Deskripsi
Sungguh Iman merupakan hal paling utama yang wajib diperhatikan oleh seorang hamba dalam kehidupan ini. Iman adalah sebaik-baik hal yang diusahakan oleh jiwa, dicapai oleh hati, dan menjadi sarana bagi hamba untuk memperoleh derajat yang tinggi di dunia maupun di Akhiroh. Bahkan, seluruh kebaikan di dunia dan Akhiroh sangat bergantung pada Iman yang shohih.
Oleh karena itu, hendaknya setiap hamba Mu’min yang menginginkan kebaikan bagi dirinya selalu memeriksa keadaannya bersama Iman; apakah Imannya berada dalam pertumbuhan, kekuatan, dan peningkatan, ataukah sebaliknya justru mengalami kelemahan, kerapuhan, dan pengurangan?
Bahkan betapa butuhnya seorang hamba untuk memperbarui Imannya, berusaha menyempurnakannya, mewaspadai hal-hal yang mengurangi dan melemahkannya, serta berupaya keras untuk menguatkannya. Sebab, Iman senantiasa diterpa oleh berbagai hal yang dapat mengikisnya, seperti fitnah dunia, bisikan syaithon, teman yang buruk, pergaulan yang rusak, serta hawa nafsu yang selalu menyuruh kepada kejelekan, dan hal-hal lainnya yang berdampak pada melemah dan berkurangnya Iman. Maka dari itu, diperlukan usaha yang sungguh-sungguh untuk menguatkan dan memperbaruinya.
Al-Hakim (305 H) meriwayatkan dalam Al-Mustadrok dan Ath-Thobroni (360 H) dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, dari Abdulloh bin ‘Amr bin Al-‘Ash rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ الإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوا اللَّهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ»
“Sungguh Iman benar-benar bisa lusuh di dalam dada salah seorang di antara kalian sebagaimana lusuhnya pakaian. Maka memohonlah kalian kepada Alloh agar Dia memperbarui Iman di dalam hati kalian.”[1]
Nabi ﷺ menggambarkan Iman bahwa ia bisa lusuh sebagaimana pakaian menjadi lusuh; artinya Iman dapat melapuk, melemah, dan mengalami pengurangan akibat kemaksiatan dan dosa-dosa yang dilakukan seseorang, serta akibat berbagai kelalaian dan pengalih perhatian di dunia ini yang memalingkan manusia dari Iman. Begitu pula fitnah-fitnah besar yang dapat menghilangkan kesegaran, vitalitas, dan kekuatan Iman, serta memudarkan keindahan dan pesonanya. Di sinilah Nabi ﷺ memberi petunjuk tentang pentingnya memperbarui Iman di dalam hati dengan cara menghadapkan diri secara jujur dan ikhlas kepada Alloh, seraya bersabda: “Maka memohonlah kalian kepada Alloh agar Dia memperbarui Iman di dalam hati kalian.”
Kondisi ini menuntut penyerahan diri secara jujur kepada Alloh dan permohonan yang mendesak agar Alloh menambah serta menguatkan Iman, memperbaruinya di dalam hati, dan meneguhkannya. Alloh berfirman:
﴿يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ﴾
“Alloh meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di Akhiroh.” (QS. Ibrohim: 27)
Maka harus ada perjuangan melawan hawa nafsu (jihadun nafs), mengintrospeksi diri, mengikatnya di atas kebenaran, dan memaksanya secara penuh untuk tunduk padanya. Alloh berfirman:
﴿وَالَّذِينَ جَهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ﴾
“Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari ridho Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh Alloh benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)
Di samping itu, wajib pula mewaspadai fitnah dengan sangat hati-hati, terutama di zaman sekarang ini di mana fitnah-fitnah yang melemahkan Iman telah bermunculan dengan sangat banyak; bahkan banyak di antaranya yang menerjang pondasi agama dan meruntuhkannya dari akar-akarnya.
Iman adalah sesuatu yang paling berharga dalam keberadaan ini dan simpanan paling mahal di dunia. Siapa kehilangan Iman, maka ia telah kehilangan kehidupan yang hakiki. Sebab, tidak ada kehidupan nyata bagi manusia tanpa adanya Iman. Adapun sekadar melangkah dengan kaki, memegang dengan tangan, dan berbicara dengan lidah tanpa disertai Iman kepada Alloh, maka itu hanyalah kehidupan hewani, karena manusia dan hewan sama-sama memilikinya. Ada pun kehidupan yang hakiki adalah kehidupan dalam ketaatan kepada Ar-Rohman (Alloh) serta meneladani Rosul ﷺ. Oleh sebab itu, Alloh berfirman:
﴿يَٰأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Alloh dan seruan Rosul apabila Rosul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu.” (QS. Al-Anfal: 24)
Sungguh para Salaf rohimahumulloh, baik dari kalangan Shohabat maupun orang-orang setelah mereka, sangat memperhatikan Iman mereka dan memberikan kepedulian yang amat besar terhadapnya. Riwayat-riwayat yang dinukil dari mereka tentang menginspeksi Iman serta berusaha menguatkan dan memperbaruinya sangatlah banyak.
Kholifah yang lurus, ‘Umar bin Al-Khottob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada para sahabatnya:
«هَلُمُّوا نَزْدَدْ إِيمَانًا»
“Kemarilah, marilah kita menambah Iman kita.” (HR. Al-Lalakai no. 1700)
Dalam lafazh lain disebutkan:
«قُمْ بِنَا نَزْدَادُ إِيمَانًا»
“Bangkitlah bersama kami, mari kita menambah Iman.” (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 31003)
Maksud beliau adalah mari kita duduk bersama untuk mengingat Alloh Tabaroka wa Ta’ala, mengingat Jannah, mengingat Naar, mengingat ancaman dan janji Alloh, serta mengingat rasa harap dan takut kepada-Nya, sehingga kita mengingat seluruh hal tersebut agar Iman kita semakin bertambah dan kuat.
‘Abdulloh bin Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu juga pernah berkata:
«اجْلِسُوا بِنَا نَزْدَدْ إِيمَانًا»
“Duduklah bersama kami, mari kita menambah Iman.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 44)
Beliau juga sering membaca doa:
«اللَّهُمَّ زِدْنِي إِيمَانًا وَيَقِينًا وَفِقْهًا»
“Ya Alloh, tambahkanlah kepadaku Iman, keyakinan, dan pemahaman agama.”[2]
Mu’adz bin Jabal (18 H) rodhiyallahu ‘anhu pun pernah berkata:
«اجْلِسُوا بِنَا نُؤْمِنْ سَاعَةً»
“Duduklah bersama kami, mari kita menambah Iman walau sesaat.”[3]
‘Abdulloh bin Rowahah (18 H) rodhiyallahu ‘anhu biasa memegang tangan beberapa sahabatnya seraya berkata:
«تَعَالَوْا نُؤْمِنْ سَاعَةً، تَعَالَوْا فَلْنَذْكُرِ اللَّهَ فَنَزْدَدْ إِيمَانًا بِطَاعَتِهِ؛ لَعَلَّهُ يَذْكُرُنَا بِمَغْفِرَتِهِ»
“Kemarilah, mari kita menambah Iman walau sesaat. Kemarilah, mari kita mengingat Alloh agar Iman kita bertambah dengan ketaatan kepada-Nya, semoga Dia mengingat kita dengan ampunan-Nya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 116)
Abu Ad-Darda’ (32 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata:
«مِنْ فِقْهِ الْعَبْدِ أَنْ يَعْلَمَ أَمُزْدَادٌ هُوَ أَمْ مُنْتَقَصٌ، وَمِنْ فِقْهِ الْعَبْدِ أَنْ يَعْلَمَ نَزَغَاتِ الشَّيْطَانِ أَنَّى تَأْتِيهِ»
“Di antara kecerdasan pemahaman seorang hamba adalah ia mengetahui apakah Imannya sedang bertambah atau berkurang, dan di antara kecerdasan pemahaman seorang hamba adalah ia mengetahui dari mana bisikan syaithon memperdayanya.” (HR. Ibnu Botthoh dalam Al-Ibanah no. 1140)
Maksud beliau adalah termasuk pemahaman agama seorang hamba hendaklah ia memperhatikan urusan Imannya, apakah sedang bertambah atau berkurang. Banyak manusia yang Imannya berkurang namun ia tidak menyadarinya, dan hal itu merupakan bentuk lemahnya pemahaman serta penglihatan hati.
‘Umair bin Habib Al-Khothmi rodhiyallahu ‘anhu berkata:
«الإِيمَانُ يَزِيدُ وَيَنْقُصُ»
“Iman itu bertambah dan berkurang.”
Lalu ditanyakan kepada beliau: “Apa yang membuat Iman bertambah dan berkurang?” Beliau menjawab:
«إِذَا ذَكَرْنَا اللَّهَ وَحَمِدْنَاهُ وَسَبَّحْنَاهُ فَذَلِكَ زِيَادَتُهُ، وَإِذَا غَفَلْنَا وَضَيَّعْنَا وَنَسِينَا فَذَلِكَ نُقْصَانُهُ»
“Apabila kita mengingat Alloh, memuji-Nya, dan bertasbih kepada-Nya, maka itulah bertambahnya Iman. Namun apabila kita lalai, menyia-nyiakan kewajiban, dan lupa, maka itulah berkurangnya Iman.” (HR. Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thobaqot 4/217, shohih)
‘Alqomah bin Qois An-Nakho’i (62 H) rohimahulloh, salah seorang tokoh Tabi’in senior yang mulia, pernah berkata kepada sahabat-sahabatnya:
«امْشُوا بِنَا نَزْدَدْ إِيمَانًا»
“Berjalanlah bersama kami, mari kita menambah Iman.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Iman no. 104)
‘Abdurrohman bin ‘Amr Al-Auza’i (157 H) rohimahulloh pernah ditanya tentang Iman: “Apakah Iman itu bertambah?” Beliau menjawab:
«نَعَمْ، حَتَّى يَكُونَ كَالْجِبَالِ»
“Ya, hingga seperti gunung-gunung.”
Ditanyakan lagi: “Apakah Iman juga berkurang?” Beliau menjawab:
«نَعَمْ، حَتَّى لا يَبْقَى مِنْهُ شَيْءٌ»
“Ya, hingga tidak tersisa sedikit pun darinya.” (HR. Al-Lalakai dalam Al-I’tiqod no. 1740)
Imam Ahmad (241 H) rohimahulloh ditanya tentang Iman, apakah bertambah dan berkurang? Beliau menjawab:
«يَزِيدُ حَتَّى يَبْلُغَ أَعْلَى السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ، وَيَنْقُصُ حَتَّى يَصِيرَ إِلَى أَسْفَلِ السَّافِلِينَ السَّبْعِ»
“Iman bertambah hingga mencapai tingkatan langit tujuh yang tertinggi, dan berkurang hingga berada di tingkat terendah dari tujuh lapis bumi.” (HR. Ibnu Abi Ya’la dalam Thobaqot Al-Hanabilah 1/259)
Riwayat-riwayat dan penukilan dari para Shohabat, Tabi’in, dan para Imam dalam makna ini sangatlah banyak. Siapa mencermati perjalanan hidup para Shohabat, Tabi’in, dan para Imam yang mulia ini, ia akan menyadari bagaimana mereka senantiasa memeriksa keadaan Iman mereka, berusaha menambah dan menguatkannya, serta menjauhi hal-hal yang melemahkan dan menguranginya. Demikian pulalah keadaan setiap orang yang mengikuti mereka dengan baik.