Deskripsi
Mencintai Sunnah bukan sekadar mengagumi ajaran Rasulullah ﷺ atau menghafal hadits-hadits beliau. Kecintaan yang sebenarnya harus dibuktikan dengan kesungguhan mempelajari, mengamalkan, dan mendahulukan petunjuk beliau daripada keinginan hawa nafsu. Sebab tidak setiap amalan yang dianggap baik oleh manusia otomatis dicintai oleh Allah. Agama ini memiliki tuntunan yang harus dijadikan pedoman, bukan sekadar mengikuti perasaan dan kebiasaan. Berikut tiga prinsip penting yang perlu diperhatikan oleh setiap muslim dalam mengikuti Sunnah.
1. Ikhlas dalam Beribadah kepada Allah
Prinsip pertama adalah meluruskan niat. Setiap ibadah harus ditujukan kepada Allah semata, bukan demi pujian manusia, popularitas, atau keinginan mendapatkan kedudukan di tengah masyarakat.
Allah berfirman:
"Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama." (QS. Al-Bayyinah: 5)
Seseorang mungkin terlihat sangat bersemangat mengamalkan Sunnah, tetapi jika tujuannya adalah mendapatkan pujian manusia, berarti ia sedang berada dalam bahaya besar bagi amalannya.
Periksalah niat sebelum beramal. Jangan sampai begitu bersemangat menampilkan kebaikan di hadapan manusia, tetapi melupakan keikhlasan yang menjadi fondasi ibadah.
Tujuan mengikuti Sunnah bukan agar dipuji dan disanjung oleh manusia sebagai orang yang paling mengikuti Sunnah, melainkan agar mendapatkan keridaan Allah.
2. Mengikuti Petunjuk Rasulullah ﷺ, Bukan Sekadar Perasaan
Prinsip kedua adalah memastikan bahwa amalan yang dilakukan memiliki landasan syariat. Dalam urusan agama, niat baik saja tidak cukup apabila cara yang ditempuh menyelisihi petunjuk Rasulullah ﷺ.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa mengada-adakan dalam urusan agama kami ini sesuatu yang bukan bagian darinya, maka amalan itu tertolak." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadits ini mengajarkan bahwa ibadah harus mengikuti tuntunan agama, bukan dibangun berdasarkan anggapan pribadi bahwa suatu amalan pasti baik atau mendekatkan diri kepada Allah.
Seorang muslim hendaknya mempelajari dalil dan penjelasan para ulama Ahlussunnah sebelum mengamalkan suatu ibadah, khususnya ketika terdapat perbedaan pendapat atau persoalan yang belum dipahaminya.
Jangan menjadikan kebiasaan masyarakat sebagai satu-satunya ukuran kebenaran. Sesuatu yang telah lama dilakukan belum tentu sesuai dengan Sunnah, sebagaimana sesuatu yang belum dikenal oleh kita belum tentu salah.
Ukuran kebenaran dalam beragama adalah petunjuk Allah dan Rasul-Nya, bukan semata-mata banyaknya orang yang melakukan suatu amalan.
3. Mendahulukan Sunnah daripada Hawa Nafsu
Prinsip ketiga adalah bersedia tunduk kepada kebenaran meskipun terkadang bertentangan dengan keinginan diri sendiri.
Allah berfirman:
"Maka demi Rabb-mu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati terhadap keputusan yang engkau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. An-Nisa': 65)
Mengikuti Sunnah terkadang menuntut seseorang meninggalkan kebiasaan yang disukainya, mengakui kekeliruan yang selama ini diyakininya, atau menerima nasihat yang terasa berat bagi dirinya.
Di sinilah kejujuran seorang hamba diuji: apakah ia benar-benar mencari kebenaran, atau hanya mencari pembenaran bagi apa yang telah disukainya?
Ketundukan kepada wahyu menuntut kita untuk terus belajar, memahami dalil dengan benar, dan bersikap adil ketika menghadapi perbedaan pendapat yang diakui dalam syariat.