Deskripsi
Tidak semua perkara harus dikomentari. Tidak setiap percakapan perlu diikuti, dan tidak setiap kesempatan berbicara harus dimanfaatkan untuk mengeluarkan pendapat. Terkadang diam lebih menjaga kehormatan seseorang daripada banyak bicara yang tidak membawa manfaat. Lisan yang tidak dikendalikan dapat menjadi sebab penyesalan, sedangkan diam yang disertai kebijaksanaan bisa menyelamatkan seseorang dari banyak keburukan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan apa saja yang tidak bermanfaat baginya." (HR. At-Tirmidzi no. 2317)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: "Berbicara yang baik lebih baik daripada diam, dan diam lebih baik daripada bicara yang jelek." (Al-Fatawa 22/315)
Kisah Imam Ahmad bin Hanbal
Dinukil dari Thalhah bin Ubaidillah Al-Baghdadi rahimahullah, beliau berkata:
"Perjalananku dengan kapal bertepatan dengan perjalanan Ahmad bin Hanbal. Beliau banyak diam. Jika berbicara, maka beliau mengucapkan, 'Ya Allah, wafatkanlah kami di atas Islam dan Sunnah.'" (Tarikh Baghdad 9/354)
Imam Ahmad bin Hanbal — seorang imam besar yang dikenal dengan ilmu, keteguhan, dan pembelaannya terhadap Sunnah — tidak memenuhi perjalanannya dengan pembicaraan yang sia-sia. Beliau lebih banyak diam, dan ketika berbicara mengucapkan doa yang menunjukkan betapa pentingnya memohon keteguhan hingga akhir hayat.
Berdoa Sepenuh Jiwa
Doa tersebut berisi permohonan agar diwafatkan di atas Islam dan Sunnah. Sebab apa artinya panjang umur jika seseorang justru kehilangan agamanya di penghujung kehidupan? Apa artinya memiliki banyak kelebihan jika akhirnya tidak meninggal di atas petunjuk yang diridhai Allah?
Persoalan terbesar dalam hidup ini bukan sekadar bagaimana kita menjalani kehidupan, tetapi bagaimana kita mengakhirinya. Banyak orang begitu sibuk merencanakan masa depan dunia — pekerjaan, penghasilan, tempat tinggal, pendidikan anak, dan berbagai kebutuhan yang akan datang. Semua itu penting, tetapi pernahkah kita memberikan perhatian yang sama besarnya terhadap akhir perjalanan kita? Sudahkah kita memikirkan bagaimana keadaan iman kita ketika ajal menjemput?
Kita tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi esok hari. Hati manusia dapat berubah, ujian bisa datang dari arah yang tidak disangka, dan fitnah dapat menggoyahkan seseorang yang sebelumnya merasa kuat. Karena itulah seorang mukmin tidak seharusnya merasa aman dengan keadaan dirinya hari ini; ia harus terus menaati Allah sekaligus memohon agar hatinya diteguhkan di atas agama-Nya.
Rasulullah ﷺ sering berdoa:
"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu." (Ya muqallibal-qulub, tsabbit qalbi 'ala dinik)
Ketika ditanya mengenai hal tersebut, beliau ﷺ menjawab:
"Sesungguhnya tidak ada seorang manusia pun kecuali hatinya berada di antara dua jari dari jari-jari Allah. Barang siapa yang Dia kehendaki, Dia teguhkan; dan barang siapa yang Dia kehendaki, Dia sesatkan." (HR. Ahmad no. 26679 dan At-Tirmidzi no. 3522)
Jika Rasulullah ﷺ membaca doa memohon keteguhan hati, maka tentu kita lebih membutuhkannya lagi — kita yang begitu mudah lalai, terpengaruh keadaan, tergoda oleh dunia, dan terkadang merasa yakin dengan kekuatan diri sendiri, padahal tidak mampu menjamin bagaimana keadaan hati kita esok hari.