Cover buku Menolak Pertentangan Antara Akal Dan Wahyu Jilid 3 karya Abī al-Qāsim bin Muhammad Ibn Taimiyah
Diupload Oleh:admin
Tanggal Upload:
Dilihat:206 kali
Diunduh:86 kali

Menolak Pertentangan Antara Akal Dan Wahyu Jilid 3

Kategori:
Tahun Terbit:2025
Jumlah Halaman:330 halaman
Penerbit:QantaraLit

Deskripsi

Perkataan orang yang mengatakan: Jika terjadi pertentangan antara dalil-dalil yang didengar (naql) dan dalil-dalil akal (aql), atau antara pendengaran dan akal, atau antara penukilan dan akal, atau antara teks-teks yang dinukil dan kepastian-kepastian akal, atau ungkapan-ungkapan serupa, maka:

• Bisa jadi keduanya digabungkan, tetapi ini mustahil karena berarti menggabungkan dua hal yang bertentangan.

• Atau keduanya ditolak.

• Atau mengutamakan dalil pendengaran (naql), namun ini mustahil, karena akal adalah dasar dari penukilan (naql). Jika kita mengutamakan naql atas akal, itu berarti mencela akal yang merupakan dasar naql, dan mencela dasar sesuatu berarti mencela sesuatu itu sendiri. Sehingga mengutamakan naql justru mencela baik naql maupun akal sekaligus.

• Maka wajib mengutamakan akal, kemudian naql bisa ditakwil atau diserahkan (tafwidh) maknanya.

Jika keduanya bertentangan seperti dua hal yang berlawanan, maka tidak mungkin digabungkan, tetapi tidak mustahil keduanya ditinggalkan.

Pernyataan ini telah dijadikan oleh Ar-Razi dan pengikutnya sebagai kaidah umum dalam apa yang dapat dijadikan dalil dari kitab Allah dan perkataan para nabi-Nya, dan apa yang tidak dapat dijadikan dalil. Karena itulah mereka menolak pengambilan dalil dari apa yang dibawa oleh para nabi dan rasul mengenai sifat-sifat Allah, dan hal-hal lain yang mereka beritakan, karena mereka mengira bahwa akal bertentangan dengannya. Sebagian mereka menambahkan bahwa dalil-dalil pendengaran (naql) tidak memberikan keyakinan, dan kami telah membahas perkataan mereka ini tentang dalil-dalil pendengaran di tempat lain.

Adapun kaidah yang mereka tetapkan ini, sebenarnya mereka didahului oleh sekelompok orang, di antaranya Abu Hamid (Al-Ghazali), yang menjadikannya sebagai kaidah dalam menjawab masalah-masalah yang ditanyakan kepadanya mengenai teks-teks yang membingungkan penanya, seperti masalah-masalah yang ditanyakan oleh Qadhi Abu Bakar bin Al-Arabi. Qadhi Abu Bakar bin Al-Arabi menentangnya dalam banyak jawaban tersebut, dan dia berkata: "Syekh kami Abu Hamid telah masuk ke dalam pemikiran para filsuf, kemudian dia ingin keluar dari mereka tetapi tidak mampu." Dia (Abu Bakar bin Al-Arabi) menceritakan dari Abu Hamid sendiri bahwa dia berkata: "Saya lemah dalam ilmu hadits." Dan Abu Bakar bin Al-Arabi ini menetapkan kaidah lain, yang dibangun berdasarkan metode Abu Al-Ma'ali dan pendahulunya, seperti Qadhi Abu Bakar Al-Baqillani.

Seperti kaidah yang ditetapkan oleh mereka ini, setiap kelompok menetapkan kaidah bagi diri mereka sendiri mengenai apa yang dibawa oleh para nabi dari Allah. Mereka menjadikan dasar yang mereka yakini dan mereka andalkan adalah apa yang mereka kira telah diketahui oleh akal mereka, dan mereka menjadikan apa yang dibawa oleh para nabi mengikutinya. Apa yang sesuai dengan kaidah mereka, mereka terima, dan apa yang bertentangan dengannya, mereka tidak ikuti.

Ini mirip dengan apa yang ditetapkan oleh orang-orang Nasrani dalam iman mereka yang mereka jadikan sebagai akidah keimanan mereka, dan mereka mengembalikan teks-teks Taurat dan Injil kepadanya. Namun, iman itu mereka dasarkan pada apa yang mereka pahami dari teks-teks para nabi atau apa yang sampai kepada mereka dari para nabi, dan mereka keliru dalam pemahaman atau dalam membenarkan sang pembawa berita, seperti orang-orang yang keliru lainnya dari kalangan yang berhujjah dengan dalil-dalil pendengaran (naql). Kekeliruan mereka bisa dalam sanad atau dalam matan.

Adapun orang-orang ini (yaitu yang menetapkan kaidah akal di atas naql),mereka menetapkan kaidah-kaidah mereka berdasarkan apa yang mereka lihat dengan akal mereka, dan mereka telah keliru dalam pendapat dan akal.

Orang-orang Nasrani lebih dekat dalam mengagungkan para nabi dan rasul dibandingkan mereka ini, tetapi orang Nasrani menyerupai mereka yang membuat bid'ah dengan pemahaman yang rusak dari teks-teks atau dengan membenarkan riwayat palsu dari Rasul, seperti Khawarij, Wa'idiyah, Murji'ah, Imamiyah dan lainnya, berbeda dengan bid'ah Jahmiyah dan para filsuf yang didasarkan pada apa yang mereka akui bertentangan dengan apa yang dikenal dari perkataan para nabi, sedangkan mereka (kelompok pertama) mengira bahwa bid'ah yang mereka buat adalah yang dikenal dari perkataan para nabi, dan itu benar menurut mereka.

Diterjemahkan oleh: Muhamad Abid Hadlori

Komentar

Tinggalkan Komentar