Cover buku Wasiat Perpisahan Nabi صلى الله عليه وسلم karya Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi
Diupload Oleh:MS
Tanggal Upload:
Dilihat:290 kali
Diunduh:104 kali

Wasiat Perpisahan Nabi صلى الله عليه وسلم

Kategori:
Tahun Terbit:2026
Jumlah Halaman:75 halaman
Layout & Design:Abu Alifah

Deskripsi

Salah satu pilar utama dan landasan mendasar bagi manhaj salaf adalah perhatian mereka terhadap hadits Nabi ﷺ, baik dari segi penelitian shahih dan lemahnya, mempelajari kandungan maknanya, membelanya dari hujatan, mengamalkan kandungannya dan menebarkannya kepada khayalak manusia. Hal ini merupakan tanda utama bagi Ahlis Sunnah wal Jama'ah, Ahli hadits dan Salafiyyun.

Berbeda halnya dengan kelompok-kelompok lainnya, mereka kurang perhatian terhadap hadits Nabi ﷺ, sehingga tidak bisa membedakan mana hadits yang shahih dan tidak, bahkan terkadang mereka bersandar pada akal dan hawa nafsunya, lebih parah lagi bahkan ada yang berani menggugat hadits Nabi ﷺ dan menentangnya.¹

Sesungguhnya hadits merupakan ilmu yang sangat agung dan mulia. Imam an-Nawawi رَحِمَهُ اللَّهُ berkata dalam Irsyaadul Thullabil Haqaiq (I/498): "Ilmu hadits merupakan ilmu yang sangat mulia, sesuai dengan adab dan akhlak mulia. Dia termasuk ilmu akhirat, bukan ilmu dunia. Barangsiapa yang diharamkan mendapatkan ilmu tersebut, berarti dia diharamkan meraih kebaikan yang banyak dan barangsiapa yang diberi karunia memperolehnya, berarti dia mendapatkan keutamaan yang melimpah."

Al-Hafizh Ibnul 'Athor (murid Imam Nawawi) juga mengatakan²: "Sesungguhnya menyibukkan diri dengan hadits merupakan suatu hal yang sangat disukai oleh para pria sejati dan pemberani, dibenci oleh para penakut dan banci, ahli hadits selalu menang dan meraih pahala dan para musuhnya selalu kalah dan hina."

Nabi ﷺ pernah mendo'akan kebaikan untuk mereka yang menyibukan diri mempelajari hadits Nabi ﷺ:

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَءًا سَمِعَ مَقَالَتِيْ فَوَعَاهَا ثُمَّ أَدَّاهَا كَمَا سَمِعَهَا

"Semoga Allah mencerahkan wajah seorang yang mendengar sebuah hadits dariku lalu dia menyampaikannya sebagaimana yang dia dengar." ³

Merekapun bangkit bersemangat mencari hadits dengan harapan meraih do'a Nabi Muhammad ﷺ tersebut serta berusaha menebarkan hadits seluas-luasnya. Imam Sufyan ats-Tsauri رَحِمَهُ اللَّهُ berkata: "Tidaklah seorang ahli haditspun kecuali di wajahnya terdapat kecerahan wajah sebagaimana do'a Nabi ﷺ". Imam Syafi'i رَحِمَهُ اللَّهُ juga berkata: "Bila aku melihat ahli hadits, seakan-akan saya melihat sahabat Nabi".⁴

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رَحِمَهُ اللَّهُ menjelaskan bahwa faktor utama maraknya kebid'ahan dan kesesatan yang menimpa umat ini adalah dikarenakan kurangnya Ahli Sunnah dalam menebarkan sunnah dan petunjuk Nabi ﷺ.⁵

Oleh karenanya, hendaknya bagi kita untuk semangat menyebarkan sunnah Nabi dan hadits-haditsnya untuk menerangi kegelapan kebid'ahan dan kesesatan tersebut. Sungguh, ini termasuk jihad yang paling utama pada zaman sekarang. Ibnul Qayyim Al Jauziyyah رَحِمَهُ اللَّهُ berkata: "Menyebarkan sunnah Nabi kepada umat lebih utama daripada melemparkan anak panah ke arah musuh".⁶

Di tengah proyek saya menulis kitab Syarah Arbain Nawawiyyah, ada satu hadits yang sangat memotivasi saya untuk menyendirikannya dalam sebuah buku agar manfaatnya lebih luas, yaitu hadits wasiat perpisahan Nabi ﷺ yang berisi landasan-landasan penting dalam agama, wasiat-wasiat yang sangat penting terutama di zaman sekarang yang penuh dengan fitnah syubhat dan syahwat.

Semoga buku kecil ini berkah, ikhlas dan bermanfaat bagi umat.


Catatan kaki:

¹ Lihat Al-Intishor Li Ashabil Hadits hlm. 54-56 oleh as-Sam'ani.

² Tusaiyyat Al-Hafizh Ibnil 'Aththor ad-Dimasyqi hlm. 15-16.

³ Mutawatir. Sebagaimana ditegaskan oleh as-Suyuthi dalam al-Azhar al-Mutanatsirah hal. 5, az-Zabidi dalam Luqathul Alai al-Mutanatsirah hal. 161-162, al-Kattani dalam Nadhmul Mutanatsir hal. 24, Syaih Abdul Muhsin al-Abbad dalam Dirasah Hadits Nadhdhara Allah Imra'am Sami'a Maqalati, Riwayah wa Dirayah 3/315. (Lihat pula Faidhul Qadir al-Munawi 6/284 dan Kifayatul Hafadzah Salim al-Hilali hal. 278-279)

⁴ Dikeluarkan Muhammad bin Thohir al-Maqdisi dalam kitab Al-'Uluw wa Nuzul hlm. 45.

⁵ Dar'u Ta'aridhil Aqli wa Naqli 5/378

⁶ Jala'ul Afham, hlm. 415.

Komentar

Tinggalkan Komentar