Cover buku Hari Terbaik Dalam Hidupmu karya Abu Yusuf bin Atmudin Al-Batahany
Diupload Oleh:admin
Tanggal Upload:
Dilihat:51 kali
Diunduh:18 kali

Hari Terbaik Dalam Hidupmu

Kategori:
Tahun Terbit:2026
Jumlah Halaman:20 halaman

Deskripsi

Banyak orang menganggap hari terbaik dalam hidupnya adalah hari ketika memperoleh pekerjaan impian, harta melimpah, pernikahan yang diinginkan, atau pencapaian yang lama diperjuangkan, dan kebahagiaan semacam itu tidaklah salah. Namun Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menegaskan bahwa hari terbaik dan paling utama bagi seorang hamba secara mutlak adalah hari ketika ia bertaubat kepada Allah dan Allah menerima taubatnya, berdasarkan sabda Nabi ﷺ kepada Ka’ab bin Malik, “Bergembiralah dengan hari terbaik yang pernah engkau lalui sejak ibumu melahirkanmu.” Seseorang yang bertahun-tahun hidup dalam kelalaian, menunda shalat, meremehkan perintah Allah, dan menikmati kemaksiatan, lalu pada suatu hari hatinya dibukakan sehingga menyadari kesalahan, menyesali dosa, dan kembali bersujud dengan kerendahan hati, mengalami hari yang mengubah arah kehidupannya. Sabda Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa dunia diberikan kepada orang yang dicintai maupun tidak dicintai Allah, tetapi iman hanya diberikan kepada yang dicintai-Nya, sehingga masa lalu yang kelam tidak lagi menjadi alasan terpuruk, melainkan pengingat agar tidak kembali ke jalan yang sama; kebahagiaan sejati terletak pada kedekatan dengan Rabb yang menciptakan, bukan pada banyaknya kenikmatan dunia.

QS. Az-Zumar: 53 menjadi kabar gembira bagi orang yang ingin kembali, sebab sebesar apa pun dosa yang pernah dilakukan, pintu taubat tetap terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat, dan justru karena banyaknya dosa seseorang semakin membutuhkan ampunan-Nya; hadis riwayat As-Silsilah Ash-Shahihah menegaskan bahwa seandainya dosa memenuhi langit dan bumi lalu seseorang meminta ampun, Allah akan mengampuninya. Taubat yang benar bukan sekadar istighfar di lisan, melainkan menuntut tiga perkara menurut Asy-Syaikh Hafizh Al-Hakami, yaitu berhenti dari dosa, menyesali perbuatan yang telah dilakukan, dan bertekad tidak mengulanginya, serta mengembalikan hak manusia yang berkaitan dengan dosa tersebut. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa dosa yang membahayakan adalah dosa yang tidak disertai taubat, sedangkan dosa yang disertai taubat bisa jadi membuat pelakunya lebih baik daripada sebelum terjatuh, dan sebaliknya rasa aman atas ketaatan hari ini tetap menuntut pertolongan Allah untuk istiqamah. Karena itu, penantian akan perbaikan ekonomi, selesainya masalah keluarga, atau terwujudnya impian tidak boleh melupakan kebahagiaan yang lebih berarti, yaitu taufik untuk meninggalkan dosa dan mencintai ketaatan. Taubat tidak perlu menunggu kesempurnaan diri, sebab hari terbaik bukanlah hari ketika dunia memberikan yang paling diinginkan, melainkan hari ketika Allah membimbing untuk meninggalkan apa yang Dia benci, berhenti membela dosa, menyesali kelalaian, dan memulai langkah baru menuju ketaatan, sebagaimana QS. At-Tahrim: 8 yang memerintahkan taubat yang semurni-murninya sebagai jalan penghapusan kesalahan dan masuknya seseorang ke dalam surga.

Komentar

Tinggalkan Komentar