Cover buku 3 Prinsip Penting Dalam Pergaulan karya Abu Yusuf bin Atmudin Al-Batahany
Diupload Oleh:admin
Tanggal Upload:
Dilihat:19 kali
Diunduh:11 kali

3 Prinsip Penting Dalam Pergaulan

Kategori:
Tahun Terbit:2026
Jumlah Halaman:20 halaman

Deskripsi

Tidak semua orang mampu memberikan manfaat kepada orang lain. Tidak semua orang mampu menghadirkan kebahagiaan di hati saudaranya. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk memuji dan menghargai kebaikan orang lain. Namun setiap orang bisa berusaha agar kehadirannya tidak menjadi sumber keburukan bagi sesama.

Sayangnya sebagian orang justru mudah menyakiti, membuat orang lain bersedih, maupun menjatuhkan kehormatan saudaranya. Lisannya lebih sering melukai daripada menghibur, sikapnya lebih sering menyulitkan daripada memudahkan, dan kehadirannya justru membawa keresahan.

Yahya bin Mu'adz rahimahullah berkata:

"Hendaklah seorang mukmin mendapatkan tiga hal darimu: jika engkau tidak bisa memberinya manfaat, jangan menyakitinya; jika engkau tidak bisa membuatnya gembira, jangan membuatnya bersedih; dan jika engkau tidak bisa memujinya, jangan mencelanya." (Az-Zuhd war-Raqa'iq, hlm. 114)

1. Jika Tidak Bisa Memberikan Manfaat, Jangan Menimbulkan Bahaya

Tidak semua orang mampu membantu saudaranya dengan harta, tenaga, atau ilmu. Terkadang kita berada dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk memberikan banyak manfaat kepada orang lain. Namun ketidakmampuan untuk membantu bukanlah alasan untuk menyakiti.

  • Jika tidak mampu meringankan beban seseorang, setidaknya jangan menambah bebannya.

  • Jika tidak mampu menyelesaikan masalahnya, jangan memperkeruh keadaan.

  • Jika tidak bisa membantu urusannya, jangan menghalanginya mendapatkan kebaikan.

  • Jangan sampai kehadiran kita justru membuat urusan orang lain semakin sulit.

  • Jangan mengambil haknya, mengkhianati kepercayaannya, menyebarkan rahasianya, atau memanfaatkan kelemahannya demi kepentingan pribadi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Perhatikanlah, di antara ciri seorang muslim adalah orang lain selamat dari gangguannya. Maka jangan hanya bertanya, "Apa manfaat yang sudah kuberikan kepada orang lain?" Tanyakan pula, "Apakah orang lain merasa aman dari lisanku dan perbuatanku?"

2. Jika Tidak Bisa Membuatnya Gembira, Jangan Membuatnya Bersedih

Tidak setiap kesedihan orang lain mampu kita hapus. Tidak setiap masalah mampu kita selesaikan. Terkadang yang bisa dilakukan hanyalah mendengarkan, menemani, atau memberikan sedikit penguatan. Namun jangan justru menjadi orang yang menambah kesedihannya.

  • Ketika seseorang sedang tertimpa musibah, jangan meremehkan penderitaannya.

  • Ketika ia sedang menghadapi kesulitan, jangan menjadikan kelemahannya sebagai bahan ejekan.

  • Ketika ia sedang berusaha bangkit dari keterpurukannya, jangan menghancurkan semangatnya dengan ucapan yang merendahkan.

  • Ada perkataan yang mungkin dianggap sepele oleh orang yang mengucapkannya, tetapi terus membekas dalam hati orang yang mendengarnya.

  • Ada candaan yang dianggap lucu oleh sebagian orang, tetapi menjadi luka bagi orang yang dijadikan bahan tertawaan.

Allah berfirman:

"Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia." (QS. Al-Baqarah: 83)

Akhlak yang baik tidak selalu harus berupa memberi nasihat panjang atau pujian. Terkadang tidak merendahkan orang lain, tidak mengungkit kesalahannya di hadapan banyak orang, dan tidak mempermalukannya sudah menjadi bagian dari akhlak yang baik.

3. Jika Tidak Bisa Memujinya, Jangan Mencelanya

Sebagian orang mudah sekali mengingat dan menyebut-nyebut kekurangan orang lain, tetapi sulit mengakui kelebihannya. Ketika seseorang berbuat baik, ia diam; ketika orang itu melakukan kesalahan, ia segera berbicara. Kebaikan yang dilakukan seolah tidak berarti lagi, sedangkan satu kesalahan terus diungkit dan dibicarakan. Lebih buruk lagi jika celaan itu lahir dari kedengkian, persaingan, atau keinginan menjatuhkan kehormatan orang lain.

  • Kita tidak diperintahkan untuk memuji setiap orang secara berlebihan, dan tidak boleh menyembunyikan kebenaran hanya demi menyenangkan manusia.

  • Akan tetapi, ketika tidak ada kebutuhan syar'i untuk membicarakan keburukan seseorang, menjaga lisan jauh lebih baik daripada sibuk mencela.

  • Jika melihat kebaikan, akui dengan adil. Jika melihat kesalahan, jangan terburu-buru menyebarkannya.

  • Jika memang perlu memberi nasihat atau menjelaskan kekeliruan, lakukanlah dengan ilmu, keadilan, dan cara yang tepat.

Allah berfirman:

"Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain." (QS. Al-Hujurat: 12)

Jangan sampai lisan begitu ringan menyebut kekurangan orang lain, sementara kita lupa bahwa diri sendiri pun tidak luput dari kesalahan dan membutuhkan nasihat.

Komentar

Tinggalkan Komentar