Deskripsi
Langkah awal dalam meniti jalan petunjuk adalah ni’mat terbesar yang Alloh anugerahkan kepada seorang hamba. Ketika seseorang telah dibukakan hatinya untuk mengenal Sunnah dan kebenaran, semestinya rasa syukur itu diwujudkan dengan beramal sholih, menuntut ilmu yang bermanfaat, serta menjaga kebersihan jiwa dari segala penyakit yang dapat merusaknya. Namun, perjalanan meniti jalan yang lurus tidaklah lepas dari godaan dan fitnah. Salah satu fitnah terbesar yang sering kali menyusup tanpa disadari adalah dorongan untuk senantiasa berbantah-bantahan dan berdebat dalam urusan agama. Betapa banyak orang yang dahulunya berada di atas jalan petunjuk, memiliki kelembutan hati dan semangat beribadah, namun perlahan-lahan kehilangan manisnya iman dan kelezatan ilmu hanya karena menyerahkan dirinya pada perdebatan. Perdebatan dalam urusan agama bukanlah sarana utama untuk meraih kebenaran, melainkan kerap menjadi pintu masuk bagi syaithon untuk menanamkan ujub, kesombongan, keinginan untuk unggul di hadapan manusia, serta pamer kehebatan. Ketika niat mengajar atau membela kebenaran telah tercemar oleh ambisi mengalahkan lawan, maka saat itulah ilmu tidak lagi memancarkan cahayanya, melainkan berubah menjadi tumpukan hujjah yang akan memberatkan pemiliknya di Hari Qiyamah.
Ahli bid’ah dan orang-orang yang melenceng dari jalan Salafus Sholih memiliki karakter khas yang sangat menonjol, yaitu kegemaran mereka dalam memancing perselisihan dan mengutarakan syubhat. Mereka tidak mencari kebenaran dengan dada yang lapang, melainkan mencari kemenangan opini, mencari pamor, serta merusak kemurnian ajaran agama dengan logika-logika yang diada-adakan. Menghadapi kelompok seperti ini dengan cara melayani perdebatan mereka di ruang publik maupun majelis-majelis pertemuan sering kali tidak mendatangkan kebaikan, melainkan hanya membuang waktu, melahirkan dendam, serta mengerasnya hati.
Kewajiban seorang Mu’min yang menginginkan keselamatan agama dan hatinya adalah menyampaikan haq secara lugas, terang, dan santun sebagaimana yang diajarkan oleh Rosululloh ﷺ dan para Shohabat. Apabila kebenaran tersebut diterima, maka itu adalah karunia dan rohmat dari Alloh. Namun apabila ditolak, seorang Mu’min tidak dibebani kewajiban untuk memaksa atau memuaskan dahaga perdebatan lawan bicaranya, sebab masih sangat banyak masyarakat awam yang merindukan bimbingan dan bersedia menerima kebenaran tanpa harus lalu-lalang dalam percekcokan kata-kata.
Buku ini disusun sebagai peringatan tajam sekaligus penawar bagi jiwa yang rindu akan ketenangan ilmu dan kesucian hati. Buku ini menelusuri akar permasalahan perdebatan hingga jalan keluar yang dicontohkan oleh para pendahulu ummat yang sholih. Bahasan diawali dengan membedah hakikat debat dalam din, memisahkan antara penjelasan haq yang diperintahkan dengan jidal yang dicela, serta menyingkap motif-motif tersembunyi seperti pamer dan kesombongan. Selanjutnya, uraian berpindah pada penyingkapan tabiat ahli bid’ah yang menjadikan perdebatan sebagai alat untuk menjebak dan meraih panggung di hadapan awam. Buku ini kemudian menghadirkan petunjuk eksplisit dari Salafus Sholih tentang bagaimanakah sikap tegas namun bijaksana dalam menghadapi ahli debat, termasuk larangan duduk di majelis mereka dan bagaimana cara menyikapi masyarakat awam. Pada bagian berikutnya, dipaparkan dampak kerusakan akibat perdebatan terhadap pribadi dan ikatan silaturrohim antar sesama Mu’min. Sebagai penutup dari serangkaian bahasan, buku ini menyajikan bimbingan praktis mengenai jalan keselamatan, yaitu dengan mencukupkan diri pada atsar, ridho terhadap ilmu para Salaf, dan senantiasa memohon ketetapan hati kepada Alloh tabaroka wa ta’ala. Semoga lembaran-lembaran ini menjadi petunjuk yang menerangi jalan bagi siapa saja yang ingin selamat dari jurang kesesatan setelah datangnya petunjuk.