Cover buku Prinsip-Prinsip Menuju Allah Ta‘ala karya Abu al-'Ala Muhammad bin Husain bin Ya'qub as-Salafi al-Mishri
Diupload Oleh:admin
Tanggal Upload:
Dilihat:397 kali
Diunduh:64 kali

Prinsip-Prinsip Menuju Allah Ta‘ala

Kategori:
Tahun Terbit:2025
Jumlah Halaman:297 halaman
Penerbit:QantaraLit

Deskripsi

Perjalanan Menuju Allah: Fondasi dan Dasar-Dasar

Perjalanan menuju Allah Ta'ala memiliki dasar-dasar dan aturan-aturan yang jelas. Mereka yang menempuh jalan ini adalah yang terpilih dari makhluk Allah. Sebagaimana Allah berfirman: "Maka di antara mereka ada yang menganiaya diri sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada yang berlomba-lomba dalam kebaikan dengan izin Allah. Itulah karunia yang amat besar." (Fathir: 32).

Seperti halnya perjalanan fisik memerlukan tanda-tanda petunjuk, peta, dan isyarat-isyarat untuk menjelaskan tahapan dan menangkal bahaya, demikian pula musafir (penjalan) menuju Allah memerlukan nasihat-nasihat dan peringatan-peringatan yang merupakan isyarat bersinar di jalan panjangnya, melindunginya dari kejahatan tikungan-tikungan.

Perjalanan ini menuntut ilmu suluk (perilaku spiritual) yang sangat penting dan berbahaya. Ini bukan semata-mata tentang perayaan emosional, tetapi disiplin ilmiah yang terstruktur untuk mencapai kedekatan dengan Allah.

Dua Kekuatan Essential: Ilmiah dan Praktis

Menurut Ibnu al-Qayyim dalam "Thariq al-Hijratain," setiap musafir menuju tujuan—baik menuju Allah maupun negeri akhirat—tidak akan sempurna perjalanannya kecuali dengan dua kekuatan:

Kekuatan Ilmiah (العلمية)

Dengan kekuatan ilmiah, musafir melihat tempat-tempat perjalanan, posisi-posisi jalan, dan menghindari sebab-sebab kebinasaan serta jalan-jalan menyimpang. Kekuatan ilmiahnya bagaikan cahaya besar yang ia pegang ketika berjalan di malam gelap. Cahaya ini mengungkapkan dua hal: tanda-tanda jalan dan bahaya-bahayanya. Tanpa ilmu ini, musafir akan tersesat di antara lembah-lembah, tempat-tempat berbahaya, dan batu-batu kegelapan.

Kekuatan Praktis (العملية)

Dengan kekuatan praktis, musafir benar-benar berjalan dan melaksanakan amal shalih. Perjalanan adalah amal musafir. Jika ia hanya melihat jalan tanpa menapaknya, maka separuh dari kebahagiaannya belum terpenuhi. Ia harus meletakkan tongkatnya dan bersiap sebagai musafir sungguhan, memotong tahap demi tahap, merasakan kedekatan dari tujuan hingga ringan baginya kesulitan perjalanan.

Keseimbangan dan Harmoni Keduanya

Perjalanan menuju Allah ditempuh dengan hati, bukan dengan kaki. Ia adalah jalan panjang yang telah ditempuh oleh orang-orang terpilih terbaik dari sebaik-baik makhluk Allah sepanjang masa. Namun di zaman kita, jalan ini telah menjadi tidak dikenal bagi kebanyakan manusia karena berpaling darinya atau bahkan menghindarnya.

Penting untuk memahami bahwa ilmu pengetahuan agama—akidah, fikih, tafsir, sirah, hadits—adalah bagian integral dari perjalanan menuju Allah, bukan penghalang baginya. Kesalahpahaman bahwa musafir tidak perlu menuntut ilmu muncul dari keadaan kaum sufi yang keliru. Tetapi dalam pendekatan yang benar, menuntut ilmu adalah dasar menuju kesempurnaan dan tidak pernah berpisah dari musafir.

Harus ada urutan yang jelas: ilmu sebelum perkataan dan amal. Jika tidak, maka kesatan dan kegagalan. Dengan kekuatan ilmiah, seseorang memperoleh pemahaman; dengan kekuatan praktis, seseorang memulai pelaksanaan ilmu itu dalam kenyataan. Dan antara keduanya harus terdapat keseimbangan dan keselarasan, sebab jika tidak, akan terjadi kebinasaan dan kesesatan dari jenis yang lain.

Tiga Kategori Manusia

Ibnu al-Qayyim membagi manusia menjadi tiga kategori berdasarkan kepemilikan kedua kekuatan ini:

Kategori Pertama: Kekuatan Ilmiah Dominan

Ada yang memiliki kekuatan ilmiah yang kuat—ia belajar, mengenal jalan dengan baik, memahami tanda-tanda dan bahaya—namun lemah dalam kekuatan praktis (amal). Dia melihat hakikat-hakikat tetapi tidak mengamalkan konsekuensinya. Ia melihat bahaya dan tempat-tempat rusak tetapi tidak menghindarinya. Dia adalah seperti seorang ulama yang berpengetahuan luas tetapi tidak mempraktikkannya—menjadi munafik yang berpengetahuan tentang kemunafikannya. Seperti dalam ayat Al-Qur'an: "Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal." (al-Jumu'ah: 5).

Kategori Kedua: Kekuatan Praktis Dominan

Ada pula yang memiliki kekuatan praktis kehendak yang kuat—antusias dalam beribadah, bersungguh-sungguh dalam amal, berzuhud dari dunia—namun buta matanya terhadap ilmu. Dia tidak memiliki cahaya untuk melihat jalan dengan benar. Ketika datang syubhat dalam akidah atau penyimpangan dalam amal, dia buta menghadapinya. Penyakit ini adalah keadaan kebanyakan ahli fakir dan tasawuf yang berjalan bukan berdasarkan ilmu, melainkan berdasarkan dzauq (perasaan), wujud (kehadiran), dan kebiasaan semata. Mereka menyembah Allah dengan cara-cara yang tidak memiliki dasar dalam agama, bahkan dengan cara-cara yang dibuat oleh para orang yang sok pintar atau sekadar mengikuti hawa nafsu mereka. Ini menciptakan kesesatan dan bid'ah yang tidak terhitung.

Kategori Ketiga: Seimbang (الكمال)

Yang terbaik adalah mereka yang memiliki kedua kekuatan ini: kekuatan ilmiah yang mencerahi jalan mereka, dan kekuatan praktis yang menggerakkan mereka untuk berjalan sungguhan. Bagi mereka, lurus perjalanannya menuju Allah Ta'ala, dan diharapkan tembusnya serta kuatnya menolak penghalang-penghalang dan pembatas-pembatas dengan pertolongan Allah.

Peringatan Terhadap Sufisme Menyimpang

Kesalahpahaman umum berkembang karena kebodohan tentang arti sejati dari "musafir," "jalan," dan "suluk." Banyak yang mengaitkan istilah-istilah ini dengan sufisme tradisional yang penuh bid'ah. Padahal ini adalah penyimpangan dari makna sejati. Sufisme yang menyimpang muncul karena:

  1. Kebodohan dan berpaling dari ilmu syariat

  2. Puas diri dengan latihan-latihan spiritual tanpa landasan ilmu

  3. Mengikuti hawa nafsu dan kebiasaan semata

  4. Tidak mengenal syariat dan agama yang diutus kepada rasul-rasul dan diturunkan dalam kitab-kitab

Keadaan mereka itu adalah kebutaan—mereka buta dari Rabb mereka, dari syariat-Nya, dan dari agama-Nya. Mereka tidak mengenal sifat-sifat Allah yang Dia perkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya melalui lisan rasul-rasul-Nya.

Penekanan pada Metodologi yang Terstruktur

Pendekatan yang benar adalah metodologi yang jelas dan terstruktur dengan tahapan-tahapan dalam semua cabang ilmu: akidah, fikih, tafsir, sirah, hadits, dan lainnya. Kedua manhaj (metode)—metode untuk ilmu dan metode untuk ibadah serta amal—harus berjalan pada waktu yang sama, dengan pemantauan atas keduanya dan ada pentahapan di dalamnya hingga tercapai kesempurnaan.

Ilmu harus mendahului amal. Jika tidak ada landasan ilmiah, maka kesungguhan dalam amal justru akan menjerumuskan seseorang dalam bid'ah, penyimpangan, dan kesesatan. Karena itu, yang paling giat dalam ibadah tanpa ilmu sangat rentan untuk salah dan melakukan bid'ah.

Prinsip untuk Perjalanan Sukses

Beberapa prinsip pokok dalam perjalanan menuju Allah:

  1. Disiplin dan Syukur: Jika Anda menempuh jalan ini, bergembiralah tetapi berdisiplinlah dan bersyukurlah agar tidak diusir.

  2. Kesadaran sebagai Musafir: Rasakan makna bahwa Anda adalah musafir dan pengembara. Semboyan Anda di dunia adalah: "Apa urusanku dengan dunia, aku hanyalah seperti pengembara."

  3. Kilasan Cahaya: Syarat-syarat dan prinsip-prinsip ini adalah "kilasan pertama yang menerangi jalan" sehingga bersinar dengannya, maka mudahlah perjalanan menuju Allah, insya Allah.

  4. Konsistensi: Baik kekuatan ilmiah maupun praktis harus berjalan secara selaras dan konsisten, bukan yang satu mendominasi yang lain.


Kesimpulan: Perjalanan menuju Allah memerlukan kekuatan ilmiah (pengetahuan yang jelas dari Al-Qur'an dan Sunnah) dan kekuatan praktis (amal nyata dan konsistensi) yang seimbang dan harmonis. Hanya dengan keseimbangan ini seorang musafir dapat mencapai tujuannya dengan aman dan selamat, menghindari jalan-jalan sesat yang mengakibatkan bid'ah dan kesesatan.


Diterjemahkan oleh: Muhamad Abid Hadlori

Komentar

Tinggalkan Komentar