Deskripsi
Kehadiran buku ini di hadapan pembaca sekalian tidaklah muncul dari ruang hampa. Ia lahir dari sebuah kegelisahan hati melihat derasnya arus fitnah akhir zaman, di mana batas antara yang haq (benar) dan yang bathil (salah) kian hari kian samar. Salah satu fitnah yang paling halus namun mematikan adalah alunan musik dan nada-nada yang melalaikan. Hari ini, musik telah masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan terkecil umat Islam, bahkan telah merambah masuk ke dalam ruang-ruang dakwah dengan dalih “seni yang islami”.
Kita memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan kembali dalil-dalil yang kokoh di tengah maraknya fatwa-fatwa yang melunak (tasahul).
Intisari dari seluruh pembahasan dalam buku ini bukanlah sekadar “boleh atau tidak boleh”, melainkan tentang bagaimana seorang Mu’min menjaga kejernihan hatinya agar tetap layak menjadi wadah bagi firman-firman Alloh. Sangat sulit membayangkan sebuah hati yang merindukan Jannah namun di saat yang sama ia merasa tentram dengan seruling-seruling syaithon.
Melalui buku ini, kita diajak untuk menelusuri kembali jejak para Shohabat, Tabi’in, dan para Imam Madzhab dalam memandang alat musik. Bukan dengan kaca mata kebencian, melainkan dengan semangat ittiba’ (mengikuti) kepada Nabi ﷺ.