Deskripsi
Dunia hari ini (Maret 2026 / Romadhon 1447 H) sedang berada di persimpangan jalan yang sangat genting. Kabut asap peperangan seakan mulai menyelimuti ufuk, sementara dentuman meriam dan jeritan kaum tertindas di bumi Palestina terus memanggil nurani umat. Ketegangan geopolitik yang melibatkan faksi besar seperti Iran di satu sisi, serta Israel (Yahudi) yang didukung penuh oleh kekuatan Amerika dkk di sisi lain, bukan sekadar urusan perebutan wilayah atau sumber daya. Bagi seorang Muslim yang memahami bimbingan wahyu, ini adalah bagian dari rangkaian ujian besar yang telah dikabarkan oleh Rosululloh ﷺ. Kita melihat bagaimana negara-negara besar berkumpul dan bersekutu untuk memojokkan umat Islam, persis seperti yang digambarkan dalam sabda Nabi ﷺ dari Tsauban rodhiyallahu ‘anhu:
«يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا»، فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: «بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ»، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: «حُبُّ الدُّنْيَا، وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ»
“Hampir saja bangsa-bangsa lain mengerumuni kalian sebagaimana orang-orang yang lapar mengerumuni nampan berisi makanan.” Seseorang bertanya, “Apakah karena jumlah kami sedikit saat itu?” Beliau menjawab, “Bahkan kalian saat itu jumlahnya banyak, namun kalian ibarat buih di lautan. Sungguh, Alloh akan mencabut rasa segan dari hati musuh-musuh kalian, dan Alloh akan menanamkan penyakit wahn dalam hati kalian.” Seseorang bertanya lagi, “Wahai Rosululloh, apa itu wahn?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HSR. Abu Dawud no. 4297)
Kondisi ini menuntut kita untuk tidak hanya menjadi penonton yang panik atau sekadar pengamat politik yang menebak-nebak masa depan. Kita harus kembali kepada pegangan hidup yang abadi, yaitu Kitabulloh dan Sunnah Nabi ﷺ sesuai pemahaman para Salafush Sholih. Sungguh, tipu daya musuh setangguh apa pun tidak akan pernah mampu mengalahkan makar Alloh yang Maha Perkasa. Alloh mengingatkan kita agar jangan pernah merasa lemah atau berkecil hati menghadapi besarnya kekuatan materi yang dimiliki oleh musuh-musuh Islam, sebagaimana firman-Nya:
﴿وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾
“Janganlah kalian merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, karena kalianlah orang-orang yang paling tinggi kedudukannya jika kalian benar-benar beriman.” (QS. Ali ‘Imron: 139)
Gejolak perang yang melibatkan Palestina, Iran, dan sekutu-sekutu Barat hari ini adalah pengingat bahwa ketentraman dunia ini hanyalah sementara. Setiap Mu’min harus menyiapkan diri, baik secara mental, keimanan, maupun usaha nyata yang dibenarkan oleh syariat. Kita tidak boleh menutup mata terhadap usaha moderen dalam menjaga kedaulatan dan kekuatan, namun sandaran utama tetaplah kepada Sang Kholiq. Alloh telah menegaskan bahwa makar kaum kafir setinggi apa pun akan menemui kegagalan jika umat ini kembali kepada jalan-Nya:
﴿وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ﴾
“Mereka merencanakan tipu daya, dan Alloh juga membalas tipu daya mereka. Sungguh, Alloh adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Al-Anfal: 30)
Buku ini disusun untuk menjawab kegelisahan hati setiap Muslim: “Apa yang harus aku lakukan jika Perang Dunia 3 benar-benar pecah?” Jawaban dari pertanyaan ini tidak akan kita temukan di meja-meja runding para politisi yang haus kekuasaan, melainkan dalam untaian ayat-ayat suci dan wejangan Nabawi. Kita harus memahami bahwa setiap tetes darah yang tumpah di Gaza dan setiap jengkal tanah yang dirampas adalah ujian bagi persaudaraan Islam kita. Nabi ﷺ bersabda dari Nu’man bin Basyir rodhiyallahu ‘anhu:
«مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى»
“Perumpamaan orang-orang Mu’min dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim no. 2586 dan Al-Bukhori no. 6011)
Maka, bekal utama kita adalah ketaqwaan dan kesabaran. Tanpa keduanya, kepandaian strategi militer atau kecanggihan teknologi senjata tidak akan memberikan kemenangan yang hakiki.
Kemenangan itu turun bersama kesabaran, dan kelapangan itu hadir setelah kesempitan.
Kita tidak boleh terperangkap dalam keputusasaan melihat zholimnya kekuatan musuh, karena Alloh tidak pernah lalai terhadap apa yang mereka perbuat:
﴿وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ﴾
“Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa Alloh lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zholim. Sungguh, Alloh hanya menangguhkan mereka sampai hari di mana mata-mata terbelalak (karena melihat kedahsyatan adzab).” (QS. Ibrohim: 42)
Melalui risalah sederhana ini, kita akan membedah langkah demi langkah sikap yang harus diambil. Mulai dari pembersihan aqidah dari ketergantungan kepada makhluk, hingga langkah praktis dalam menyiapkan ketahanan pangan, mental, dan keamanan keluarga. Kita diajarkan oleh para Salaf untuk selalu siap siaga namun tetap tenang, bertawakkal namun tetap berikhtiar. Sebagaimana pesan Rosululloh ﷺ kepada Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma:
«وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ»
“Ketahuilah, sekiranya seluruh umat manusia bersatu untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Alloh tetapkan bagimu. Dan sekiranya mereka bersatu untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Alloh tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2516)
Inilah pondasi kita. Di tengah ancaman perang besar yang mungkin melibatkan senjata-senjata pemusnah massal dan keruntuhan ekonomi global, seorang Muslim tetap tegak berdiri. Dia tahu bahwa hidup dan matinya hanyalah untuk Alloh dan terserah Alloh, Robb semesta alam. Dia tidak gentar oleh gertakan manusia karena dia memiliki pelindung yang Maha Kuat. Alloh berfirman tentang sikap para Shohabat saat menghadapi kepungan musuh yang jumlahnya berkali-kali lipat:
﴿الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ﴾
“Yaitu orang-orang (Shohabat dalam perang Ahzab) yang ketika ada orang-orang (munafiq) berkata kepada mereka: ‘Sungguh, orang-orang (musuh) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, maka takutlah kepada mereka’, maka perkataan itu justru menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ‘Cukuplah Alloh bagi kami, dan Dia adalah sebaik-baik pelindung’.” (QS. Ali ‘Imron: 173)
Semoga tulisan ini menjadi panduan bagi kita semua agar tidak terombang-ambing dalam badai fitnah yang sedang melanda dunia. Kita memohon kepada Alloh keselamatan bagi kaum Muslim di Palestina dan di seluruh penjuru bumi, serta keteguhan iman saat menghadapi hari-hari yang penuh kegoncangan. Sungguh, hanya kepada Alloh kita memohon pertolongan dan hanya kepada-Nya kita kembali.