Deskripsi
Banyak orang mampu memulai perjalanan menuju kebaikan dengan penuh semangat: hati mudah tersentuh nasihat, mata mudah menangis saat membaca ayat-ayat Allah, langkah terasa ringan menuju majelis ilmu, dosa mulai ditinggalkan, dan ibadah mulai dijaga. Namun perjalanan tidak selalu berjalan sesuai bayangan, sebab seiring waktu semangat dapat melemah, nasihat hanya berlalu di telinga, ibadah yang dahulu terasa nikmat mulai terasa berat, godaan kembali mengetuk, bahkan kehidupan lama mulai dirindukan. Di titik itulah perjuangan sesungguhnya dimulai, karena istiqamah bukan tentang seberapa indah permulaan, melainkan seberapa sungguh-sungguh perjuangan untuk tetap berada di jalan Allah ketika semuanya tidak lagi mudah. Memulai kebaikan terkadang hanya membutuhkan semangat sesaat, sedangkan mempertahankannya menuntut kesabaran, keikhlasan, dan pertolongan Allah sepanjang perjalanan, sebagaimana QS. Hud: 112 yang tidak hanya memerintahkan memulai kebaikan tetapi juga tetap berada di atasnya, dengan hawa nafsu yang harus dilawan, godaan yang harus dihindari, dosa yang harus ditinggalkan, dan ujian yang menuntut kesabaran.
Orang yang istiqamah bukanlah orang yang tidak pernah merasa malas, bersedih, atau tergoda, melainkan manusia biasa yang bisa lelah, mengalami futur, dan menghadapi pergolakan hati, namun tidak membiarkan dirinya hanyut ketika semangat melemah; ia berusaha bangkit, memperbaiki diri, dan kembali mendekat kepada Allah, menjaga shalat meski manisnya ibadah tidak lagi dirasakan, mencari nasihat yang melembutkan hati yang keras, serta tidak menjadikan dosa sebagai alasan untuk terus bermaksiat. Masa lalu yang penuh semangat tidak cukup untuk dibanggakan apabila hari ini mulai meninggalkan apa yang dahulu diperjuangkan, seperti majelis ilmu yang mulai ditinggalkan, kehati-hatian terhadap dosa yang berubah menjadi peremehan, dan rasa takut kehilangan hidayah yang berganti menjadi rasa aman dari fitnah. Karena tidak ada jaminan seseorang yang hari ini di atas ketaatan akan tetap demikian esok hari, keteguhan terus dimohonkan kepada Allah melalui doa Nabi ﷺ “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu”, sebab hati manusia berada di antara dua jari dari jari-jari Allah. Yang diminta bukan hanya awal yang baik, tetapi juga akhir yang baik, bukan sekadar pernah berada di jalan kebenaran, melainkan tetap berada di atasnya sampai kematian menjemput, sebagaimana peringatan Sulaiman bin Dawud rahimahullah bahwa yang lebih buruk dari kemiskinan setelah berkecukupan dan dosa dalam keadaan lemah adalah seseorang yang dahulu rajin beribadah kemudian meninggalkan ibadahnya.