Deskripsi
Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah mereka yang mengikuti apa yang menjadi pegangan Rasulullah dan para sahabatnya. Penisbatan mereka kepada sunnah Rasulullah yang beliau anjurkan untuk dipegang teguh melalui sabdanya: "Berpegang teguhlah kalian pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sepeninggalku. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham." Beliau memperingatkan dari menyelisihinya melalui sabdanya: "Jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru (dalam agama), karena setiap perkara baru adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah kesesatan." Serta sabdanya: "Barangsiapa yang membenci sunnahku maka ia bukan golonganku."
Ini berbeda dengan selain mereka dari kalangan pengikut hawa nafsu dan bid'ah, yang menempuh jalan-jalan yang tidak pernah ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Akidah Ahlus Sunnah telah tampak sejak diutusnya beliau, sedangkan akidah kelompok-kelompok pengikut hawa nafsu lahir setelah masa beliau — sebagian muncul pada akhir masa sahabat, dan sebagian lagi setelah itu. Rasulullah telah mengabarkan bahwa siapa saja di antara sahabatnya yang hidup lebih lama akan menyaksikan perpecahan dan perselisihan ini, sebagaimana sabdanya: "Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup (lebih lama), maka ia akan melihat banyak perselisihan." Kemudian beliau membimbing untuk menempuh jalan yang lurus, yaitu mengikuti sunnah beliau dan sunnah Khulafaur Rasyidin, serta memperingatkan dari perkara-perkara baru dalam agama dan mengabarkan bahwa itu adalah kesesatan.
Tidaklah masuk akal dan tidak dapat diterima bahwa suatu kebenaran dan petunjuk disembunyikan dari para sahabat radhiallahu anhum lalu disimpan untuk orang-orang yang datang setelah mereka. Sebab seluruh bid'ah yang baru itu adalah keburukan. Seandainya ada kebaikan padanya, tentu para sahabat akan lebih dahulu mengamalkannya. Namun itu adalah keburukan yang menimpa banyak orang setelah mereka, yaitu orang-orang yang menyimpang dari apa yang menjadi pegangan para sahabat radhiallahu anhum. Imam Malik rahimahullah berkata: "Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi awalnya."
Oleh karena itu, Ahlus Sunnah dinisbatkan kepada sunnah, sedangkan selain mereka dinisbatkan kepada aliran-aliran sesat mereka seperti Jabariyah, Qadariyah, Murji'ah, dan Imamiyah Itsna 'Asyariyah (Syiah Dua Belas Imam), atau dinisbatkan kepada nama-nama tokoh tertentu seperti Jahmiyah, Zaidiyah, Asy'ariyah, dan Ibadiyah. Tidak bisa dikatakan bahwa termasuk dalam kategori ini istilah "Wahabiyah" yang dinisbatkan kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Sebab Ahlus Sunnah pada masa beliau dan setelahnya tidak menisbatkan diri dengan sebutan ini, karena beliau tidak membawa sesuatu yang baru sehingga pantas dinisbatkan kepadanya. Beliau hanyalah mengikuti apa yang menjadi pegangan salafus saleh, menampakkan sunnah, menyebarkannya, dan mengajak kepadanya. Penisbatan ini hanya dilontarkan oleh orang-orang yang membenci dakwah pembaruan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, dengan tujuan mengaburkan pandangan manusia dan memalingkan mereka dari mengikuti kebenaran dan petunjuk, agar mereka tetap berada pada bid'ah-bid'ah baru yang menyelisihi pegangan Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Imam Asy-Syathibi berkata dalam al-I'tisham (1/79): "Abdurrahman bin Mahdi berkata: Malik bin Anas pernah ditanya tentang sunnah? Beliau menjawab: 'Sunnah adalah sesuatu yang tidak memiliki nama selain sunnah,' lalu beliau membaca ayat:
"Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa." (Surah Al-An'am, ayat 153)
Ibnul Qayyim berkata dalam Madarijus Salikin (3/179): "Sebagian imam pernah ditanya tentang sunnah? Beliau menjawab: 'Sesuatu yang tidak memiliki nama selain sunnah.' Maksudnya, Ahlus Sunnah tidak memiliki nama yang mereka nisbatkan kepadanya selain sunnah itu sendiri."
Dalam kitab al-Intiqa karya Ibnu Abdil Barr (hlm. 35): bahwa seseorang bertanya kepada Imam Malik, "Siapakah Ahlus Sunnah itu?" Beliau menjawab: "Ahlus Sunnah adalah mereka yang tidak memiliki gelar yang mereka kenal dengannya; bukan Jahmi, bukan Qadari, dan bukan pula Rafidhi."
Tidak diragukan lagi bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat adalah saling menyatukan hati dan saling mengasihi di antara mereka, serta saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.
Sungguh disayangkan, pada zaman ini terjadi perpecahan dan perselisihan di antara sebagian Ahlus Sunnah, yang berakibat sebagian mereka sibuk mencela, memperingatkan, dan memboikot sebagian yang lain. Padahal seharusnya seluruh upaya mereka diarahkan kepada selain mereka, yaitu orang-orang kafir dan pelaku bid'ah yang memusuhi Ahlus Sunnah, serta seharusnya di antara mereka sendiri saling menyatukan hati dan saling mengasihi, saling mengingatkan satu sama lain dengan lemah lembut.
Aku berpandangan untuk menulis beberapa kata sebagai nasihat bagi mereka semua, memohon kepada Allah azza wa jalla agar memberi manfaat dengan tulisan ini. Tidaklah aku menghendaki kecuali perbaikan semampuku, dan tidaklah taufikku kecuali dengan pertolongan Allah, kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya aku kembali. Aku menamakan nasihat ini "Bersikap Lembutlah Ahlus Sunnah terhadap Ahlus Sunnah".
Aku memohon kepada Allah untuk semuanya agar diberi taufik dan kelurusan, agar Dia memperbaiki hubungan di antara mereka, menyatukan hati mereka, membimbing mereka ke jalan keselamatan, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan.