Deskripsi
Dunia diciptakan sebagai negeri ujian dan tempat beramal, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang abadi, tempat pahala dan siksa disiapkan. Sebagai bentuk hikmah-Nya, Allah menjadikan berbagai peristiwa di dunia sebagai tanda dan pengingat akan apa yang telah disiapkan di akhirat. Musim kemarau yang terik termasuk salah satu tanda tersebut, mengingatkan akan neraka Jahanam pada hari kiamat.
Enam Pengingat akan Neraka
Panas musim kemarau. Dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim, neraka mengadu kepada Allah karena sebagian apinya saling memakan, sehingga diizinkan berembus dua kali: sekali menghasilkan hawa panas yang dirasakan saat musim panas, sekali menghasilkan hawa dingin (zamharir) yang dirasakan saat musim dingin. Sebagian salaf heran terhadap orang yang menghindari panasnya dunia namun tidak menghindari panasnya neraka dengan menjauhi dosa.
Panas terik waktu zuhur. Hadis riwayat Imam Ahmad menyebutkan bahwa cuaca yang sangat panas berasal dari embusan api Jahanam, sehingga salat Zuhur dianjurkan ditunda hingga panas mereda. Keluarnya jamaah dari masjid usai salat Jumat di tengah teriknya siang juga mengingatkan pada perpindahan manusia ke surga atau neraka pada hari kiamat, yang menurut riwayat dari Ibnu Mas'ud terjadi pada hari Jumat.
Matahari. Disebut dalam QS. An-Naba' [78]: 13 sebagai pelita yang bersinar dan panas. Panasnya matahari mengingatkan akan neraka, termasuk gambaran matahari yang didekatkan di atas kepala manusia pada hari mahsyar.
Fenomena alam ekstrem seperti petir (QS. Ar-Ra'd [13]: 13) dan angin kencang yang membakar kebun (QS. Al-Baqarah [2]: 266) turut mengingatkan pada neraka.
Demam. Hadis riwayat Ibnu Majah menyebutkan bahwa demam berasal dari hembusan Jahanam dan hendaknya diredakan dengan air dingin; demam juga disebut sebagai bagian dari api neraka yang dirasakan seorang mukmin, sehingga hendaknya dijadikan sarana mengharap pahala dan penghapus dosa.
Api yang digunakan sehari-hari. QS. Al-Wāqi'ah [56]: 73 menyebut api dunia sebagai peringatan dan manfaat bagi manusia. Dalam hadis sahih, api dunia hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian panasnya neraka Jahanam.
Konsekuensi bagi Diri
Tubuh manusia lemah dan tidak akan sanggup menahan panasnya api neraka, sehingga penjagaan diri dan keluarga dari api neraka menjadi kewajiban (QS. At-Tahrim [66]: 6). Balasan di akhirat tidak bergantung pada angan-angan, melainkan pada amal (QS. An-Nisā' [4]: 123). Seorang salaf menyimpulkan bahwa kesabaran menaati Allah di dunia jauh lebih ringan dibanding kesabaran menahan panasnya neraka kelak. Sebagaimana sebagian orang sanggup menjauhi makanan lezat karena takut sakit, kepatutan menjauhi maksiat karena takut neraka lebih utama untuk diusahakan.
Permohonan kepada Allah dipanjatkan agar diselamatkan dari api neraka, diberi kebaikan dunia dan akhirat, serta dilindungi dari azab neraka — mengingat setiap orang pasti melewati jalan di atas neraka (sirat), dan hanya orang-orang bertakwa yang akan diselamatkan (QS. Maryam [19]: 71–72).
Materi ini diambil dari website resmi Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr dengan tema Harr ash-Shaif Wat Tadzkir Bi Naari Jahannam, 20-05-1427. Diterjemahkan dan disampaikan dalam bahasa Indonesia dengan penyesuain oleh: Lanlan Tuhfatul Lanfas, B.A. di Masjid Abu Bakar ash-Shiddiq, AIS, Jl. Lapang, Cibogo, Lembang, Kab. Bandung Barat, Jawa Barat 40391, Jumat, 2 Rabiulawal 1446 H/6 September 2024 M.