Deskripsi
Mengajar adalah salah satu medan dakwah kepada Allah yang paling penting, apa pun mata pelajaran dan jenjang yang diampu. Guru berilmu yang mengamalkan dan mengajarkan ilmunya adalah orang rabbani yang menempuh jalan Rasulullah ﷺ dan para pengikutnya, yaitu berdakwah dengan ilmu dan bashirah. Siswa hari ini adalah pemimpin masyarakat di masa dekat, sehingga bila mereka diarahkan kepada iman dan semangat beramal, masyarakat akan terbebas dari nifak, kolusi, suap, dan memperturutkan syahwat. Bidang pengajaran juga lahan yang paling subur karena guru berhubungan terus-menerus dengan siswa selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, sehingga mampu mempengaruhi mereka dengan kata dan perilaku baik. Pahala yang dijanjikan pun besar: siapa menunjukkan kepada kebaikan mendapat pahala seperti pelakunya, siapa menyeru kepada petunjuk mendapat pahala seperti pahala para pengikutnya, dan petunjuk bagi satu orang lebih baik daripada unta merah. Guru adalah pemimpin yang akan ditanya tentang yang dipimpinnya, sehingga tidak boleh bersikap penonton ketika di lembaga pendidikan ada guru yang menyebarkan ateisme, wakil kepala yang menghalangi shalat berjamaah, pimpinan yang melarang kegiatan Islami, atau tenaga pengajar yang membuka aurat dan memberi teladan buruk — sementara media massa menyambut siswa dengan tayangan yang memperindah kemungkaran. Karena itu pendidikan dan pengajaran adalah jihad, tidak kalah penting dari jihad dengan meriam dan roket, sebab tangan yang memegang senjata bila tidak dididik untuk berwudhu dan shalat akan lari dari medan.
Enam sarana dakwah ditawarkan, semuanya menuntut keikhlasan karena tanpa itu sarana berubah menjadi riya. Pertama, penampilan islami: memelihara jenggot, mencukur kumis, tidak isbal, guru perempuan mengenakan hijab yang benar dan menghindari pakaian ketat, transparan, atau pendek; menyambut siswa dengan wajah ceria dan salam Islami, memulai pembicaraan dengan pujian kepada Allah dan shalawat, membuka papan tulis dengan basmalah, menutup majelis dengan surat Al-'Ashr dan doa kafarat majelis, menegakkan shalat berjamaah bersama siswa, serta menundukkan pandangan bila mengajar siswi. Kedua, mengaitkan Islam dengan mata pelajaran: guru sejarah menyimpulkan sunnah-sunnah kauniyah yang tetap dari peristiwa sejarah, guru geografi, geologi, dan astronomi membuktikan keteraturan alam menuntut adanya Pencipta, guru fisika, kimia, dan biologi memakai fakta ilmiah untuk meneguhkan akidah, guru pendidikan Islam menghidupkan Al-Qur'an dengan pemahaman dan penerapan bukan sekadar hafalan, guru matematika memakai contoh himpunan khalifah, zakat, warisan, dan statistika untuk menafikan kebetulan penciptaan alam, guru komputer membuat program tabel zakat dan warisan, guru bahasa menjaga materi dari gagasan ateisme buku-buku Barat, dan guru nasyid menanamkan semangat Islami menggantikan syair fanatisme. Guru juga wajib mengingatkan pertentangan dengan akidah, seperti bunga bank yang hakikatnya riba, teori evolusi, dan penyebutan "penjajahan Utsmani" yang keliru karena Utsmani adalah saudara seakidah yang menaklukkan Konstantinopel dan menyebarkan Islam hingga Wina. Ketiga, mengajar dengan itqan dan bergaul dengan lembut serta adil. Keempat, amar makruf nahi mungkar melalui kata-kata baik pada waktu-waktu istirahat, materi yang sesuai usia, kritik terhadap aliran yang memusuhi Islam, dan penolakan kemungkaran di lembaga seperti pesta busana tak senonoh, sapaan dan yel non-Islami, serta percampuran laki-laki dan perempuan. Kelima, memberi hadiah dan pujian yang memotivasi. Keenam, membina kegiatan siswa: kelompok kebudayaan, perjalanan, suasana Islami di lembaga, perpustakaan Islami, kotak pertanyaan, dan saling berkunjung.
Lampiran berisi tiga nasihat. Pertama, tanggung jawab guru: amanah ilmu, amal, dan bimbingan yang akan ditanyakan di hadapan Allah; guru wajib menjadi teladan dalam akhlak, amal, dan penampilan, memperbaiki dirinya sebelum mengajari orang lain, dan mengarahkan seluruh pelajaran menjadi sarana agama, bukan tujuan; mendidik anak di masa kecil ibarat memberi makan ruhnya sehingga kecenderungan kepada kebaikan menjadi bakat yang tetap. Kedua, jalan belajar dan sebab-sebab memahami pelajaran: niat yang baik, mengulang pelajaran sebelum dijelaskan, mendengarkan dengan seluruh indera, bertanya dengan adab, mengulang setelah dijelaskan, takwa kepada Allah, kesungguhan dan penjagaan waktu, serta doa memohon ilmu bermanfaat. Tingkatan ilmu ada empat — mendengar, memahami, menjaga, menyampaikan — dan tingkatan amal ada tiga: riwayah, dirayah, dan ri'ayah; ilmu yang bermanfaat ada tiga macam: tentang nama dan sifat Allah, tentang kabar-kabar-Nya, dan tentang keadaan hati serta amal anggota badan; syarat meraihnya enam hal: kecerdasan, semangat, kesungguhan, bekal, bimbingan guru, dan waktu panjang. Ketiga, keteladanan yang baik: meneladani Rasulullah ﷺ, berpegang pada Al-Qur'an dan Sunnah, menjaga shalat lima waktu berjamaah, serta menjauhi pelanggaran yang umum terjadi — mencukur jenggot, merokok, menggambar makhluk bernyawa, membuka aurat dan percampuran laki-laki perempuan, lagu yang melalaikan dari mengingat Allah, serta laki-laki memakai emas dan isbal.