Deskripsi
Bayangkan seseorang yang menghabiskan puluhan tahun hidupnya dalam ibadah: bersusah payah menuntut ilmu, menjaga shalat, berpuasa, bersedekah, dan berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Usianya dihabiskan mengumpulkan bekal akhirat. Namun ketika amarah menguasai dirinya, terlontarlah satu kalimat yang mendatangkan akibat begitu besar bagi agamanya.
'Atha' rahimahullah berkata:
"Sesungguhnya seseorang bisa saja mengucapkan satu kalimat ketika marah, lalu dengan sebab kalimat tersebut ia menghancurkan amalannya selama enam puluh atau tujuh puluh tahun." (Fathul Bari karya Ibnu Rajab 1/200)
Betapa besar bahaya lisan yang tidak dikendalikan. Seseorang mungkin mampu menahan lapar ketika berpuasa, berdiri lama dalam shalat, dan mengorbankan hartanya untuk kebaikan. Namun ketika amarah memuncak, ia seolah melupakan semua ilmu yang pernah dipelajarinya: kata-kata kasar meluncur tanpa pertimbangan, tuduhan dilemparkan tanpa bukti, dan kehormatan orang lain diinjak-injak hanya demi melampiaskan gejolak sesaat.
Yang lebih mengkhawatirkan, terkadang kalimat itu keluar hanya dalam hitungan detik, sedangkan penyesalannya dapat berlangsung bertahun-tahun.
Jangan Remehkan Ucapan Ketika Marah
Jangan pernah meremehkan ucapan ketika sedang marah. Tidak semua luka terlihat oleh mata. Ada hati yang hancur karena penghinaan, ada hubungan yang rusak akibat tuduhan, dan ada persaudaraan yang terputus karena seseorang tidak mampu menahan lisannya. Setelah amarah mereda, barulah ia menyadari bahwa kata-kata yang telah keluar tidak mudah ditarik kembali.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kalimat yang diridhai Allah tanpa terlalu memikirkannya, lalu Allah mengangkat derajatnya karena kalimat itu. Dan sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah tanpa terlalu memikirkannya, lalu ia terjerumus ke dalam neraka karenanya." (HR. Bukhari no. 6478 dan Muslim no. 2988)
Satu kalimat bisa menjadi sebab terangkatnya derajat seseorang, tetapi satu kalimat pula bisa menjadi sebab kebinasaannya. Karena itu, jangan menganggap remeh apa yang keluar dari lisan — terlebih ketika hati sedang dikuasai kemarahan, sebab pada saat itulah seseorang sering berbicara tanpa memikirkan akibatnya.
Perincian: Tidak Setiap Ucapan Buruk Menghapus Semua Amal
Perkataan 'Atha' di atas bukan berarti setiap ucapan buruk ketika marah otomatis menghapus seluruh pahala amal selama puluhan tahun. Besarnya akibat suatu ucapan bergantung pada jenis dan kandungannya: ada ucapan yang merupakan dosa besar, ada yang termasuk kezaliman terhadap manusia, dan ada pula ucapan yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam apabila memenuhi ketentuan syariat.
Karena itu, jangan meremehkan ancaman tersebut, tetapi jangan pula menetapkan gugurnya seluruh amal seseorang secara pasti tanpa dalil dan perincian yang benar.
Ketika Amarah Mulai Menguasai
Belajarlah diam sebelum berbicara. Jangan merasa harus segera membalas setiap perkataan yang menyakitkan.
Tidak semua penghinaan perlu dijawab, tidak setiap perdebatan harus dimenangkan, dan tidak semua perasaan harus diluapkan melalui lisan.
Terkadang menahan satu kalimat adalah kemenangan yang jauh lebih besar daripada berhasil membungkam lawan bicara.
Ketika marah: diamlah sejenak, berlindunglah kepada Allah dari setan, dan menjauhlah dari keadaan yang membuat semakin kehilangan kendali.
Jika telanjur menyakiti seseorang, segeralah meminta maaf dan memperbaiki kesalahan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat. Orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah." (HR. Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609)
Kekuatan sejati bukanlah kemampuan untuk selalu bisa membalas, meninggikan suara, atau membuat orang lain takut. Kekuatan yang sesungguhnya tampak ketika seseorang mampu menguasai dirinya saat memiliki alasan untuk marah — ia tetap menjaga batasan Allah, tidak mengucapkan kebohongan, tidak melontarkan tuduhan sembarangan, dan tidak menjadikan kemarahan sebagai pembenaran untuk berbuat zalim.