Deskripsi
Sesungguhnya pondasi dan asal Islam adalah dua kalimat syahadat: kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan kesaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Keduanya adalah kunci surga, pintu segala kebaikan, dan merupakan hal paling agung yang dijadikan seorang Muslim sebagai pengabdian kepada Tuhannya, serta hal paling mulia yang ia bawa kepada seluruh alam.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa aku adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba berjumpa Allah dengan membawa keduanya tanpa ragu sedikit pun, melainkan ia akan masuk surga." Maka siapa pun yang beriman kepada dua syahadat ini tanpa keraguan dan kebimbangan, ia akan masuk surga.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga menyampaikan janji lain bagi orang-orang beriman ini, yaitu keselamatan dari neraka: "Tidak ada seorang hamba pun yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, melainkan Allah mengharamkannya dari neraka."
Oleh karena itu, ketika seorang Muslim membahas kenabian Nabi shallallahu alaihi wa sallam beserta bukti-buktinya, ia sedang membahas bab yang sangat agung dari bab-bab Islam, yaitu bagian kedua dari rukun pertama Islam.
Ketika seorang Muslim beriman kepada kenabian Nabi shallallahu alaihi wa sallam, ia sedang berpegang pada keyakinan yang kokoh sekokoh gunung yang teguh, dan keteguhannya bersumber dari kenyataan bahwa keyakinan itu dibangun di atas ilmu, dalil, dan bukti. Keadaannya tidaklah seperti mereka yang berkata: "Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami mengikuti jejak-jejak mereka." (Az-Zukhruf: 23). Mereka dan orang-orang semacam mereka telah menutup akal mereka dari merenungkan kebenaran dan bukti-buktinya, menyumbat telinga mereka dari mendengarnya, dan merasa cukup dengan tetap berada di tempat akal nenek moyang mereka dahulu tersesat. Al-Quran mengingkari kebekuan ini, mencelanya, dan mengajak mereka untuk menggunakan akal serta mengambil manfaat darinya. Allah berfirman: "Katakanlah: 'Seandainya Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak memberitahukannya kepadamu. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu begitu lama sebelumnya. Apakah kamu tidak berpikir?'" (Yunus: 16). Al-Quran pun mengajak kita untuk merenungkan bukti-bukti kenabian Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam banyak ayat: "Katakanlah: 'Aku hanya memberi nasihat kepadamu satu hal, yaitu hendaklah kamu berdiri karena Allah, berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian hendaklah kamu pikirkan: tidak ada penyakit gila sedikit pun pada temanmu itu. Ia tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan bagimu sebelum datangnya azab yang keras.'" (Saba': 46).
Kami akan memaparkan bukti-bukti yang menjadi saksi atas kenabian Nabi shallallahu alaihi wa sallam, guna memperkokoh keimanan orang-orang yang beriman dan membawa mereka dari taklid buta menuju bukti dan dalil yang nyata. Ini pun merupakan seruan kepada umat manusia yang masih belum mengenal Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam, dan belum mengetahui sisi-sisi keagungan dalam kehidupan dan dakwah beliau, seruan kepada mereka untuk mengenal Nabi yang mulia ini dan beriman kepadanya sebagai nabi dan rasul.
Bukti-bukti kenabian yang menjadi saksi atas kenabian Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam sangat beragam dan banyak jumlahnya, dan semuanya dapat dirangkum dalam enam bagian:
Pertama: Perkara-perkara gaib yang diberitahukan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan benar-benar terjadi, baik semasa hidupnya maupun setelah wafatnya, persis seperti yang beliau kabarkan. Termasuk dalam jenis ini pula adalah kemukjizatan ilmiah yang beliau sampaikan, yang kebenaran ilmiahnya telah diakui oleh ilmu pengetahuan eksperimental modern.
Kedua: Mukjizat-mukjizat inderawi yang Allah anugerahkan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, seperti melipatgandakan makanan, menyembuhkan orang sakit, dan terbelahnya bulan.
Ketiga: Bukti-bukti maknawi, seperti terkabulnya doa beliau, perlindungan Allah dari pembunuhan, dan meluasnya risalah beliau shallallahu alaihi wa sallam. Jenis bukti ini menunjukkan pertolongan dan kebersamaan Allah kepada beliau secara pribadi, lalu kepada dakwah dan agamanya. Allah tidak akan memberikan pertolongan semacam ini kepada seorang pendusta yang mengada-adakan kebohongan atas nama-Nya.
Adapun jenis keempat dari bukti-bukti kenabiannya shallallahu alaihi wa sallam adalah yang paling agung dan paling abadi, yaitu Al-Quran al-Karim, mukjizat Allah yang tidak akan lapuk dimakan waktu dan tidak akan habis sepanjang masa. Kitab ini adalah mukjizat yang kekal dan bukti yang terang-benderang berkat berbagai jenis kemukjizatan ilmiah, legislatif, dan bahasa yang Allah titipkan di dalamnya, serta berbagai sisi kemukjizatan lainnya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Tidak ada seorang nabi pun melainkan ia diberi tanda-tanda (mukjizat) yang dengannya manusia beriman. Sesungguhnya yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang Allah wahyukan kepadaku, maka aku berharap menjadi yang paling banyak pengikutnya pada hari kiamat."
Kelima dari jenis bukti kenabian adalah kabar dari nubuat-nubuat terdahulu dan kabar gembira tentang kedatangannya shallallahu alaihi wa sallam. Beliau adalah nabi yang Allah telah mengambil perjanjian dari para nabi untuk beriman kepadanya dan menolongnya saat beliau diutus: "Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: 'Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa Kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.' Allah berfirman: 'Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku itu?' Mereka menjawab: 'Kami mengakui.' Allah berfirman: 'Kalau begitu saksikanlah, dan Aku menjadi saksi bersamamu.'" (Ali Imran: 81).
Adapun jenis keenam dari bukti-bukti kenabian adalah akhlak Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan keadaan pribadinya yang menunjukkan kesempurnaan dan kenabiannya. Semua sifat dan kesempurnaan itu tidak mungkin terhimpun pada dirinya kecuali karena didikan Allah kepadanya, sebab Allah telah mendidiknya dengan sebaik-baik didikan.
Dalam kajian ini, saya membatasi pembahasan tentang bukti-bukti kenabian hanya pada riwayat-riwayat yang sahih sesuai syarat-syarat para ahli hadis, dan menahan pena dari riwayat yang lemah dan aneh yang telah membebani berbagai kitab sirah dan kitab-kitab dalail.
Saya tidak mengklaim telah menghimpun semua bukti-bukti ini secara tuntas. Bahkan, ada di antaranya yang sahih menurut saya namun saya tinggalkan karena sudah sangat dikenal atau karena alasan lain. Saya pun sengaja melewati banyak sisi kemukjizatan seperti kemukjizatan ilmiah dan bahasa, menyerahkannya kepada para ahli di bidangnya masing-masing.
Dalam semua itu, saya mencurahkan segenap kemampuan dengan harapan mendapat taufik dan bimbingan dari Allah.
Saya merasa gembira dapat mempersembahkan buku ini kepada khazanah perpustakaan Islam, di saat fitnah dan tuduhan dusta serta keraguan yang zalim terhadap pribadi beliau shallallahu alaihi wa sallam dan risalahnya semakin menjadi-jadi. Semoga buku ini dapat menunaikan sebagian kewajiban terhadap kekasih dan teladan kita shallallahu alaihi wa sallam. Allah-lah Pemilik segala taufik.