Deskripsi
Kematian adalah sesuatu yang sering dihindari banyak orang untuk dibicarakan. Manusia sibuk memikirkan masa depan dunia, mengejar berbagai keinginan, dan menyusun rencana kehidupan, seakan-akan masih memiliki waktu yang panjang — padahal tidak seorang pun mengetahui kapan perjalanan hidupnya berakhir.
Mengingat kematian bukan berarti menjadi pesimis atau meninggalkan urusan dunia secara keseluruhan. Justru mengingatnya dengan benar membuat hati lebih sadar bahwa kehidupan ini sementara, sehingga tidak terlalu terlena dan lebih bersungguh-sungguh mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelahnya.
Al-Imam Ad-Daqqaq rahimahullah berkata:
"Barangsiapa yang memperbanyak mengingat kematian, niscaya dia akan dimuliakan dengan tiga perkara: menyegerakan taubat, hati yang qana'ah, dan semangat dalam beribadah." (At-Tadzkirah bi Ahwalil Mauta, hlm. 126)
1. Menyegerakan Taubat
Orang yang sadar bahwa kematian bisa datang kapan saja tidak akan merasa aman dengan dosa. Ketika terjatuh dalam kesalahan, ia segera kembali kepada Allah. Ia tidak berkata "nanti saja bertaubat ketika sudah tua", karena ia tidak tahu apakah masih diberi kesempatan sampai pada usia tersebut. Allah berfirman:
"Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat menundanya sesaat pun dan tidak dapat pula memajukannya." (QS. Al-A'raf: 34)
Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhali rahimahullah berkata: "Demi Allah, engkau tidak tahu kapan kematian secara tiba-tiba mendatangimu sementara dirimu di dalam kondisi seperti apa. Maka wajib bagimu untuk selalu berada di atas ketakwaan kepada Allah di setiap keadaan." (Al-Majmu' Ar-Raiq, hlm. 23)
2. Hati Menjadi Qana'ah
Mengingat kematian membuat seseorang memahami bahwa sebanyak apa pun harta yang dikumpulkan, semuanya akan ditinggalkan. Rumah, kendaraan, jabatan, dan berbagai kenikmatan dunia tidak akan ikut masuk ke dalam kubur.
Ini bukan berarti seorang muslim dilarang memiliki harta. Namun hendaklah hatinya tidak menjadi budak dunia: ia bersyukur atas pemberian Allah dan tidak terus-menerus mengejar harta dan materi dengan melupakan kehidupan akhirat. Allah berfirman:
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain), sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Qashash: 77)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Ada tiga perkara yang akan mengantarkan mayit (ke kuburannya). Dua (di antaranya) akan kembali dan yang satu akan tinggal bersamanya. Tiga perkara itu adalah keluarganya, hartanya, dan amalnya. Keluarganya dan hartanya akan kembali pulang, sementara amalnya akan tetap tinggal bersamanya." (HR. Al-Bukhari no. 6514 dan Muslim no. 2960)
3. Semangat dalam Beribadah
Ketika seseorang menyadari bahwa kesempatan beramal memiliki batas, ia akan lebih menghargai setiap waktu yang dimilikinya. Shalat tidak lagi dianggap beban, membaca Al-Qur'an tidak terasa sia-sia, dan sedekah tidak lagi dipandang sebagai kehilangan harta. Ia memahami bahwa hari ini adalah kesempatan menambah bekal, sedangkan setelah kematian tidak ada lagi kesempatan memperbaiki amal.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Orang yang paling sering mengingat kematian dan yang paling baik persiapannya terhadap kehidupan setelah kematian — mereka itulah orang-orang yang cerdas." (HR. Ibnu Majah; dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Ibni Majah no. 3454)
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
"Hari-hari di dunia ini ada tiga. Hari yang kemarin, maka itu sudah berlalu dengan berbagai hal yang terjadi padanya (tidak mungkin bisa diulang). Sementara esok hari, maka bisa jadi engkau tidak akan mendapatinya. Adapun hari ini, maka beramallah padanya." (Az-Zuhd karya Ibnu Abi Dunya, hlm. 197)