Deskripsi
Ada orang yang dahulu bergelimang dalam dosa, kemudian Allah memberinya hidayah. Ia mulai menjaga salat, meninggalkan maksiat, mempelajari agama, dan berusaha mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ. Namun di tengah perjalanan itu ada bahaya yang terkadang tidak disadarinya: ketika ia mulai melihat dirinya lebih baik daripada orang lain dan merendahkan mereka.
Dahulu ia menangis ketika mengingat dosa-dosanya, tetapi kini mudah merendahkan dan mengolok-olok orang yang masih terjatuh dalam dosa serupa. Dahulu ia merasa begitu membutuhkan hidayah Allah, tetapi kini memandang orang lain seolah tidak pantas mendapatkannya. Ia sibuk memperhatikan kekurangan manusia dan memandang mereka dengan rendah, tetapi lupa bahwa dirinya sendiri masih penuh kekurangan.
Memperbaiki diri adalah sebuah nikmat. Namun merasa diri lebih baik daripada orang lain adalah penyakit hati yang harus diwaspadai. Allah berfirman:
"Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa." (QS. An-Najm: 32)
Jangan Tertipu oleh Amal yang Terlihat
Jangan tertipu oleh banyaknya amal yang tampak. Panjangnya bacaan Al-Qur'an, rajinnya menghadiri majelis ilmu, banyaknya hafalan, atau luasnya pengetahuan agama bukan alasan untuk merasa lebih mulia daripada orang lain.
Semua itu adalah nikmat yang seharusnya membuat semakin bersyukur, semakin takut kepada Allah, dan semakin menyadari besarnya tanggung jawab atas ilmu yang telah dipelajari.
Engkau mengetahui keadaan dirimu sendiri, tetapi tidak mengetahui seluruh isi hati orang lain. Engkau mungkin melihat seseorang masih melakukan kesalahan, tetapi tidak mengetahui pergulatan batinnya, air matanya ketika bersendirian, atau kesungguhannya memohon ampun kepada Allah.
Bisa jadi ia sedang berjuang melawan kelemahan yang tidak pernah engkau ketahui.
Menolak Kebatilan Bukan Berarti Merendahkan Pelakunya
Bukan berarti kita membenarkan kemaksiatan atau membiarkan kemungkaran tanpa nasihat. Kebenaran tetap harus dijelaskan, kesalahan tetap harus diluruskan, dan manusia tetap perlu saling menasihati. Akan tetapi, menolak kebatilan tidak mengharuskan kita merendahkan pelakunya, dan mengajak orang lain kepada kebaikan tidak menjadikan kita berhak merasa paling baik.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13)
Kemuliaan di sisi Allah tidak ditentukan oleh penilaian manusia, popularitas, penampilan kesalehan semata, ataupun pengakuan diri. Allah-lah yang mengetahui hakikat ketakwaan seorang hamba. Karena itu, semakin seseorang mengenal agamanya, seharusnya semakin besar rasa takutnya jika amalnya tidak diterima, dan semakin kuat keinginannya memperbaiki kekurangan dirinya.
Jangan Sampai Nikmat Menjadi Bencana
Jangan sampai hijrah membuat merasa lebih tinggi, padahal seharusnya hijrah mengajarkan untuk semakin tunduk kepada Allah.
Jangan sampai ilmu membuat mudah mencela, padahal ilmu semestinya membimbing untuk berbicara dengan benar dan bersikap adil.
Jangan sampai sunnah yang dipelajari menjadi alasan merendahkan manusia, padahal mengikuti sunnah juga menuntut memperbaiki akhlak dan menjaga lisan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarrah." (HR. Muslim no. 91)
Seseorang berkata, "Sesungguhnya seseorang senang jika pakaiannya bagus dan sandalnya bagus." Beliau ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan. (Akan tetapi) kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia." (HR. Muslim no. 91)
Perhatikanlah, kesombongan bisa menyusup ke dalam hati seseorang yang sedang menuntut ilmu dan memperbaiki ibadahnya: merasa dirinya lebih mulia, sulit menerima nasihat, dan memandang rendah orang yang berbeda keadaan dengannya.
Arahan Praktis
Ketika Allah memberi hidayah, jangan gunakan nikmat itu untuk meninggikan diri di hadapan manusia, tetapi gunakanlah untuk semakin mendekat kepada-Nya.
Ketika melihat orang lain melakukan kesalahan, bersyukurlah karena Allah masih memberi kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri, lalu nasihatilah dengan ilmu dan kebijaksanaan jika memang diperlukan.
Ketika melihat seseorang yang belum memahami apa yang telah dipahami, jangan buru-buru merasa lebih unggul. Bisa jadi engkau memiliki ilmu yang belum ia miliki, tetapi ia memiliki keikhlasan atau amal saleh yang belum engkau capai.
Kita tidak mengetahui bagaimana akhir kehidupan setiap orang, dan kita sendiri belum mengetahui bagaimana akhir kehidupan kita.
Teruslah memperbaiki diri, tetapi jangan merasa diri paling baik. Teruslah menuntut ilmu, tetapi jangan merasa telah mengetahui segalanya. Teruslah mengajak kepada sunnah, tetapi jangan biarkan hati dipenuhi kesombongan.