidupan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam — baik dalam hal makan, minum, berdiri, duduk, bepergian, menetap, maupun sekadar menoleh — melainkan mereka meliputinya dengan perhatian yang sangat besar, sehingga mereka menghafalnya dan mewariskannya dari generasi ke generasi, dari umat ke umat.

Para sahabat memang memiliki keutamaan dan andil yang mulia lagi besar dalam ilmu periwayatan hadis, di mana mereka meletakkan kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip yang mewujudkan ketelitian dan keadilan dalam periwayatan hadis, serta menentukan siapa saja orang yang layak diambil riwayatnya dan didengar perkataannya, dan siapa saja yang perkataannya ditinggalkan serta tidak diterima riwayatnya.

Para ulama telah menetapkan gelar-gelar bagi para perawi hadis, masing-masing sesuai tingkatannya, kekuatan kecerdasannya, banyaknya hafalannya, dan lain sebagainya. Di antara gelar-gelar tersebut adalah:

  1. Al-Musnad: yaitu orang yang meriwayatkan hadis dengan sanadnya, baik ia memiliki pengetahuan mendalam tentangnya maupun hanya sekadar meriwayatkan.

  2. Al-Muhaddits: sebagaimana dikatakan Ibnu Sayyid an-Nas: "Orang yang menekuni hadis baik secara riwayat maupun dirayah, mengumpulkan para perawi, dan mengetahui banyak perawi serta riwayat pada masanya, serta menonjol dalam hal itu sehingga dikenal karakteristiknya dan masyhur ketelitiannya." Lihat Tadrib ar-Rawi, hlm. 11, dan Qism ar-Ruwah, hlm. 197.

  3. Al-Hafizh: yaitu tingkatan yang lebih tinggi dari al-Muhaddits. Dalam mendefinisikannya, Ibnul Jazari berkata: "Yaitu orang yang meriwayatkan apa yang sampai kepadanya dan memahami apa yang ia perlukan darinya."

  4. Al-Hujjah: yaitu al-Hafizh yang memiliki ketelitian dan ketepatan luar biasa dalam menghafal sanad dan matan hingga mencapai gelar al-Hujjah. Adapun ulama belakangan mendefinisikannya sebagai orang yang menghafal tiga ratus ribu hadis lengkap dengan pengetahuan tentang sanad dan matannya.

  5. Al-Hakim: yaitu orang yang menguasai secara menyeluruh seluruh hadis sehingga hampir tidak ada yang luput darinya kecuali sedikit.

  6. Amirul Mukminin dalam bidang Hadis: yaitu orang yang unggul dalam hafalan dan ketelitian dalam ilmu hadis. Di antara mereka adalah Sufyan ats-Tsauri, Abdullah bin al-Mubarak, Ahmad bin Hanbal, al-Bukhari, dan Muslim. Adapun dari kalangan belakangan, di antaranya adalah al-Hafizh Ibnu Ali bin Hajar al-Asqalani.

Imam adz-Dzahabi menyusun kitab "Tadzkirah al-Huffazh" yang di dalamnya beliau mengumpulkan orang-orang yang bergelar al-Huffazh dengan pengertian yang mencakup tingkatan al-Hafizh, al-Hujjah, dan yang di atasnya.

Adz-Dzahabi

Beliau adalah al-Hafizh Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz bin Abdullah, keturunan Turkmenistan asalnya, al-Fariqi kemudian ad-Dimasyqi (Damaskus), Abu Abdullah Syamsuddin adz-Dzahabi.

Demikianlah nasabnya disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya "Ad-Durar al-Kaminah", dan beliau menyebutkan sekilas tentang kehidupannya seraya berkata:

Beliau lahir pada tanggal 3 Rabiul Akhir tahun 673. Pada tahun itu pula, atas perhatian saudara sesusuannya, beliau memperoleh ijazah dari Syekh Alauddin Ibnul Attar Ahmad bin Abil Khair, Ibnu ad-Darji, Ibnu Allan, Ibnu Abi al-Yusr, Ibnu Abi Umar, dan al-Fakhr Ali.

Beliau sangat mahir dalam ilmu hadis dan menyusun banyak karya bermanfaat di dalamnya, sehingga beliau menjadi orang yang paling banyak berkarya pada zamannya. Di antara karya-karyanya adalah:

Akhbar Abi Muslim al-Khurasani, Akhbar Qudhat Dimasyq, Al-I'lam bi al-Wafayat, Tarikh al-Islam (dua belas jilid), At-Tibyan fi Manaqib Utsman bin Affan, At-Tajrid fi Asma' ash-Shahabah, Tahrim al-Adbar (dua jilid), Tasybih al-Khasis bi Ahl al-Khamis, At-Ta'ziyah al-Hasanah bi al-Akhirah, Taqwim al-Buldan, Tawqif Ahl at-Tawqif fi Manaqib Abi Bakr ash-Shiddiq, Tahdzib at-Tahdzib fi Asma' ar-Rijal, Ad-Durrah al-Yatimah fi Sirah Ibn Taimiyah (yaitu Taqiyuddin Ahmad), Duwal al-Islam fi at-Tarikh, Ar-Rau' wa al-Aujal fi Naba' al-Masih wa ad-Dajjal, Sirah al-Hallaj, Siyar an-Nubala' fi at-Tarikh wa at-Tarajim (dua puluh jilid), Al-'Ibar fi Khabar man Ghabar, Al-'Adzb as-Salsal fi al-Hadits al-Musalsal, Al-'Uluw li al-'Aliyy al-A'la al-Ghaffar fi Idhah al-Akhbar, Unwan as-Siyar fi Dzikr ash-Shahabah, Fath al-Mathalib fi Manaqib Ali bin Abi Thalib, Qadhi Naharaka bi Akhbar Ibn al-Mubarak, Al-Kasyif fi Asma' ar-Rijal, Al-Muqtadhab min Tahdzib al-Kamal li al-Mizzi, Kitab al-'Arsy wa Shifatuh, Kitab al-Kaba'ir (dua jilid), Kitab al-Witr, Kasyf al-Kurbah 'inda Faqd al-Ahibbah, Ma Ba'da al-Maut (satu jilid), Al-Mujarrad fi Rijal al-Kutub as-Sittah, Al-Mukhtashar fi Muhadditsi al-'Ashr, Mukhtashar Silah al-Mu'min, Mukhtashar Mu'jam asy-Syuyukh, Al-Mustahla fi Ikhtishar al-Muhalla, Musytabih an-Nisbah fi al-Ansab, Al-Mu'jam ash-Shaghir (disebut juga Al-Lathif), Al-Mu'jam al-Kabir, Ma'rifah al-Qurra' al-Kibar 'ala ath-Thabaqat wa al-A'shar, Al-Mughni fi adh-Dhu'afa' wa Ba'dh ats-Tsiqat, Al-Muqtana fi Sard al-Kuna, Munyah ath-Thalib li A'azz al-Mathalib, Mizan al-I'tidal fi Naqd ar-Rijal (dua jilid, dicetak di India), Ni'ma as-Samar fi Manaqib Umar radhiyallahu anhu, Naqdh al-Ju'bah fi Akhbar Syu'bah, Halah al-Badr fi 'Adad Ahl Badr, dan lain-lain.

Pendapat Para Ulama tentang Imam adz-Dzahabi

Tajuddin as-Subki berkata dalam Thabaqat asy-Syafi'iyyah al-Kubra (9/201-102): "Adapun guru kami, Abu Abdullah, ia memiliki wawasan yang tiada bandingnya, ia adalah gudang perbendaharaan tempat berlindung ketika muncul persoalan pelik, imam dunia dalam hal hafalan, dan permata zaman baik dari segi makna maupun lafal, guru besar dalam ilmu jarh wa ta'dil, dan tokoh penilai para perawi dalam segala hal, seolah-olah seluruh umat dikumpulkan dalam satu tempat lalu ia mengamatinya kemudian mulai mengabarkan tentang mereka layaknya orang yang menyaksikan mereka secara langsung."

Beliau juga berkata: "Banyak orang mendengarkan riwayat darinya, dan ia terus menekuni ilmu ini hingga kokoh kedudukannya di dalamnya. Ia bersusah payah siang dan malam, dan lisan serta penanya tidak pernah lelah. Namanya dijadikan permisalan, dan namanya menyebar bagai perjalanan matahari, hanya saja ia tidak surut oleh hujan dan tidak mundur ketika malam datang." (9/103)

Ibnu Katsir berkata dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah (14/255): "Dengan beliaulah para ahli dan penghafal hadis ditutup."

Ibnu Syakir al-Kutubi berkata dalam Fawat al-Wafayat (2/370): "Seorang penghafal yang tidak tertandingi, seorang pengamat yang tidak terlampaui, ia menguasai hadis beserta para perawinya, meneliti cacat-cacat dan keadaan-keadaannya, mengenal biografi orang-orang serta menjelaskan kesamaran dan kerancuan dalam sejarah mereka. Ia mengumpulkan banyak karya, memberi manfaat kepada khalayak ramai, memperbanyak karya tulis, dan dengan keringkasannya ia meringankan beban panjangnya penyusunan."

Ibnu Hajar menyebutkan pujian ash-Shalah ash-Shafadi terhadapnya seraya berkata: "Ia tidak memiliki kekakuan sebagaimana ahli hadis pada umumnya, dan tidak pula kelambanan sebagaimana para penukil, bahkan ia memiliki kecerdasan fikih serta pengalaman luas dalam memahami perkataan orang-orang."

Adapun mengenai akhir hayatnya, Imam Ibnu Hajar berkata: "Beliau mengalami kebutaan beberapa tahun sebelum wafatnya, dan beliau marah apabila dikatakan kepadanya, 'Seandainya matamu dioperasi, niscaya engkau dapat melihat,' karena pada matanya terdapat katarak. Beliau berkata: 'Ini bukan air (katarak), aku terus merasakan penglihatanku berkurang sedikit demi sedikit hingga akhirnya hilang sama sekali.'" Beliau wafat pada malam ketiga bulan Dzulqa'dah tahun 748.

Komentar

Tinggalkan Komentar