Deskripsi
Sungguh, aku semula ragu-ragu (bagaikan melangkahkan kaki satu maju dan satu mundur) ketika terbetik dalam benakku untuk menulis tentang topik ini. Hal itu karena begitu banyak orang yang membahasnya—kadang dengan benar, tetapi kebanyakan dengan kebatilan.
Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah topik yang sangat hangat; meskipun telah berlalu waktu yang lama, namun ia tetap hidup dalam jiwa kita—sebagai bentuk pengagungan terhadap generasi kenabian dan terhadap kumpulan besar Shohabat pilihan yang mulia, para Shohabat Rosululloh ﷺ, semoga Alloh meridhoi mereka semua.
Karena perkataan yang benar itu adalah cahaya yang memberi petunjuk, dan karena generasi yang diberkahi ini memiliki keutamaan atas kita, maka sudah menjadi keharusan bagi kita untuk menunaikan sebagian hak mereka atas kita. Urusan mereka tidak seperti urusan orang lain. Ilmu dan amal mereka tidak pernah didahului oleh siapa pun, dan tidak akan pernah bisa disamai oleh siapa pun setelah mereka. Karena lewat merekalah Alloh memuliakan agama ini dan menampakkannya.
Meskipun kami selalu menyanjung keutamaan-keutamaan para Shohabat Rosululloh ﷺ, namun kami tidak mengklaim bahwa mereka ma’sum (terjaga dari dosa). Alloh ‘Azza wa Jalla tidak menjadikan kema’suman kecuali bagi para Nabi dan Malaikat-Nya, ‘alaihimus salam.
Benar, sebagian dari mereka pernah melakukan kesalahan, baik di masa hidup Rosululloh ﷺ maupun setelah wafatnya. Namun, penderitaan, penindasan, dan siksaan yang mereka tanggung demi beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya, serta demi da’wah kepada agama yang lurus dan millah Ibrohim; pengorbanan mereka dengan hijroh meninggalkan keluarga dan tanah air; jihad mereka dengan harta dan jiwa di jalan Alloh; serta pembelaan mereka terhadap Rosululloh ﷺ dengan segala yang mereka miliki—semua ini menjadikan kesalahan-kesalahan tersebut di samping kebaikan-kebaikan besar dan amal sholih yang luar biasa itu: bagaikan butiran pasir di tengah gunung-gunung raksasa, bagaikan tetesan air di lautan yang meluap.
Tidak diragukan lagi bahwa masalah sejarah sangatlah penting dalam kehidupan umat-umat dan bangsa-bangsa. Sejarah membentuk tiang penyangga eksistensi mereka, menentukan metodologi, masa kini, dan masa depan mereka. Tidak ada satu umat pun yang bercita-cita menjadi pemimpin dan penguasa kecuali ia wajib mengokohkan hubungan antara dirinya dengan masa lalunya, agar dapat mengambil kekuatan dan unsur-unsur pembangun masa kini serta menatap masa depannya.
Dan umat seperti umat Islam lebih berhak daripada yang lain untuk melakukan hal itu, karena sejarahnya menyimpan keagungan, kepahlawanan, dan kemenangan yang dibandingkan dengannya sejarah umat mana pun menjadi kecil. Namun, di tengah kelemahan umat kita di masa kini akibat perbuatan tangan-tangan anak-anaknya sendiri, Alloh menguasakan atas kita para pewaris kera dan babi, para penyembah thoghut. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
Di tengah kelemahan ini, kita harus kembali kepada sejarah umat kita yang megah dan cemerlang, agar mudah bagi kita merenungkan jati diri kita, melihat sekeliling kita, dan menyusuri langkah-langkah menuju masa depan kita. Hal ini tidak akan terwujud kecuali dengan kembali dan merenungkan sejarah kita yang benar—bukan yang lain.
Jika kita cermati dengan sungguh-sungguh sejarah kita, niscaya kita dapati bahwa secemerlang-cemerlang periode (الحِقْبَة)[1] adalah periode yang dijalani oleh Rosululloh ﷺ dan para Shohabatnya, yaitu generasi yang memikul di atas pundaknya penyebaran risalah Islam. Merekalah sebaik-baik makhluk Alloh setelah para Nabi dan Rosul, ‘alaihimus salam.
Sungguh, sejarah umat Islam telah banyak mengalami distorsi, pemalsuan, dan pengubahan, disebabkan oleh sekte-sekte yang muncul di tengah-tengah peradaban Islam. Setiap sekte berusaha merendahkan yang lain dan meninggikan dirinya sendiri. Maka terjadilah celah-celah dalam sejarah para tokoh agung umat kita.
Kita dapati di tengah umat ini orang-orang yang melampaui batas syariat dalam mencintai tokoh-tokoh tertentu. Mereka mencintai Shohabat agung Ali bin Abi Tholib dengan cinta yang justru merusak seluruh urusan mereka. Mereka menisbatkan kepadanya berbagai peristiwa dan berita yang tidak dapat diterima. Di saat yang sama, mereka berusaha merendahkan yang lain, menganggap orang lain sebagai perampas hak Ali, menzholimi Ali dan diri mereka sendiri. Bahkan, berlebih-lebihan (ghuluw) dalam mencintai Ali membawa mereka melampaui Ali hingga kepada cucu-cucunya. Mereka mengklaim bahwa cucu-cucu Ali adalah imam-imam yang ditunjuk secara nash (teks ilahi) dan ma’sum, menyerupakan mereka dengan para Nabi ‘alaihimus salam.[2]
Padahal Ali rodhiyallahu ‘anhu sendiri berkata:
«لَيُحِبَّنِّي أَقْوَامٌ حَتَّى يَدْخُلُوا النَّارَ فِيَّ، وَلَيُبْغِضُنِي قَوْمٌ حَتَّى يَدْخُلُوا النَّارَ فِي بُغْضِي»
“Benar-benar akan ada kaum yang mencintaiku hingga mereka masuk Neraka karena cinta mereka kepadaku, dan akan ada kaum yang membenciku hingga mereka masuk Neraka karena kebencian mereka kepadaku.”[3]
Dan beliau juga berkata:
«يَهْلِكُ فِيَّ رَجُلَانِ: مُفْرِطٌ فِي حُبِّي، وَمُفْرِطٌ فِي بُغْضِي»
“Akan binasa karena (sikap terhadap)-ku dua orang: yang berlebih-lebihan dalam mencintaiku dan yang berlebih-lebihan dalam membenciku.”[4]
Klaim-klaim dan gambaran ghuluw ini baru muncul setelah pertengahan abad ketiga Hijriyyah, menurut pendapat yang shohih.
Yang semakin mengukuhkan fakta ini adalah bahwa kita tidak menemukan dalam riwayat-riwayat shohih yang berkaitan dengan sejarah dan keadaan para Shohabat sesuatu yang menunjukkan adanya kebencian yang diklaim antara Ali dan Shohabat-Shohabat besar lainnya. Sebaliknya, kita justru menemukan bukti-bukti yang menunjukkan besarnya rasa cinta mereka satu sama lain, serta gambaran-gambaran cemerlang tentang itsar (mendahulukan kepentingan orang lain dari kepentingan pribadi), persaudaraan, kasih sayang, nasihat, dan hubungan perkawinan yang begitu banyak—yang dengan itu seorang peneliti yang jujur dan mencari kebenaran akan memastikan kepalsuan apa yang dipropagandakan tentang permusuhan, kebencian, dan saling membenci.
Di antara gambaran cemerlang itu adalah:
1) Tiga kholifah yang mendapat petunjuk: Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar bin al-Khoththob, dan Utsman bin ‘Affan—merekalah yang mendorong Ali untuk menikahi Fatimah, turut menyumbang untuk mahar/perlengkapan pernikahannya, dan menjadi saksi atas pernikahan itu.
Ali rodhiyallahu ‘anhu berkata:
«أَتَانِي أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، فَقَالَا: لَوْ أَتَيْتَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرْتَ لَهُ فَاطِمَةَ»
“Abu Bakr dan Umar mendatangiku, lalu berkata: ‘Alangkah baiknya jika engkau menemui Rosululloh ﷺ dan menyebutkan (keinginan menikahi) Fatimah.’”[5]
Dan Ali rodhiyallahu ‘anhu juga berkata: Rosululloh ﷺ bersabda kepadaku:
«انْطَلِقِ الْآنَ فَبِعْ دِرْعَكَ وَائْتِنِي بِثَمَنِهِ حَتَّى أُهَيِّئَ (لَكَ) وَلِابْنَتِي (فَاطِمَةَ) مَا يُصْلِحُكُمَا»
“Pergilah sekarang, juallah baju besimu, lalu bawakan harganya kepadaku sehingga aku bisa menyiapkan untukmu dan untuk putriku (Fatimah) apa yang layak bagi kalian berdua.”
Ali berkata: Maka aku pergi dan menjual baju besiku seharga empat ratus dirham hitam kepada Utsman bin ‘Affan.
Ketika aku telah menerima uang darinya dan dia menerima baju besi itu dariku, dia berkata: “Bukankah aku lebih berhak atas baju besi ini daripada kamu, dan kamu lebih berhak atas uang ini daripada aku?”
Aku menjawab: “Benar.”
Dia berkata: “Baju besi ini adalah hadiah dariku untukmu.”
Aku pun mengambil baju besi dan uang itu, lalu kembali menghadap Rosululloh ﷺ Aku letakkan baju besi dan uang itu di hadapannya, dan aku kabarkan kepadanya tentang perbuatan Utsman. Maka beliau mendoakan kebaikan untuk Utsman. Rosululloh ﷺ mengambil segenggam uang dirham itu, lalu memanggil Abu Bakr, memberikannya kepadanya, dan bersabda:
«يَا أَبَا بَكْرٍ، اشْتَرِ بِهَذِهِ الدَّرَاهِمِ لِابْنَتِي مَا يَصْلُحُ لَهَا فِي بَيْتِهَا»
“Wahai Abu Bakr, belikanlah untuk putriku dengan dirham-dirham ini apa yang layak baginya di rumahnya.”[6]
Anas rodhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi ﷺ bersabda kepadaku:
«انْطَلِقْ فَادْعُ لِي: أَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيًّا، وَطَلْحَةَ، وَالزُّبَيْرَ، وَبِعَدَدِهِمْ مِنَ الْأَنْصَارِ»
“Pergilah, panggilkan untukku: Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, Tholhah, Zubair, dan sejumlah mereka dari kaum Anshor.”
Anas berkata: Aku pergi lalu memanggil mereka untuk beliau. Ketika mereka telah duduk di tempat masing-masing, beliau bersabda:
«إِنِّي أُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ زَوَّجْتُ (فَاطِمَةَ) مِنْ (عَلِيٍّ) عَلَى أَرْبَعِمِائَةِ مِثْقَالٍ مِنْ فِضَّةٍ»
“Sesungguhnya aku jadikan kalian semua saksi bahwa aku telah menikahkan (Fatimah) dengan (Ali) dengan maskawin 400 mitsqol perak.”[7]
2) Ali rodhiyallahu ‘anhu menikahkan putrinya (Ummu Kultsum binti Fatimah) dengan Umar bin al-Khoththob rodhiyallahu ‘anhu—semoga Alloh meridhoi mereka semua.[8]
Ali rodhiyallahu ‘anhu memberi nama anak-anaknya dengan nama-nama saudara dan kekasihnya karena Alloh Ta’ala: Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar bin al-Khoththob, dan Utsman bin ‘Affan. [9]
3) Dan Ali memuji mereka semua.
Ali rodhiyallahu ‘anhu bersabda:
«لَقَدْ رَأَيْتُ أَصْحَابَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا أَرَى أَحَدًا مِنْكُمْ يُشْبِهُهُمْ، لَقَدْ كَانُوا يُصْبِحُونَ شُعْثًا غُبْرًا وَقَدْ بَاتُوا سُجَّدًا وَقِيَامًا يُرَاوِحُونَ جِبَاهَهُمْ وَجُنُوبَهُمْ وَيَقِفُونَ عَلَى مِثْلِ الْجَمْرِ مِنْ ذِكْرِ مَعَادِهِمْ كَأَنَّ بَيْنَ أَعْيُنِهِمْ رُكَبَ الْمِعْزَى مِنْ طُولِ سُجُودِهِمْ، إِذَا ذَكَرُوا اللهَ هَمَلَتْ أَعْيُنُهُمْ وَمَادُوا كَمَا يَمِيدُ الشَّجَرُ يَوْمَ الرِّيحِ الْعَاصِفِ»
“Sungguh aku pernah melihat para Shohabat Rosululloh ﷺ, maka aku tidak melihat seorang pun di antara kalian yang menyerupai mereka. Benar-benar mereka di pagi hari kusut dan berdebu, padahal semalam suntuk mereka sujud dan berdiri (sholat), mengistirahatkan dahi dan lambung mereka. Mereka berdiri seperti di atas bara api karena mengingat hari kembali (Akhirat). Seolah-olah di antara kening mereka terdapat bekas seperti lutut kambing karena lama bersujud. Apabila mereka mengingat Alloh, mata mereka mencucurkan air mata dan tubuh mereka bergoyang seperti goyangan pohon di hari angin kencang.”[10]
Ali memiliki anak: Abu Bakr, Umar, dan Utsman. Abu Bakr dan Utsman gugur bersama Husain di Karbala (ath-Thoff), sedangkan Umar termasuk yang berumur panjang.[11]
Seperti yang aku sebutkan di awal kitab, aku tadinya ragu-ragu (melangkahkan kaki satu maju dan satu mundur), hingga aku memandang bahwa ada kemaslahatan untuk menulis tentang topik ini dengan apa yang dimudahkan oleh Alloh Ta’ala bagiku, setelah berkonsultasi dengan orang-orang yang kupercaya dari kalangan ulama. Maka jika yang benar itu dari Alloh Ta’ala, dan jika selain itu maka dari diriku sendiri dan setan.
Dalam penelitian ini, aku akan membahas periode waktu yang tergolong paling penting dalam sejarah panjang kita, yaitu periode antara wafatnya Rosululloh ﷺ hingga tahun 61 Hijriyyah yang diberkahi.
Aku membagi kitab ini menjadi muqoddimah dan tiga bab.
Adapun muqoddimah: Aku sebutkan di dalamnya tiga hal penting:
[1] Cara membaca sejarah.
[2] Kitab sejarah siapa yang boleh kita?
[3] Sarana para tukang berita (akhbariyyun) dalam mendistorsi sejarah.[12]
Adapun bab pertama: Aku paparkan di dalamnya peristiwa-peristiwa sejarah dari wafatnya Nabi ﷺ hingga tahun 61 Hijriyyah. Aku sebutkan peristiwa-peristiwa penting dalam periode penting ini dengan sanad-sanad yang shohih semampuku, disertai peringatan terhadap beberapa cerita palsu dan kebatilan.
Adapun bab kedua: Aku bahas di dalamnya topik ‘adalah (kejujuran dan kesholihan) para Shohabat, dengan berdalil kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, serta menyebutkan syubhat-syubhat terpenting yang dihembuskan seputar mereka dan menjelaskan kebenaran tentangnya.
Adapun bab ketiga: Aku bahas di dalamnya “masalah kekholifahan”. Aku sebutkan dalil-dalil Syiah secara terperinci tentang lebih berhaknya Ali bin Abi Tholib atas Abu Bakr, Umar, dan Utsman dalam kekholifahan, lalu aku bahas secara ilmiah dan teliti—yang mungkin tidak engkau temukan selain dalam kitab ini. Aku mengucapkan ini bukan karena bangga diri, tetapi karena firman Alloh:
﴿وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ﴾
“Dan terhadap nikmat Robbmu, hendaklah engkau ceritakan.” (QS. Ad-Dhuha: 11)
Ini semua, dan aku memohon kepada Alloh Yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa agar menjadikan karya ini ikhlas karena wajah-Nya yang mulia. Sungguh, Dia Maha Menguasai hal itu dan Maha Kuasa atasnya.
Dan akhir doa kami: segala puji bagi Alloh, Robb seluruh alam.