Cover buku Musibah Wafatnya Dai Sunnah karya Nor Kandir
Diupload Oleh:MS
Tanggal Upload:
Dilihat:237 kali
Diunduh:58 kali

Musibah Wafatnya Dai Sunnah

Kategori:
Tahun Terbit:2026
Jumlah Halaman:80 halaman
Penulis:Nor Kandir

Deskripsi

Sesungguhnya ni’mat yang paling agung setelah hidayah Iman dan Islam adalah ni’mat ilmu syar’i yang dibawa oleh para warotsatul anbiya (pewaris para Nabi). Keberadaan para Dai Sunnah di tengah ummat laksana bintang-bintang di langit yang menyinari kegelapan malam, memberikan arah bagi musafir yang tersesat, dan memberikan ketenangan bagi jiwa yang dahaga akan kebenaran. Namun, sebuah ketetapan yang pasti adalah bahwa setiap jiwa akan merasakan maut, dan dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara menuju kampung Akhiroh.

﴿كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوفَنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ﴾

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Dan sesungguhnya pada Hari Qiyamah sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari Naar dan dimasukkan ke dalam Jannah, sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imron: 185)

Wafatnya seorang dai yang menyerukan Sunnah bukanlah sekadar hilangnya satu nyawa, melainkan sebuah lubang besar dalam benteng pertahanan Islam. Hal ini merupakan musibah yang sangat berat bagi ummat, karena dengan wafatnya mereka, satu per satu cahaya ilmu padam dari muka bumi. Ilmu tidak dicabut dengan cara dihilangkan dari dada manusia, melainkan dengan diwafatkannya para ulama yang membawanya. Ketahuilah bahwa wafatnya seorang ahli ilmu merupakan kerugian yang tidak dapat digantikan, karena mereka adalah penjaga wahyu dan penjelas syariat dari penyimpangan orang-orang yang berbuat zholim dan bid’ah.

﴿أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الْأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا ۚ وَاللَّهُ يَحْكُمُ لَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ ۚ وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ﴾

“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Alloh menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dialah yang Maha Cepat hisab-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 41)

Ibnu Abbas menafsirkannya:

خَرَابُهَا بِمَوْتِ عُلَمَائِهَا وَفُقَهَائِهَا وَأَهْلِ الْخَيْرِ مِنْهَا

“Maksud (mengurangi bumi dari tepi-tepinya) adalah dengan wafatnya para ulama, para ahli fikihnya, dan orang-orang baik di dalamnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/406)

Tanpa mereka, manusia akan kehilangan penuntun dalam kegelapan syubhat dan syahwat. Maka, merupakan sebuah keharusan bagi setiap Muslim untuk segera mengambil faidah dan ilmu dari mereka selagi ruh masih di kandung badan, sebelum pintu ilmu tertutup dengan kepergian mereka. Kesempatan untuk tholabul ilmi di hadapan para Dai Sunnah adalah ni’mat yang tidak boleh disia-siakan, karena penyesalan selalu datang terlambat ketika sang guru telah kembali ke haribaan Robb-nya.

Komentar

Tinggalkan Komentar