Deskripsi
Allah telah menciptakan Adam alaihissalam dan mengutus beliau beserta keturunannya untuk memakmurkan bumi sesuai dengan manhaj Allah: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi" (Al-Baqarah: 30). Allah Tabaraka wa Ta'ala juga menyeru mereka untuk berpegang teguh pada petunjuk-Nya yang dikirimkan melalui para nabi-Nya: "Maka jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati" (Al-Baqarah: 38).
Allah dengan hikmah-Nya yang agung menghendaki agar manusia berbeda-beda dalam mengikuti nabi-nabi dan rasul-rasul-Nya; ada yang celaka dan ada yang bahagia. Allah mengutus para nabi untuk menegakkan hujah-Nya atas makhluk-Nya, menyeru mereka kepada agama Allah yang Dia ridai bagi makhluk-Nya agar mereka termasuk golongan yang bahagia, dan memperingatkan mereka dari kemaksiatan terhadap perintah-Nya agar mereka tidak termasuk golongan yang celaka. Namun pengutusannya itu tidak akan menghalangi terwujudnya apa yang telah terdahulu dalam ilmu Allah, sebab kebanyakan manusia tidak beriman: "Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman walaupun engkau sangat menginginkannya" (Yusuf: 103).
Di hadapan sunnatullah yang bersifat universal ini, seorang Muslim dituntut untuk mengajak orang lain kepada kebenaran
yang telah Allah lapangkan dadanya, dan ia yakin bahwa hidayah Allah mungkin tidak tertulis bagi banyak orang yang ia dakwahi. Namun hal itu tidak menghalanginya untuk menyampaikan: "Kewajibanmu hanyalah menyampaikan" (Asy-Syura: 48).
Ketika manusia berpaling dari seruan Allah dan tidak beriman kepadanya, seorang Muslim tidak berhenti berinteraksi dengan orang lain secara sosial dan peradaban, dengan Al-Qur'an sebagai pedoman dan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai teladan. Al-Qur'an memerintahkan berbuat baik kepada orang tua dan tetangga meskipun mereka bukan Muslim, dan mendorong untuk berbuat kebajikan serta bergaul dengan baik bersama mereka yang tidak memerangi kaum Muslimin dan tidak menyerang mereka. Demikian pula kehidupan beliau shallallahu alaihi wa sallam merupakan teladan dalam toleransi dan kerukunan bersama orang lain yang memilih kepercayaan dan agama yang berbeda.
Kini, di saat dunia telah menjadi sebuah desa kecil tempat bersilangnya kebudayaan melalui berbagai media, kebutuhan terhadap dialog semakin bertambah besar, begitu pula kebutuhan untuk meletakkan fondasinya secara syar'i. Para Muslim yang melakukannya sangat membutuhkan pengetahuan tentang dasar-dasar legalitasnya, etika-etikanya, dan hal-hal yang dilarang di dalamnya.
Sebagai kontribusi kami dalam bidang ini, kami persembahkan kepada pembaca budiman karya sederhana ini, yang kami harapkan mampu mengkaji secara ilmiah dan objektif persoalan yang pelik ini, yang telah banyak diperdebatkan antara pihak yang mendukung dengan antusias dan pihak yang menentang dengan penuh keraguan.
Ketika kami berbicara tentang dialog, kami sama sekali tidak bermaksud dialog yang dibangun di atas landasan penyatuan agama-agama, pencampuradukan, dan peleburannya dalam satu agama global baru yang berdiri di atas penggabungan hal-hal yang saling bertentangan — antara kekufuran dan keimanan, antara tauhid dan kemusyrikan. Seruan semacam itu adalah tipu daya yang bersembunyi di balik kata "dialog", dan seorang Muslim hendaknya menjauhkan diri darinya, sebagaimana akan kami jelaskan pada waktunya.
Rabithah Alam Islami merasa senang, dalam awal peluncuran forum internasionalnya untuk dialog peradaban, mempersembahkan kajian ini sebagai upaya yang diletakkan di hadapan para pegiat yang tulus yang peduli terhadap dialog dan berupaya untuk mensukseskannya.
Kami memohon kepada Allah agar menjadikan amal ini murni karena mengharap wajah-Nya yang mulia, sesungguhnya Dia yang berhak atas hal itu dan yang mampu melakukannya. Dan penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.