Deskripsi
Buku ini disusun untuk menyingkap tabir sejarah yang sering kali tertutup oleh kabut التقية (taqiyyah: menyembunyikan identitas atau keyakinan yang sebenarnya). Sejarah umat Islam tidak hanya berisi kegemilangan futuhat (pembukaan wilayah baru) dan kemajuan peradaban, namun juga menyimpan catatan perih tentang pengkhianatan yang dilakukan dari dalam tubuh umat itu sendiri. Pengkhianatan yang dilakukan oleh kelompok Syiah bukanlah sekadar peristiwa politik yang berdiri sendiri, melainkan konsekuensi logis dari sebuah bangunan Aqidah yang telah mereka sepakati dalam kitab-kitab rujukan utama mereka.
Alloh ﷻ telah memperingatkan tentang karakter para perusak di muka bumi dalam firman-Nya:
﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ﴾
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqoroh: 11-12)
Mendasari setiap gerak-gerik mereka adalah keyakinan bahwa siapa saja yang tidak mengimani Imamah 12 imam maka ia telah kafir. Mereka memandang Ahlus Sunnah bukan sebagai saudara, melainkan sebagai Nawaashib yang najis dan halal darah serta hartanya. Prinsip inilah yang menjadi motor penggerak bagi mereka untuk lebih memilih bersekutu dengan musuh-musuh luar seperti Tatar, Franja (Prancis, Salib), maupun penjajah modern, daripada berdiri tegak membela kedaulatan umat Islam.
Nabi ﷺ telah memperingatkan tentang haromnya tindakan ghodar (khianat) dalam sabdanya:
«أَيُّمَا مُؤْمِنٍ أَمَّنَ مُؤْمِنًا عَلَى دَمِهِ فَقَتَلَهُ، فَأَنَا مِنَ الْقَاتِلِ بَرِيءٌ»
“Siapa dari Mu’min yang memberi jaminan keamanan kepada Mu’min lainnya atas darahnya kemudian dia justru membunuhnya (mengkhianatinya), maka aku berlepas diri dari si pembunuh.” (HSR. Ahmad no. 21947)
Betapa besarnya dosa pengkhianatan yang dilakukan terhadap saudara seiman yang sedang berjihad membela agama Alloh ﷻ.
Melalui lembaran buku ini, kita akan menelusuri bagaimana pengkhianatan itu bermula dari masa Ali bin Abi Tholib (40 H) rodhiyallahu ‘anhu, berlanjut pada tragedi Karbala yang menimpa Husain (61 H) rodhiyallahu ‘anhu, hingga kolaborasi hitam antara Ibnul ‘Alqomi (656 H) dan Nashiruddin Ath-Thusi (672 H) yang meruntuhkan Baghdad di bawah telapak kaki Tatar.
Buku ini merupakan amanah ilmiah untuk mengingatkan umat agar tidak jatuh ke dalam lubang yang sama berulang kali. Memahami sejarah pengkhianatan ini adalah langkah awal untuk menjaga kemurnian Sunnah dan keutuhan umat dari makar yang senantiasa mengintai di setiap zaman. Semoga Alloh ﷻ senantiasa menjaga negeri-negeri kaum Muslimin dari fitnah Rofidhoh yang khobits (buruk) dan menghimpun kita semua di atas kebenaran.