Deskripsi
Dalam menjalani kehidupan beragama, manusia tidak selalu berada pada tingkatan yang sama. Ada yang berusaha menunaikan kewajiban dan menjauhi larangan Allah. Ada yang melangkah lebih jauh dengan memperbanyak amal sunah. Namun ada pula yang justru merugi karena meremehkan kewajiban dan terus-menerus melakukan berbagai pelanggaran.
Al-Imam Abu Hamid al-Ghazali rahimahullah berkata:
"Ketahuilah, bahwa seorang hamba dalam urusan agamanya berada pada salah satu dari tiga tingkatan: orang yang selamat, yaitu orang yang mencukupkan diri dengan menunaikan kewajiban dan meninggalkan kemaksiatan; orang yang beruntung, yaitu orang yang menambah amal dengan berbagai ibadah sunah dan amalan pendekatan diri kepada Allah; atau orang yang merugi, yaitu orang yang terus-menerus mengabaikan kewajiban. Jika engkau belum mampu menjadi orang yang beruntung, berusahalah menjadi orang yang selamat. Dan jangan sampai sekali-kali engkau menjadi orang yang merugi." (Bidayatul Hidayah, hlm. 39)
1. Orang yang Selamat
Tingkatan pertama adalah orang yang berusaha menunaikan kewajiban yang Allah perintahkan dan menjauhi segala larangan-Nya. Ia menjaga salat lima waktu, berpuasa Ramadan, menunaikan hak-hak yang diwajibkan atasnya, serta berusaha menjauhi dosa dan kemaksiatan.
Mungkin ia belum banyak melakukan salat sunah, belum terbiasa berpuasa sunah atau memperbanyak sedekah. Namun ia berusaha menjaga perkara-perkara yang wajib dan tidak meremehkan batasan-batasan Allah.
Inilah fondasi yang tidak boleh diabaikan. Jangan sampai begitu bersemangat mengerjakan amalan sunah tetapi justru melalaikan kewajiban.
Jangan sampai sibuk memperbanyak ibadah tambahan sementara hak orang lain yang wajib ditunaikan masih terbengkalai.
Rasulullah ﷺ meriwayatkan firman Allah dalam hadits qudsi:
"Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan atasnya." (HR. Al-Bukhari)
Maka jika saat ini masih berjuang menjaga kewajiban, jangan meremehkan perjuangan tersebut. Jagalah salat, tunaikan tanggung jawab, tinggalkan kemaksiatan, dan teruslah memperbaiki diri. Jangan merasa amal tidak berarti hanya karena belum mampu melakukan banyak amalan sunah.
2. Orang yang Beruntung
Tingkatan kedua adalah orang yang tidak berhenti pada kewajiban saja, tetapi berusaha mendekatkan diri kepada Allah melalui berbagai amalan sunah. Setelah menjaga salat lima waktu, ia berusaha mengerjakan salat rawatib. Setelah menunaikan puasa Ramadan, ia berusaha berpuasa sunah. Ia membiasakan membaca Al-Qur'an, memperbanyak zikir, bersedekah, dan melakukan berbagai kebaikan sesuai kemampuan serta tuntunan syariat.
Ia memahami bahwa kehidupan dunia bukan sekadar tentang menggugurkan kewajiban. Ada kesempatan luas untuk mengumpulkan pahala, meninggikan derajat, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Saat orang lain menghabiskan waktu untuk perkara yang tidak bermanfaat, ia berusaha mengisi waktunya dengan amal saleh.
Saat orang lain merasa cukup dengan kewajiban saja, ia berusaha menambah bekal untuk kehidupan akhiratnya.
Namun amalan sunah tidak boleh membuat seseorang merasa lebih mulia daripada orang lain. Banyaknya ibadah semestinya melahirkan rasa syukur, ketawaduan, dan kesungguhan memperbaiki diri, bukan kesombongan.
Allah berfirman dalam hadits qudsi:
"Terus-menerus hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya." (HR. Al-Bukhari)
Betapa besar keberuntungan seorang hamba ketika Allah memberinya taufik untuk mencintai ketaatan.
3. Orang yang Merugi
Inilah tingkatan yang paling berbahaya, yaitu seseorang yang senantiasa mengabaikan kewajiban dan tidak bersungguh-sungguh memperbaiki dirinya. Salat terus ditinggalkan tanpa penyesalan. Hak-hak orang lain diabaikan. Kemaksiatan dilakukan berulang kali tanpa kesungguhan untuk bertobat. Nasihat datang tetapi tidak dihiraukan; peringatan telah didengar tetapi hati tetap merasa aman dalam kelalaian.
Yang menyedihkan, sebagian orang justru lebih sibuk mengejar urusan dunia daripada memperhatikan kewajibannya kepada Allah.
Ia takut kehilangan keuntungan dunia, tetapi tidak terlalu takut kehilangan kesempatan untuk beramal saleh.
Ia gelisah ketika hartanya berkurang, tetapi tidak gelisah ketika ketaatannya semakin melemah.
Allah berfirman:
"Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh." (QS. Al-'Ashr: 1–3)
Kerugian yang paling besar bukanlah ketika seseorang kehilangan harta, jabatan, atau kesempatan meraih kesenangan dunia. Kerugian yang paling besar adalah ketika waktu terus berlalu, umur semakin berkurang, tetapi ia tidak bersungguh-sungguh memperbaiki hubungan dengan Allah.
Meski demikian, pintu tobat tetap terbuka bagi siapa saja yang masih hidup. Orang yang selama ini lalai tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Ia harus segera bertobat, menunaikan kewajiban yang masih menjadi tanggung jawabnya, dan berusaha memperbaiki keadaannya sebelum kesempatan itu berakhir.
Di Tingkatan Manakah Kita Berada?
Jangan hanya sibuk menghitung amalan sunah yang telah dikerjakan, tetapi periksalah pula apakah berbagai kewajiban sudah ditunaikan.
Jangan hanya bangga dengan pengetahuan agama yang dimiliki, tetapi tanyakan apakah ilmu itu telah mendorong untuk semakin taat kepada Allah.
Jika telah menjaga kewajiban, bersyukurlah dan berusahalah meningkatkan amal saleh.
Jika telah terbiasa memperbanyak amalan sunah, jagalah keikhlasan dan jangan meremehkan orang lain.
Jika masih sering melalaikan kewajiban, jangan menunda memperbaiki diri. Mulailah bertobat dan benahi apa yang selama ini diabaikan.