Deskripsi
Hidup dan mati hanya untuk Allah merupakan inti agama dan jalan keselamatan. Seluruh kaum muslimin secara global mengetahui bahwa kebenaran adalah meniti jejak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, berpegang pada Al-Qur'an dan sunnah, mengesakan Allah, serta beribadah hanya kepada-Nya. Allah berfirman, "Dan tidaklah mereka diperintah kecuali agar mereka beribadah kepada Allah dengan murni/ikhlas menjalankan agama bagi-Nya." (QS. Al-Bayyinah: 5). Kemurnian itu mencakup sedekah, shalat, puasa, dakwah, amar ma'ruf nahi munkar, nasihat, dan seluruh kebaikan lainnya.
1. Menimbang Keikhlasan
Setelah ilmu diketahui, pertanyaan yang tersisa adalah apakah ia sudah diamalkan, dan berapa persen dari ibadah yang telah dimurnikan hanya untuk Allah, apa yang kurang, serta apa yang harus dilengkapi. Ikrar yang diucapkan setiap rakaat harus dibuktikan dalam amal nyata: "Hanya kepada-Mu kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan." (QS. Al-Fatihah: 5). Inilah inti dan jalan keselamatan. Siapa yang mengesakan Allah dan beribadah hanya kepada-Nya pasti akan mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
2. Ujian di Negeri Dunia
Dunia adalah negeri ujian, dan manusia menghadapi musuh dari kalangan setan, jin, serta manusia yang terus menyeret untuk berbelok dari keikhlasan. Setan dan anak buahnya menggiring manusia agar beramal dan beribadah hanya karena riya', ingin dipuji, serta faktor duniawi lainnya. Karena itu, setiap hamba perlu menyadari bahwa dirinya senantiasa berada dalam medan ujian menuju kemurnian niat.
3. Riya, Syirik Kecil yang Dikhawatirkan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya hal yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya, "Apa itu syirik kecil?" Beliau menjawab, "Riya." (HR. Ahmad; Shahih Targhib no. 32). Riya disebut syirik karena mengganggu keikhlasan: pelakunya beribadah bukan hanya untuk Allah, tetapi juga untuk keuntungan diri sendiri dan hawa nafsu, ingin dipuji, diangkat, serta dimuliakan.
Karena itu, ibadah hendaknya dipersembahkan hanya untuk Allah semata—shalat, puasa, dakwah, dan amar ma'ruf nahi munkar—bukan untuk keuntungan diri sendiri, hawa nafsu, atau kepentingan pribadi, melainkan mengharapkan pahala dari-Nya.