Cover buku Ketika Dai Tidak Kenal Mubtada Khobar karya Nor Kandir
Diupload Oleh:MS
Tanggal Upload:
Dilihat:253 kali
Diunduh:95 kali

Ketika Dai Tidak Kenal Mubtada Khobar

Kategori:
Tahun Terbit:2026
Jumlah Halaman:78 halaman
Penulis:Nor Kandir

Deskripsi

Agama Islam adalah agama ilmu yang diturunkan oleh Alloh ﷻ dengan landasan petunjuk yang terang benderang. Ilmu dalam Islam tidak berdiri di atas prasangka, retorika kosong, atau sekadar kepandaian menyusun kata-kata manis di hadapan khalayak. Keagungan ajaran Islam terpelihara melalui ikatan yang sangat kokoh dengan bahasa yang dipilih oleh Alloh ﷻ sebagai wadah wahyu-Nya, yaitu bahasa Arob. Seluruh sumber hukum utama Islam, baik Al-Qur’an maupun Al-Hadits, tersusun dalam kaidah bahasa Arob yang sangat teliti, indah, dan mendalam. Oleh karena itu, memahami bahasa Arob merupakan kunci utama dan syarat mutlak bagi siapa saja yang ingin menyelami ajaran Islam secara benar dan menyeluruh.

Realita pada zaman sekarang memperlihatkan gejala yang sangat memprihatinkan dalam panggung da’wah. Banyak bermunculan penceramah atau dai yang mengumpulkan ribuan jamaah dan menguasai panggung-panggung ceramah, namun mereka sangat fakir dari ilmu dasar agama, terutama ilmu alat seperti nahwu dan shorof. Mereka bahkan tidak mengenal susunan kalimat paling mendasar dalam bahasa Arob, seperti mubtada dan khobar. Ketidakpahaman terhadap kaidah dasar ini tidak menghalangi mereka untuk berbicara panjang lebar mengenai hukum-hukum agama, menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, serta mengutip Hadits-Hadits Nabi ﷺ. Bermodalkan gaya bicara yang memikat, intonasi suara yang mendayu-dayu, dan penguasaan panggung yang lihai, masyarakat awam dengan mudah terpesona dan menganggap mereka sebagai ulama besar yang patut diikuti.

Kerusakan yang ditimbulkan oleh fenomena ini sangat fatal. Ketika seorang dai tidak menguasai bahasa Arob, dia akan memotong dan merusak makna nash syari’at tanpa sadar. Fatwa-fatwa yang lahir dari lisan mereka sering kali menyimpang dari maksud syari’at yang sebenarnya. Lebih jauh lagi, jamaah yang mengekor di belakang mereka ikut terjerumus dalam kesesatan pemikiran dan amalan. Masyarakat awam tidak lagi mampu membedakan mana kebenaran yang berpijak pada keilmuan dan mana kesesatan yang ditutupi oleh indah cangkang retorika. Kebodohan yang dibungkus dengan kepandaian bersilat lidah menjadi fitnah besar yang menggerogoti sendi-sendi keagamaan umat. Alloh ﷻ telah menegaskan dalam Al-Qur’an tentang diturunkannya kitab suci ini dalam bahasa Arob:

﴿إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ قُرْءَٰنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ﴾

“Sungguh Kami menurunkan Al-Qur’an dengan bahasa Arob agar kamu memahami (yakni memahami agama dengan baik).” (QS. Yusuf: 2)

Pemahaman yang benar terhadap wahyu tidak akan pernah tercapai tanpa melalui pemahaman bahasa Arob yang menjadi mediumnya. Ketika seseorang mencoba memahami wahyu tanpa perangkat bahasa Arob, keterpelesetan adalah suatu kepastian. Nabi ﷺ juga telah memperingatkan umatnya dari bahaya para penceramah atau pemimpin yang tidak berilmu namun dijadikan rujukan oleh manusia:

«إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ»

“Sungguh di antara yang paling aku takuti atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.” (HSR. Abu Dawud no. 4252 dan At-Tirmidzi no. 2229)

Buku ini membedah bahaya dari penceramah yang hampa dari ilmu alat. Pembahasan buku ini memaparkan bagaimana keagungan bahasa Arob dalam Islam, celaan para Ulama Salaf terhadap orang yang berbicara agama tanpa dasar bahasa Arob, bahaya retorika tanpa keilmuan, hingga munculnya fenomena tokoh-tokoh karbitan di media sosial dan mimbar yang bertindak sebagai ruwaibidhoh. Harapannya, buku ini menjadi peringatan keras bagi umat agar tidak tertipu oleh penampilan luar dan kepandaian bicara semata, serta menjadi dorongan bagi para penuntut ilmu untuk kembali menduduki majelis-majelis keilmuan yang haq.

Komentar

Tinggalkan Komentar