Cover buku Kala Hujan Tak Kunjung Turun karya Lanlan Tuhfatul Lanfas
Diupload Oleh:admin
Tanggal Upload:
Dilihat:234 kali
Diunduh:55 kali

Kala Hujan Tak Kunjung Turun

Kategori:
Tahun Terbit:2026
Jumlah Halaman:15 halaman

Deskripsi

Manusia digambarkan sebagai makhluk yang fakir dan senantiasa membutuhkan Allah, sedangkan Allah Maha Kaya dan tidak membutuhkan siapa pun (QS. Fāthir [35]: 15-17). Meski demikian, kemaksiatan tetap kerap dilakukan, padahal kemaksiatan dapat mendatangkan murka dan siksa Allah.

Lima Sebab Datangnya Siksa

Hadis riwayat Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar bin al-Khaththab menyebutkan lima perkara yang mendatangkan siksa bila terjadi pada suatu kaum: (1) perbuatan zina yang dilakukan terang-terangan mendatangkan wabah penyakit yang belum pernah ada sebelumnya; (2) kecurangan dalam takaran dan timbangan mendatangkan kemarau berkepanjangan, paceklik, dan penguasa zalim; (3) keengganan membayar zakat menyebabkan langit menahan hujan; (4) pelanggaran janji Allah dan Rasul-Nya menyebabkan dikuasainya suatu kaum oleh musuh dari luar; (5) pemimpin yang tidak menegakkan hukum Allah mendatangkan permusuhan di antara mereka sendiri.

Kecurangan sebagai Sebab Tertahannya Hujan

Perhatian khusus diberikan pada keengganan menunaikan zakat dan kecurangan dalam berdagang — mengurangi timbangan, menyembunyikan barang cacat di balik barang yang baik, serta menaikkan harga secara tidak wajar kepada pembeli yang tidak memahami harga pasar. Riwayat dari Mujahid dan Abu Hurairah menyebutkan bahwa bahkan hewan ternak turut merasakan dampak kekeringan akibat dosa manusia. Dalam hadis riwayat Muslim, Nabi menegur seorang pedagang yang menyembunyikan bahan makanan basah di bagian bawah dagangannya, dengan menyatakan bahwa penipuan semacam itu bukan bagian dari umatnya.

Hujan disebut sebagai karunia Allah yang dipergilirkan pada negeri-negeri tertentu sesuai kehendak-Nya, bukan berdasarkan jumlah yang sama tiap tahun (QS. Al-Furqān [25]: 48-50), sebagaimana dijelaskan Ibnu Katsir, Ibnu Abbas, dan Ibnu Mas'ud. Air yang tawar dan layak minum juga disebut sebagai nikmat yang dapat dicabut kapan saja (QS. Al-Mulk [67]: 68-70 / Al-Wāqi'ah).

Istighfar dan Taubat sebagai Solusi

Kisah Nabi Hud menegaskan bahwa istighfar dan taubat menjadi sebab turunnya hujan serta bertambahnya kekuatan dan rezeki (QS. Hūd [11]: 52; QS. Nūh [71]: 10-12). Nabi mensyariatkan salat istisqa dua rakaat, doa, dan sikap merendahkan diri sebagai cara meminta hujan, sebagaimana beliau juga berdoa memohon hujan di atas mimbar saat khotbah Jumat.

Ali bin Abi Thalib menyatakan bahwa bencana turun karena dosa dan hanya terangkat dengan taubat. Kisah Fir'aun yang dihukum dengan kemarau panjang dan kekurangan buah-buahan (QS. Al-A'rāf [7]: 130) serta peringatan tentang hati yang mengeras akibat terus-menerus berbuat dosa (QS. Al-An'ām [6]: 42-43) menjadi pengingat pentingnya introspeksi diri. Ajakan bertakwa, saling menasihati dalam kebaikan, serta amar makruf nahi mungkar menjadi penutup, disertai doa memohon diturunkannya hujan yang bermanfaat dan tidak membawa bencana.

Diterjemahkan dengan beberapa penyesuaian dari khotbah berjudul Khuthbatul Istisqā oleh Syekh Dr. Shalih al-Fauzan hafizhahullah dari buku al-Khuthab al-Minbariyyah Jilid 4 hal. 203-207. Direvisi pada hari jumat, 2-3-1446 H/6-9-2024 MMateri ini diambil dari website resmi Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr dengan tema Harr ash-Shaif Wat Tadzkir Bi Naari Jahannam, 20-05-1427. Disampaikan oleh Lanlan Tuhfatul Lanfas, B.A. di Masjid Al-Akram, Jl. Seskoau No. 46, Lembang, Kab. Bandung Barat, Jawa Barat 40391, Pada Jumat, 15 Safar 1445 H/1 September 2023 M.

Komentar

Tinggalkan Komentar