Deskripsi
Ada masa ketika seseorang jauh dari Allah: shalat sering ditinggalkan, dosa terasa biasa, nasihat terdengar mengganggu, dan dunia dijadikan tujuan utama. Dengan rahmat-Nya, Allah memberi kesempatan mengenal kebenaran, sehingga hati yang lalai tersentuh nasihat, kaki mulai terbiasa mendatangi majelis ilmu, dan kehidupan yang dipenuhi kelalaian perlahan berubah menuju ketaatan. Sabda Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa Allah memberikan dunia kepada orang yang Dia cintai maupun tidak Dia cintai, tetapi iman hanya diberikan kepada orang yang Dia cintai, sehingga hidayah merupakan nikmat istimewa yang tidak dialami semua orang dan tidak boleh disia-siakan dengan kembali kepada kegelapan yang dahulu ditinggalkan. QS. Al-An’am: 153 memerintahkan mengikuti jalan Allah yang lurus dan menjauhi jalan-jalan lain yang mencerai-beraikan, sementara perjalanan ketaatan tetap menghadapi ujian berupa melemahnya semangat ibadah, beratnya menerima nasihat, panggilan lingkungan lama, dan godaan dosa, sebagaimana ditegaskan QS. Al-Baqarah: 214 tentang cobaan yang menimpa umat terdahulu sebelum datangnya pertolongan Allah.
Yang berbahaya bukan sekadar terjatuh dalam kemaksiatan, melainkan merasa nyaman di dalamnya dan enggan kembali, seperti semangat menghadiri majelis ilmu yang berganti menjadi penjauhan, penjagaan shalat yang berganti menjadi peremehan, dan kehati-hatian berbicara yang berganti menjadi ucapan sia-sia. Ilmu menuntut tanggung jawab dan dapat menjadi hujjah di hari kiamat apabila tidak diamalkan, sedangkan penundaan perbaikan diri dengan alasan masih muda tidak memiliki jaminan kesempatan. Karena itu, hidayah dijaga dengan memohon pertolongan Allah, memperbanyak doa seperti doa Nabi ﷺ “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu”, sebab hati manusia berada di antara dua jari dari jari-jari Allah. Langkah yang dianjurkan meliputi mendekat kepada orang saleh, menghadiri majelis ilmu, membaca Al-Qur’an, menjaga shalat, dan menjauhi lingkungan yang menyeret kepada kemaksiatan, tanpa merasa aman atas keadaan baik hari ini. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menegaskan keburukan menjual surga beserta kenikmatannya hanya untuk syahwat sesaat, QS. Ar-Ra’d: 11 menegaskan bahwa Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri sendiri, dan hadis riwayat Muslim menggambarkan dunia dibanding akhirat seperti jari yang dicelupkan ke lautan. Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menambahkan bahwa dunia hanya beberapa hari lalu lenyap, sehingga yang dituntut adalah kesabaran, istiqamah, dan penjagaan hidayah hingga akhir hayat, karena hidayah adalah nikmat yang harus dijaga, bukan sekadar kisah perubahan yang dibanggakan.