Deskripsi
Sesungguhnya hadits merupakan ilmu yang sangat agung dan mulia. Imam an-Nawawi رحمه الله berkata: “Ilmu hadits merupakan ilmu yang sangat mulia, sesuai dengan adab dan akhlak mulia. Dia termasuk ilmu akhirat, bukan ilmu dunia. Barang siapa yang diharamkan mendapatkan ilmu tersebut, berarti dia diharamkan meraih kebaikan yang banyak dan barang siapa yang diberi karunia memperolehnya, berarti dia mendapatkan keutamaan yang melimpah.”¹
Al-Hafizh Ibnul ‘Athar (murid Imam Nawawi) juga mengatakan²: “Sesungguhnya menyibukkan diri dengan hadits merupakan suatu hal yang sangat disukai oleh para pria sejati dan pemberani, dibenci oleh para penakut dan banci, ahli hadits selalu menang dan meraih pahala dan para musuhnya selalu kalah dan hina. Nabi ﷺ pernah mendo’akan kebaikan untuk mereka yang menyibukkan diri mempelajari hadits Nabi ﷺ:
نَضَّرَ اللهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا ثُمَّ أَدَّاهَا كَمَا سَمِعَهَا.
“Semoga Allah mencerahkan wajah seorang yang mendengar sebuah hadits dariku lalu dia menyampaikannya sebagaimana yang dia dengar.”³
Merekapun bangkit bersemangat mencari hadits dengan harapan meraih do’a Nabi Muhammad ﷺ tersebut serta berusaha menebarkan hadits seluas-luasnya. Imam Sufyan ats-Tsauri رحمه الله berkata: “Tidaklah seorang ahli haditspun kecuali di wajahnya terdapat kecerahan wajah sebagaimana do’a Nabi”. Imam Syafi’i رحمه الله juga berkata: “Bila aku melihat ahli hadits, seakan-akan saya melihat sahabat Nabi”.⁴
Pada kesempatan kali ini, kita akan mempelajari salah satu hadits Nabi ﷺ yang bisa mengingatkan kita kepada akhirat, menambah iman, serta memotivasi kita dalam beramal shalih, yaitu hadits tentang tujuh golongan yang kelak akan mendapatkan naungan Allah ﷻ di akhirat.
Para ulama kita telah memiliki perhatian khusus terhadap hadits ini, bahkan di antara mereka ada yang menulis kitab khusus tentangnya seperti Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Marifah Al Khishol Al Mushilah Ila Dhilal⁵, As Sakhawi dalam kitabnya Al Khishal Al Mujibah li Dhilal⁶, As Suyuthi dalam kitabnya Tamhid Al Farsy Fil Khishol Al Mujibah Li Dzilali Arsy dan ringkasannya Buzughul Hilal fil Khishol Al Mujibah Li Dzilal⁷, Syaikh Athiyyah Salim dalam kitabnya Fii Dhilali Arsyi Rahman. Dan lain sebagainya.
Semoga dengan kehadiran buku ini menjadi penyemangat bagi kita untuk mengamalkannya sehingga kita termasuk golongan yang kelak meraih naungan Allah di akhirat nanti.⁸
¹ Irsyaadul Thullabil Haqaiq (I/498)
² Tusaiyyat Al-Hafizh Ibnil ‘Aththor ad-Dimasyqi hlm. 15-16.
³ Mutawatir. Sebagaimana ditegaskan oleh as-Suyuthi dalam al-Azhar al-Mutanatsirah hal. 5, az-Zabidi dalam Luqathul Alai al-Mutanatsirah hal. 161-162, al-Kattani dalam Nadhmul Mutanatsir hal. 24, Syaih Abdul Muhsin al-Abbad dalam Dirasah Hadits Nadhdhara Allah Imra’am Sami’a Maqalati, Riwayah wa Dirayah 3/315. (Lihat pula Faidhul Qadir al-Munawi 6/284 dan Kifayatul Hafadzah Salim al-Hilali hal. 278-279)
⁴ Dikeluarkan Muhammad bin Thohir al-Maqdisi dalam kitab Al-‘Uluw wa Nuzul hlm. 45.
⁵ Kitab ini disebutkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 2/144 dan Inbaul Ghomr 3/62, As Sakhawi dalam Al Jawahir wa Durar dan Takhrij Ahadits Adilin 77. (Mu’jamul Mushannafat Al Waridhah fi Fahul Bari hlm. 398 oleh Syaikhuna Masyhur Hasan Salman).
⁶ Tercetak dengan tahqiq Amir Hasan bin Suhail Abdul Ghoffar, cetakan Jamiyyah Birr, Emirat.
⁷ Telah tercetak dengan tahqiq Syaikh Masyhur Hasan Salman, cetakan Dar Imam Muslim.
⁸ Asli buku ini adalah kajian penulis di Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima, Bekasi, kemudian ditranskip oleh Al Ustadz Zahir Abu Zaid حفظه الله, lalu kami koreksi dan tambahi beberapa faedah lagi.