Cover buku Hadyus Sari: Pembukaan Fathul Bari karya Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani
Diupload Oleh:admin
Tanggal Upload:
Dilihat:235 kali
Diunduh:93 kali

Hadyus Sari: Pembukaan Fathul Bari

Kategori:
Tahun Terbit:2026
Jumlah Halaman:2267 halaman
Penerbit:QantaraLit
Tata Letak:Muhamad Abid Hadlori

Deskripsi

Ketahuilah —semoga Allah mengajariku dan engkau— bahwa peninggalan-peninggalan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada masa para sahabat dan generasi tabi'in besar belum dibukukan dalam kitab-kitab jami' maupun disusun secara sistematis, karena dua sebab: Pertama, pada awalnya mereka dilarang melakukan hal itu sebagaimana tertera dalam Shahih Muslim, karena khawatir sebagiannya bercampur dengan Al-Qur'an yang agung. Kedua, karena luasnya hafalan mereka dan cepatnya daya tangkap pikiran mereka, serta karena kebanyakan mereka tidak pandai menulis.

Kemudian pada akhir masa tabi'in mulailah dilakukan pembukuan riwayat-riwayat dan penyusunan berita-berita secara bab per bab, seiring tersebarnya para ulama ke berbagai negeri dan menyebarnya bid'ah dari kalangan Khawarij, Rafidhah, dan pengingkar takdir. Orang pertama yang mengumpulkan hal itu adalah Ar-Rabi' bin Shabih dan Sa'id bin Abi 'Arubah serta selain keduanya, dan mereka menyusun setiap bab secara terpisah, hingga muncullah ulama-ulama besar dari generasi ketiga yang membukukan hukum-hukum: Imam Malik menyusun kitab Al-Muwaththa', dan di dalamnya beliau mengutamakan riwayat yang kuat dari penduduk Hijaz, serta menggabungkannya dengan perkataan para sahabat dan fatwa-fatwa tabi'in serta generasi setelah mereka.

Abu Muhammad Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij menyusun kitab di Makkah, Abu 'Amr Abdurrahman bin 'Amr Al-Auza'i di Syam, Abu Abdillah Sufyan bin Sa'id Ats-Tsauri di Kufah, dan Abu Salamah Hammad bin Salamah bin Dinar di Bashrah. Kemudian banyak ulama sezaman mereka mengikuti jejak mereka, hingga sebagian imam berpendapat untuk mengkhususkan penyusunan hadis Nabi shallallahu 'alaihi wasallam saja, dan itu terjadi sekitar tahun 200 Hijriah.

Maka Ubaidullah bin Musa Al-'Absi Al-Kufi menyusun sebuah musnad, Musaddad bin Musarhad Al-Bashri menyusun sebuah musnad, Asad bin Musa Al-Umawi menyusun sebuah musnad, dan Nu'aim bin Hammad Al-Khuza'i yang bermukim di Mesir menyusun sebuah musnad. Kemudian para imam setelah itu mengikuti jejak mereka, hingga hampir tidak ada seorang imam penghafal hadis pun kecuali menyusun hadis-hadisnya dalam bentuk musnad, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, Utsman bin Abi Syaibah, dan para ulama mulia lainnya. Sebagian mereka menyusun berdasarkan bab-bab sekaligus musnad secara bersamaan, seperti Abu Bakar bin Abi Syaibah.

Ketika Al-Bukhari radhiyallahu 'anhu melihat karya-karya tersebut, meriwayatkannya, mencium keharumannya, dan menyingkap wajah aslinya, beliau mendapati bahwa karya-karya itu, dari segi penyusunannya, menggabungkan antara hadis yang termasuk kategori shahih dan hasan, sementara sebagian besarnya tercampur dengan hadis dhaif (lemah), sehingga tidak bisa dikatakan bahwa yang lemah itu berkualitas baik. Maka tergeraklah semangat beliau untuk mengumpulkan hadis-hadis shahih yang tidak diragukan lagi oleh orang yang dapat dipercaya.

Tekad beliau semakin kuat dengan apa yang beliau dengar dari gurunya, Amirul Mukminin dalam bidang hadis dan fiqih, Ishaq bin Ibrahim Al-Hanzhali yang dikenal dengan Ibnu Rahawaih. Hal itu sebagaimana dikabarkan kepada kami oleh Abul Abbas Ahmad bin Umar Al-Lu'lu'i, dari Al-Hafizh Abul Hajjaj Al-Mizzi, dikabarkan kepada kami oleh Yusuf bin Ya'qub, dikabarkan kepada kami oleh Abul Yaman Al-Kindi, dikabarkan kepada kami oleh Abu Manshur Al-Qazzaz, dikabarkan kepada kami oleh Al-Hafizh Abu Bakar Al-Khathib, dikabarkan kepadaku oleh Muhammad bin Ahmad bin Ya'qub, dikabarkan kepada kami oleh Muhammad bin Nu'aim, aku mendengar Khalaf bin Muhammad Al-Bukhari di sana berkata: Aku mendengar Ibrahim bin Ma'qil An-Nasafi berkata: Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari berkata: "Kami pernah berada di dekat Ishaq bin Rahawaih, lalu beliau berkata: 'Seandainya kalian mengumpulkan sebuah kitab ringkas berisi hadis-hadis shahih dari sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.'" Beliau (Bukhari) berkata: "Maka hal itu tertanam dalam hatiku, lalu aku pun mulai mengumpulkan Al-Jami' Ash-Shahih."

Kami juga meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Muhammad bin Sulaiman bin Faris, ia berkata: Aku mendengar Al-Bukhari berkata: "Aku bermimpi melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, seolah-olah aku berdiri di hadapan beliau sambil memegang kipas untuk mengipasi beliau dari sesuatu. Maka aku tanyakan kepada sebagian penafsir mimpi, dan ia berkata kepadaku: 'Engkau sedang membersihkan dusta dari beliau.' Itulah yang mendorongku untuk mengeluarkan Al-Jami' Ash-Shahih."

Al-Hafizh Abu Dzarr Al-Harawi berkata: Aku mendengar Abul Haitsam Muhammad bin Makki Al-Kasymihani berkata: Aku mendengar Muhammad bin Yusuf Al-Farabri berkata: Al-Bukhari berkata: "Tidaklah aku menuliskan sebuah hadis pun dalam kitab Ash-Shahih ini kecuali aku mandi terlebih dahulu dan shalat dua rakaat."

Abu Ali Al-Ghassani berkata: Diriwayatkan darinya bahwa ia berkata: "Aku mengeluarkan (menyeleksi) Ash-Shahih dari enam ratus ribu hadis."

Al-Isma'ili meriwayatkan darinya, ia berkata: "Tidaklah aku keluarkan dalam kitab ini kecuali yang shahih, dan apa yang aku tinggalkan dari hadis shahih jauh lebih banyak." Al-Isma'ili berkata: "Sebab jika beliau mengeluarkan semua hadis shahih yang ada padanya, niscaya beliau akan mengumpulkan dalam satu bab hadis dari sekelompok sahabat, dan menyebutkan jalur setiap satu dari mereka apabila sahih, sehingga kitab itu akan menjadi sangat besar."

Abu Ahmad bin 'Adi berkata: Aku mendengar Al-Hasan bin Al-Husain Al-Bazzar berkata: Aku mendengar Ibrahim bin Ma'qil An-Nasafi berkata: Aku mendengar Al-Bukhari berkata: "Tidaklah aku masukkan ke dalam kitabku Al-Jami' kecuali yang shahih, dan aku tinggalkan sebagian yang shahih agar tidak terlalu panjang."

Al-Farabri juga berkata: Aku mendengar Muhammad bin Abi Hatim Al-Bukhari Al-Warraq berkata: "Aku bermimpi melihat Muhammad bin Ismail Al-Bukhari berjalan di belakang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berjalan di depannya; setiap kali Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengangkat kakinya, Al-Bukhari meletakkan kakinya tepat di tempat itu."

Al-Hafizh Abu Ahmad bin 'Adi berkata: Aku mendengar Al-Farabri berkata: Aku mendengar Najm bin Fadhil —dan ia termasuk orang yang berpemahaman baik— menyebutkan mimpi yang serupa, bahwa ia juga pernah melihatnya.

Abu Ja'far Mahmud bin 'Amr Al-'Uqaili berkata: "Ketika Al-Bukhari menyusun kitab Ash-Shahih, beliau memperlihatkannya kepada Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma'in, Ali bin Al-Madini, dan yang lainnya, maka mereka pun memujinya dan bersaksi atas keshahihannya, kecuali pada empat hadis." Al-'Uqaili berkata: "Dan pendapat yang benar mengenai keempat hadis itu adalah pendapat Al-Bukhari, dan hadis-hadis itu memang shahih."

Komentar

Tinggalkan Komentar