Deskripsi
Ada masa ketika hati begitu bersemangat untuk berubah. Ayat-ayat Al-Qur'an terasa begitu menyentuh, nasihat para ulama membuat air mata jatuh, dan dosa-dosa masa lalu terasa begitu memalukan untuk dikenang. Salat mulai diperbaiki, maksiat ditinggalkan, majelis ilmu didekati, dan hidup mulai ditata di atas ketaatan kepada Allah.
Namun seiring berjalannya waktu, semangat itu terkadang mulai memudar. Salat yang dahulu dijaga dengan penuh perhatian mulai terasa berat. Al-Qur'an yang dahulu rutin dibaca mulai jarang disentuh. Majelis ilmu yang dahulu dinanti-nantikan mulai sering ditinggalkan. Bahkan sebagian dosa yang dahulu begitu ditakuti perlahan kembali dianggap biasa. Lalu hati bertanya, "Mengapa aku tidak lagi seperti dahulu?"
Ketahuilah, perjalanan hijrah bukan sekadar tentang indahnya permulaan, tetapi tentang kesungguhan untuk terus melangkah hingga akhir kehidupan. Ukuran keberhasilan bukan siapa yang paling cepat berubah, melainkan siapa yang terus berusaha berada di atas ketaatan kepada Allah. Allah berfirman:
"Maka istiqamahlah engkau sebagaimana yang diperintahkan." (QS. Hud: 112)
Allah tidak hanya memerintahkan untuk memulai kebaikan, tetapi juga memerintahkan agar istiqamah di atasnya. Sebab tidak sedikit orang yang begitu bersemangat di awal perjalanan, tetapi perlahan mundur ketika ujian datang, ketika lingkungan tidak mendukung, atau ketika manisnya ibadah tidak lagi dirasakan seperti dahulu.
Jangan Menunggu Semangat Datang
Jangan menunggu hati kembali bersemangat untuk melakukan ketaatan. Tetaplah salat meskipun terkadang hati terasa berat. Tetaplah membaca Al-Qur'an meskipun hanya beberapa ayat. Tetaplah menghadiri majelis ilmu meskipun rasa malas berulang kali membujuk untuk tetap di rumah.
Sebab ketaatan tidak selalu dilakukan ketika hati sedang bergairah; ada kalanya ibadah justru dikerjakan ketika sedang berjuang melawan diri sendiri. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Setiap amalan ada masa semangatnya, dan pada setiap masa semangat pasti ada masa lemahnya. Maka barangsiapa yang masa lemahnya tetap berada di atas Sunnahku, dia telah mendapatkan petunjuk; dan barangsiapa yang masa lemahnya kepada selain itu, dia telah binasa." (Shahihul Jami' no. 2152)
Jika Tergelincir Kembali dalam Dosa
Jangan biarkan setan membisikkan bahwa perjalanan telah berakhir.
Jangan berkata, "Aku sudah terlalu jauh. Percuma aku memperbaiki diri." Itu pintu keputusasaan yang harus ditutup rapat-rapat.
Segeralah bertobat, perbaiki kesalahan, dan terus lanjutkan perjalanan. Jatuh bukan alasan untuk memilih tetap terpuruk.
Rasulullah ﷺ sering membaca doa: "Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu." (HR. Ahmad no. 26679 dan At-Tirmidzi no. 3522)
Jika Rasulullah ﷺ saja memohon keteguhan hati, bagaimana dengan selain beliau yang begitu lemah, mudah terpengaruh keadaan, dan sering kalah oleh hawa nafsu?
Jangan hanya sibuk mengingat masa ketika semangat hijrah begitu membara. Mintalah kepada Allah agar Dia meneguhkan hati hari ini, esok, dan hingga akhir hayat. Perbaiki hubungan dengan Allah, pilih lingkungan yang membantu ketaatan, dekatilah orang-orang saleh, dan jangan menjauh dari ilmu ketika hati mulai terasa kering.
Meredupnya Semangat adalah Ujian
Meredupnya semangat bukan berarti harus meninggalkan ketaatan. Justru pada saat itulah kesungguhan sedang diuji: apakah beribadah hanya ketika hati merasa nyaman, atau tetap melangkah karena tahu bahwa Allah adalah Rabb yang wajib disembah dalam keadaan lapang maupun sempit?
Jangan sampai begitu bersungguh-sungguh memperbaiki diri pada awal hijrah, tetapi perlahan kembali kepada kebiasaan lama hingga akhirnya kehilangan arah. Dunia ini terlalu singkat untuk terus-menerus mengulang kesalahan yang sama tanpa kesungguhan memperbaikinya.
Jika hari ini semangat hijrah mulai memudar, jangan menyerah. Kurangi kelalaian, perbarui tobat, kuatkan kembali langkah, dan mintalah pertolongan kepada Allah. Tidak harus menunggu menjadi sempurna untuk kembali berjalan — hanya perlu terus berusaha taat, setiap kali terjatuh kembali bangkit, dan tidak berhenti memohon keteguhan sampai kematian datang menjemput.
Sebab yang paling menyedihkan bukanlah ketika semangat itu melemah, melainkan ketika seseorang membiarkan dirinya menjauh dari Allah tanpa lagi berusaha untuk kembali.
Obat bagi Hati yang Lemah
Termasuk obat yang paling bermanfaat adalah menyibukkan diri dengan memikirkan hal yang bermanfaat dan menjauhkan diri dari memikirkan hal yang tidak bermanfaat. Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata:
"Obat yang paling bermanfaat adalah menyibukkan diri dengan memikirkan hal-hal yang bermanfaat bagimu dan meninggalkan apa yang tidak bermanfaat. Karena memikirkan hal yang tidak bermanfaat adalah pintu segala keburukan. Barang siapa memikirkan apa yang tidak bermanfaat baginya, niscaya ia akan kehilangan hal yang sebenarnya bermanfaat, dan ia pun tersibukkan dari perkara paling berguna baginya dengan sesuatu yang tidak ada manfaatnya sama sekali." (Al-Fawa'id, hlm. 256)
Sabarlah untuk terus dan senantiasa menghambakan diri kepada Rabbul 'Izzah hingga mudah-mudahan mencapai jannah. Ada seorang lelaki bertanya kepada Imam Ahmad rahimahullah, "Kapankah seorang hamba bisa merasakan lezatnya beristirahat?" Beliau menjawab, "Ketika dia pertama kali melangkahkan kakinya di surga." (Thabaqat al-Hanabilah 1/291)