Deskripsi
Buku ini membahas sirah nabawiyah dan menjelaskan betapa pentingnya sirah tersebut bagi kehidupan kaum muslimin, serta betapa besar kebutuhan mereka — bahkan keniscayaan bagi mereka — untuk mengenalnya, mengambil petunjuk dari tuntunan pemiliknya shallallahu 'alaihi wasallam, meneladaninya, dan menempuh jalannya, demi membentuk generasi yang diharapkan mampu membangun kehidupan yang benar, mengembalikan umat kepada masa kejayaannya dan para pendahulunya yang salih, serta keluar dari kemelut yang sedang dihadapi.
Betapa umat Islam hari ini sangat membutuhkan pembentukan elit dan kelompok pembela yang memahami risalah, yang menolak takdir-takdir Allah yang buruk dengan takdir-takdir Allah yang baik, dan yang meletakkan dasar kebangkitan peradaban dengan pemahaman yang menyeluruh dan benar, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para pendahulu mereka, yakni para sahabat Nabi kita shallallahu 'alaihi wasallam.
Sesungguhnya pembangunan akidah keimanan yang berlandaskan fakta dan bukti-bukti nyata adalah fondasi yang selama masa kerasulan senantiasa diteguhkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Wahyu pun turun kepadanya silih berganti, mempertegas hakikat ini, karena akidah merupakan sumber pembentukan karakter, tolok ukur perilaku, dan batu penjuru dalam pemikiran serta arah tujuan.
Di atas landasan akidah itulah pembangunan perilaku — yang meliputi dimensi akhlak, sosial, ekonomi, administratif, bahkan politik — berjalan beriringan, saling melengkapi dan seimbang dalam satu rangkaian yang utuh: menyatukan berbagai dorongan jiwa, memusatkan cita-cita menjadi satu tujuan. Dengan demikian, umat pun tumbuh dan berkembang kepribadiannya dengan sempurna, menghasilkan ilmu, sastra, dan peradaban yang megah dan berbuah lebat, yang memancarkan cahayanya dan nur petunjuknya kepada seluruh umat manusia, mengeluarkan mereka dari kegelapan kebodohan, kezaliman, dan kesombongan menuju cahaya kebenaran, kasih sayang, dan keadilan dalam maknanya yang paling sejati dan wujudnya yang paling jelas.
Mempelajari sirah dengan makna-makna yang dalam dan teks-teks yang gamblang ini akan menganugerahkan kepada para pelajarnya rasa aman, ketenangan, kebahagiaan hidup, serta dorongan yang terus-menerus untuk mempelajari, merenungi petunjuk dan manfaatnya, yang pada gilirannya mendorong untuk meneladani dan mengikuti.
Materi sirah nabawiyah adalah materi pembentukan karakter dan perilaku sebelum menjadi materi pengetahuan. Atas dasar itulah, Dewan Universitas Ummul Qura menetapkannya sebagai mata kuliah wajib universitas di seluruh jurusan mulai tahun akademik 1416/1417 H. Dewan Universitas kemudian merekomendasikan penyusunan sebuah buku yang menjadi acuan mata kuliah tersebut, yang mewujudkan tujuan penetapannya dan mencakup seluruh pokok bahasannya. Selanjutnya, keluarlah keputusan Rektor Universitas yang Yang Terhormat, tertanggal 7/10/1425 H, yang menugaskan sejumlah spesialis sirah nabawiyah dari Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam di Fakultas Syariah dan Studi Islam, serta para spesialis dari Jurusan Dakwah di Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, untuk menyusun buku ini. Keputusan tersebut juga mencakup pembentukan komite untuk meninjau buku ini. Kedua komite tersebut telah menyelesaikan tugas mereka dalam menyusun dan meninjau buku ini — segala puji bagi Allah.
Buku ini dibagi menjadi satu muqaddimah (pengantar) dan lima bab. Pengantar membahas tujuan-tujuan mempelajari sirah nabawiyah, sumber-sumbernya, dan pembagiannya, serta sejumlah manfaat mempelajarinya yang berkaitan dengan tujuan-tujuan syariat dan kondisi para ahli ibadah, dengan harapan dapat membantu pembentukan karakter umat dan mengeluarkan generasi masa kini dari berbagai permasalahan dan kecenderungan yang simpang-siur, mengembalikan mereka kepada sumber yang hak dan mata air yang jernih — yakni Al-Qur'an dan Sunnah — di mana mereka akan menemukan petunjuk dan penyembuhan atas segala penyakit yang menimpanya, apabila mereka mengikhlaskan niat, menyatukan tujuan, meninggalkan syahwat yang rendah, membebaskan diri dari pemikiran asing, dan menaruh perhatian pada hal-hal yang mulia. Sirah nabawiyah tidak lain adalah penerapan praktis dari wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Dalam pengantar ini juga dibahas secara ringkas tentang geografi Jazirah Arab, pembagian wilayahnya, dan kondisinya menjelang diutusnya Nabi, tentang kemuliaan Makkah al-Mukarramah dan kesucian yang Allah berikan padanya, serta tentang asal-usul bangsa Arab, suku-sukunya, dan kondisi mereka dari segi politik, agama, dan sosial.
Adapun lima bab itu mengikuti alur sejarah peristiwa-peristiwa sirah nabawiyah: mulai dari masa sebelum kenabian, kemudian masa Makkah dan Madinah setelah kenabian dan kerasulan, dengan menguraikan peristiwa-peristiwa secara ringkas namun memberikan perhatian pada pelajaran dan hikmah yang terkandung.
Bab pertama membahas Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sejak kelahiran beliau hingga diutusnya beliau sebagai nabi, dan bab ini ditutup dengan penjelasan tentang sejumlah tanda-tanda awal kenabian dan kabar-kabar gembira yang terjadi sebelum turunnya wahyu.
Bab kedua dikhususkan untuk membahas masa Makkah: sejak diutusnya beliau hingga hijrah ke Madinah an-Nabawiyah.
Bab ketiga membahas hijrah Nabi ke Madinah, penataan kondisi Madinah, pembangunan berbagai lembaga, dan pengaturan tatanan masyarakat.
Bab keempat dikhususkan untuk membahas jihad nabawi yang tercermin dalam konfrontasi dengan kaum musyrikin melalui berbagai sariyyah (pasukan kecil), perjanjian, dan ghazwah (perang), beserta berbagai peristiwa yang menyertainya.
Bab kelima membahas penyebaran Islam dan masuknya manusia ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong melalui Fathu Makkah, datangnya utusan-utusan dari berbagai suku Arab kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di Madinah — khususnya pada tahun kesembilan — beserta peristiwa-peristiwa yang menyusulnya, kemudian Haji Wada' dan wafatnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Bab ini ditutup dengan uraian tentang sifat-sifat, akhlak, dan kepribadian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, serta pengenalan singkat tentang istri-istri beliau, para Ummahatul Mukminin yang suci, beserta hikmah dari pernikahan beliau yang lebih dari satu.
Pengantar, bab pertama, dan sebagian bab kedua hingga dakwah secara terang-terangan ditulis oleh Dr. Muhammad bin Shamil as-Sulami. Sisa bab kedua dan bab ketiga ditulis oleh Dr. Abdurrahman bin Jamil Qashshash. Bab keempat ditulis oleh Dr. Khalid bin Muhammad al-Ghaith. Bab kelima ditulis oleh Dr. Sa'ad bin Musa al-Musa.
Komite peninjau telah melaksanakan tugasnya, di mana setiap anggota menyampaikan laporan terpisah, dan komite penyusun telah mempertimbangkan catatan-catatan dan koreksi-koreksi mereka yang berharga.
Dalam buku ini kami senantiasa berupaya untuk berlandaskan pada ayat-ayat Al-Qur'an, hadis-hadis Nabi yang sahih, dan riwayat-riwayat yang terpercaya dalam peristiwa-peristiwa sirah nabawiyah, karena bangunan ilmu dan pembentukan karakter haruslah didasarkan pada teks-teks yang sahih dan sumber-sumber yang terpercaya, agar peneladanan dan pengikutan dapat dilakukan dengan benar.
Kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar menjadikan buku ini bermanfaat dan menjadikannya sebagai amal yang ikhlas karena mengharap wajah-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan.